Merawat Tradisi, Menggerakkan Transformasi: NU sebagai Gerakan Pendidikan, Dakwah, dan Peradaban Humanis
Pamekasan, JatimUPdate.id - Prosesi pelantikan PCNU Pamekasan pada 16 Mei 2026 di PP Matsaratul Huda Panempan dengan tema “Bersama dalam Khidmah, Berdaya dalam Ekonomi”, refleksi mengenai NU menjadi semakin relevan untuk ditempatkan bukan hanya sebagai identitas organisasi keagamaan, tetapi sebagai paradigma sosial yang terus bergerak di antara tradisi dan transformasi.
“NU pada hakikatnya bukan sekadar simbol kultural atau ekspresi ritual keagamaan, melainkan cara berpikir, cara merawat masyarakat, dan cara membangun peradaban yang berakar pada nilai-nilai Islam moderat, humanis, dan berbasis kemaslahatan sosial,” ujar Wakil Katib PCNU Pamekasan Achmad Muhlis, Sabtu pagi (16/5/2026).
Dijelaskan, dalam konteks masyarakat modern yang sedang mengalami perubahan cepat akibat transformasi digital, globalisasi budaya, dan perubahan pola relasi sosial, NU menghadapi tantangan besar, yakni bagaimana menjaga ruh tradisi tanpa tertinggal oleh perkembangan zaman.
Menurut Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam itu, NU lahir dari kesadaran bahwa agama tidak boleh dipisahkan dari realitas sosial masyarakat.
Dakwah bukan hanya aktivitas verbal menyampaikan ajaran agama, tetapi proses membangun kehidupan yang lebih manusiawi. Pendidikan juga bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, tetapi pembentukan karakter, adab, dan kesadaran sosial.
“Karena itu, sejak awal, NU tumbuh bukan di ruang elit yang eksklusif, tetapi di tengah masyarakat akar rumput melalui pesantren, majelis taklim, mushalla kampung, dan ruang-ruang sosial masyarakat tradisional,” terang Ketua Senat UIN Madura itu.
Dalam pandangan Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan itu, kekuatan utama NU terletak pada kemampuannya membangun solidaritas sosial berbasis budaya dan spiritualitas.
Tradisi tahlilan, maulid, istighasah, khatmil Qur’an, hingga gotong royong sosial bukan hanya ritual keagamaan, tetapi mekanisme sosial untuk menjaga kohesi masyarakat.
“Emile Durkheim menyebut agama sebagai sumber solidaritas kolektif yang membangun kesadaran bersama. Dalam konteks NU, tradisi keagamaan menjadi perekat sosial yang menjaga masyarakat dari fragmentasi budaya dan individualisme modern,” ujarnya.
Namun, tambah Achmad Muhlis, masyarakat hari ini menghadapi perubahan yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Transformasi digital telah mengubah cara manusia belajar, berkomunikasi, bekerja, bahkan memahami agama.
Otoritas keilmuan tidak lagi hanya berada di ruang pesantren atau lembaga formal, tetapi bersaing dengan media sosial yang bergerak cepat, instan, dan sering kali dangkal.
Dalam situasi ini, tambahnya, NU tidak cukup hanya mempertahankan romantisme tradisi, tetapi harus mampu mentransformasikan nilai-nilai tradisional menjadi energi peradaban yang relevan dengan dunia digital.
“Transformasi digital dalam perspektif NU tidak boleh dipahami sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah ruang digital yang sering kehilangan etika. Media sosial hari ini sering dipenuhi ujaran kebencian, polarisasi identitas, budaya saling menghina, dan narasi keagamaan yang keras. Karena itu, NU memiliki tanggung jawab moral menghadirkan dakwah yang menyejukkan, moderat, dan berbasis kasih saying,” urainya.
Diterangkan, masyarakat digital saat ini sedang mengalami krisis emosional yang cukup serius.
Manusia semakin mudah terkoneksi secara virtual, tetapi semakin kesulitan membangun kedekatan emosional yang nyata.
Banyak individu mengalami kecemasan sosial, kesepian, bahkan kehilangan makna hidup akibat budaya kompetisi dan pencitraan di media digital.
Dalam situasi seperti ini, pendidikan dan dakwah berbasis kurikulum cinta menjadi sangat penting.
Kurikulum cinta bukan sekadar pendekatan pembelajaran yang lembut, tetapi paradigma pendidikan yang memanusiakan manusia, ia menempatkan kasih sayang, penghormatan terhadap martabat individu, dan empati sosial sebagai inti dari proses pendidikan.
Dalam tradisi pesantren dan NU, pendidikan sejatinya selalu dibangun di atas relasi cinta antara guru dan murid. Santri tidak hanya belajar ilmu, tetapi belajar adab, kesabaran, keteladanan, dan keberkahan hubungan sosial.
Menurutnya, manusia berkembang secara optimal ketika berada dalam lingkungan yang penuh penerimaan dan penghargaan.
Peserta didik yang merasa dicintai akan lebih mudah membangun rasa percaya diri, stabilitas emosi, dan motivasi belajar.
Sebaliknya, pendidikan yang hanya menekankan hukuman, kompetisi berlebihan, dan tekanan akademik sering kali melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual tetapi rapuh secara mental.
“Kurikulum cinta dalam konteks NU juga memiliki dimensi dakwah yang sangat kuat. Dakwah tidak dilakukan dengan kekerasan simbolik atau pemaksaan, tetapi melalui keteladanan, dialog, dan penghormatan terhadap realitas sosial masyarakat. Dalam sejarahnya, Islam di Nusantara berkembang bukan melalui dominasi politik, tetapi melalui pendekatan budaya yang santun dan adaptif. Para ulama NU memahami bahwa hati manusia tidak dapat disentuh dengan kebencian, tetapi dengan kasih sayang dan keteladanan moral,” ujarnya.
Di sinilah kepemimpinan profetik menjadi sangat penting dalam membangun masa depan gerakan NU.
Kepemimpinan profetik bukan kepemimpinan yang mengejar popularitas atau kekuasaan semata, tetapi kepemimpinan yang menjadikan nilai-nilai kenabian sebagai fondasi moralnya. Sifat shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah, menjadi orientasi utama dalam membangun organisasi, pendidikan, dan gerakan sosial.
Masyarakat modern saat ini sedang mengalami krisis keteladanan.
Banyak pemimpin hadir dengan kemampuan retorika yang baik, tetapi miskin integritas dan empati sosial.
Karena itu, kepemimpinan profetik menjadi alternatif penting untuk mengembalikan makna kepemimpinan sebagai pelayanan, pengabdian, dan tanggung jawab moral.
“Tema Bersama dalam Khidmah, Berdaya dalam Ekonomi, juga menunjukkan kesadaran bahwa dakwah dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pemberdayaan ekonomi umat. Dalam realitas sosial, kemiskinan sering menjadi akar dari keterbelakangan pendidikan, ketergantungan sosial, bahkan kerentanan ideologis. Karena itu, penguatan ekonomi berbasis komunitas menjadi bagian penting dari gerakan sosial NU,” kata Achmad Muhlis.
Menurutnya, ekonomi bukan hanya persoalan produksi dan konsumsi, tetapi juga persoalan martabat sosial.
Masyarakat yang mandiri secara ekonomi memiliki kemampuan lebih besar menjaga identitas budaya dan nilai-nilai keagamaannya.
Oleh sebab itu, transformasi digital juga harus diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi umat melalui pengembangan kewirausahaan digital, ekonomi kreatif pesantren, dan penguatan jaringan ekonomi berbasis komunitas.
“Pendidikan dan dakwah bukanlah dua wilayah yang terpisah, tetapi dua denyut kehidupan yang saling menghidupkan. Pendidikan tanpa dakwah akan kehilangan orientasi spiritual dan sosialnya, sementara dakwah tanpa pendidikan akan kehilangan kedalaman intelektual dan kebijaksanaannya. Dalam dunia yang bergerak cepat akibat transformasi teknologi dan perubahan budaya, NU memiliki tanggung jawab besar untuk tetap menjadi penjaga nilai moderasi, kemanusiaan, dan spiritualitas, sekaligus menjadi motor transformasi sosial yang adaptif dan visioner,” tukasnya. (rilis/febri/red)
Editor : Redaksi