Trump Buka Jalur Damai dengan Iran, Pengamat: Sinyal AS Mulai Ragu Menang

avatar Imam Hambali
  • URL berhasil dicopy
Tengku Taufiqulhadi, Jurnalis Senior, Pengamat Timur Tengah, Alumnus Unversitas Jember
Tengku Taufiqulhadi, Jurnalis Senior, Pengamat Timur Tengah, Alumnus Unversitas Jember

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Langkah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk membuka jalur perundingan damai dengan Iran dinilai sebagai sinyal bahwa Washington mulai meragukan peluang kemenangan dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Pengamat Timur Tengah, T. Taufiqulhadi yang merupakan pria asli Kabupaten Pidie Provinsi Aceh itu menilai upaya tersebut tidak terlepas dari perkembangan situasi di lapangan yang menunjukkan ketahanan Iran dalam menghadapi serangan militer.

“Keinginan tak terduga Washington untuk melakukan dialog damai guna mengakhiri perang antara AS-Israel dan Iran menunjukkan bahwa Presiden Donald Trump mulai menyadari, PM Israel Benjamin Netanyahu telah menipunya selama ini,” ujar Taufiqulhadi, kepada Redaksi JatimUpdate.id pada Rabu (25/3/2026).

Taufiqulhadi yang merupakan jurnalis senior itu menyatakan sejak awal konflik, perang dipresentasikan kepada publik Israel sebagai langkah strategis yang berpotensi menggulingkan pemerintahan Iran sekaligus mengakhiri ancaman dari negara tersebut.

Secara khusus penulis buku Satu Kota Tiga Tuhan itu menyatakan bahwa realitas di lapangan justru menunjukkan kondisi berbeda. Setelah serangkaian serangan besar yang dilancarkan oleh AS dan Israel, Iran dinilai tetap bertahan dan bahkan mampu membalas serangan terhadap target Israel maupun kepentingan AS di kawasan Timur Tengah.

Taufiqulhadi menambahkan, Iran masih memiliki kapasitas untuk meningkatkan eskalasi konflik, termasuk menyerang target strategis di negara-negara sekutu Amerika Serikat.

“Jika benar AS dan Israel, seperti yang telah disampaikan Trump, akan menyerang pembangkit listrik utama Iran, maka Iran akan membalas dengan menyerang kilang minyak serta fasilitas air bersih negara-negara Teluk dan sumber air bersih Israel,” jelas Taufiqulhadi, yang alumni Hubungan Internasional Fisipol Universitas Jember itu.

Ia menilai, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong Trump mulai mempertimbangkan jalur diplomasi melalui pihak ketiga guna mengakhiri konflik yang berkepanjangan.

“Itulah alasan utama Trump mengutus pihak ketiga untuk menjembatani rencana pembicaraan guna mengakhiri perang ilegal ini,” kata dia.

Lebih lanjut, Taufiqulhadi meyakini bahwa gagasan perundingan damai tersebut belum sepenuhnya dikonsultasikan dengan pemerintah Israel. Bahkan, menurutnya, para pengambil keputusan di Tel Aviv berpotensi terkejut dengan langkah Washington.

“Para pengambil keputusan Israel seperti Netanyahu pasti kebingungan. Tapi jika memang sungguh-sungguh untuk mengakhiri perang, Trump kemungkinan akan menekan Netanyahu untuk menerimanya,” ungkapnya.

Mantan aktivis mahasiswa di Kampus Tegalboto Jember pada era 1980-an itu juga menilai Iran berpeluang menerima tawaran dialog tersebut, dengan catatan poin-poin perundingan mengarah pada pengakuan atas posisi kuat Teheran dalam konflik yang tengah berlangsung.(ih/yh)