Oleh: Ponirin Mika
Baca juga: MWCNU Simokerto Buka Posko Konsumsi Gratis Sambut Napak Tilas Satu Abad NU
Pecinta NU, Jurnalis JatimUPdate.id
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id - Di sudut kecil kampung, setiap kali azan berkumandang, saya selalu teringat satu hal: betapa Nahdlatul Ulama telah menjadi bagian dari denyut hidup orang-orang kecil seperti saya. NU bukan sekadar organisasi; ia adalah rumah tempat jutaan jamaah bernaung, belajar sabar, belajar tawaduk, dan menemukan arah saat hidup terasa bising.
Karena itu, ketika kabar tentang riak konflik internal PBNU merebak, hati ini terasa nyeri. Bukan marah—lebih kepada sedih melihat “rumah besar” yang saya cintai seperti sedang diguncang angin dari segala arah.
Baca juga: Gus Yahya Ungkap Rasa Syukur Usai Bersilaturahmi dengan Rais Aam di Surabaya
Sebagai orang yang mencintai NU secara kultural, saya percaya seyakin-yakinnya bahwa ruh NU adalah musyawarah, kelembutan, dan kebijaksanaan. Bukan perebutan sorotan, bukan adu suara keras, melainkan adu kehalusan hati.
Saya tidak tahu apa motif di balik kegaduhan ini. Mungkin hanya orang-orang di dalam lingkaran itu yang memahami.
Yang tampak di permukaan-bagi mata awam seperti saya-hanyalah semacam lipstik: warna yang mencolok, tetapi bukan wajah sebenarnya.
Namun jauh di balik itu, ada jutaan jamaah yang tetap bangun sebelum subuh, tetap mengaji di serambi musholla, tetap menanak nasi untuk para santri, tetap berdoa agar para pemimpinnya kembali mengingat bahwa NU berdiri bukan untuk kepentingan siapa pun, melainkan untuk kemaslahatan umat.
Baca juga: Konflik PBNU Menuju Akhir, Muktamar NU ke-35 (Bersama) Diserahkan ke Rais Aam dan Ketua Umum
Saya menulis ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Saya hanya seorang pecinta NU yang takut melihat rumahnya retak.
Saya percaya NU terlalu besar untuk dikalahkan oleh ego siapa pun; ia tumbuh dari keringat para kiai kampung, dari tangan-tangan yang mengangkat doa, bukan dari kursi jabatan.
Semoga para pemimpin kembali duduk bersama. Semoga hati-hati mereka dilapangkan. Dan semoga NU tetap menjadi rumah teduh yang kami banggakan-hari ini, esok, dan selamanya. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat