Oleh : Widodo, Ph. D.,
Pengamat Keruwetan Sosial
Surabaya, JatimUPdate.id - BUAT yang pernah hidup di era 80–90-an hingga awal 2000-an, pasti masih ingat betapa segala kegiatan kita dulu menyatu dengan satu benda kotak bersuara: radio.
Mau sarapan, belajar PR yang tak pernah selesai, sampai tidur siang yang niatnya cuma 10 menit tapi jadi 2 jam semuanya ditemani suara penyiar yang seolah tinggal satu kamar dengan kita.
Sebelum frekuensi FM menjulang sebagai “bintang pop”, radio Indonesia bertumpu pada AM.
Jauh sebelum itu, generasi orang tua kita sudah akrab dengan gelombang pendek (SW) saluran yang jika dini hari diputar, bisa tiba-tiba menangkap suara BBC, Radio Nederland, Voice of America, atau Radio Australia berbahasa Indonesia.
Kadang jernih, kadang kemresek, kadang malah terdengar seperti ada jin ikut siaran tapi justru di situlah romantikanya.
Masuk 1970-an, radio swasta bermunculan dan kultur siaran mulai hidup. Tahun 1980-an hadir sandiwara radio Netflix-nya zaman dulu yang bikin satu kampung kompak diam jam tertentu.
Lalu tiba era FM, dimulai dari pelopor pertamanya: Suara Irama Indah, Jakarta. Di sinilah radio mulai “dewasa”, bersuara jernih, elegan, dan menjadi arena persaingan konten yang lebih serius.
Lambat laun, radio pun terbagi ke dalam segmen pasar. Semacam “kasta suara” yang membuat pendengar memilih identitas berdasarkan frekuensi:
Radio lagu campuran: Indonesia + Barat
Dangdut: CBB “Bandar Dangdut”
Jazz: KLCBS Bandung
Klasik: C n J Jakarta
Program berita: Suara Surabaya, El Shinta
Bisnis: PAS FM
Info jalan/tol: Sonora
Radio anak muda: Prambors, pionir gaya hidup gaul
Dan banyak lagi yang membentuk keseharian masyarakat urban hingga pinggiran.
Segmen ini dulu adalah resep sukses, karena tiap radio tahu persis siapa pendengarnya. Ada yang cocok untuk bapak-bapak yang pulang kerja lepas dasi sambil nyeruput teh, ada yang cocok untuk remaja yang lagi penat naksir teman sebangku tapi gengsi bilang.
Namun kini di era disrupsi media, saat podcast, YouTube, dan TikTok meraja muncul pertanyaan tajam:
Apakah segmentasi radio masih tren bisnis yang relevan?
Jawabannya rumit, tapi sederhana:
segmen masih penting, tapi tidak lagi cukup.
Era digital membuat semua orang bisa menjadi stasiun radio berjalan. Satu ponsel bisa memuat berjuta genre, berjuta suara. Algoritma-lah yang kini menjadi “penyiar” utama.
Radio tetap hidup Suara Surabaya, El Shinta, Prambors, Gen FM, dan lainnya masih punya taring tapi harus bertransformasi dari sekadar memutarkan lagu atau berita, menjadi komunitas, interaksi, dan kedekatan yang tidak bisa ditiru platform digital lain.
Seperti pepatah satir baru:
“Sekali siaran tetap diingatan asal bukan mantan.”
Radio masih punya ruang di hati pendengar. Tapi untuk bertahan, mereka harus menyadari satu hal:
*Dulu orang mencari radio. Sekarang radio yang harus mencari pendengar.*
catatan tangan kanan
wiedmust-201125. (roy/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat