Jember, JatimUpdate.id – Program prioritas pemerintah untuk penanggulangan stunting, melalui pemenuhan gizi, mendapat catatan kritis dari kalangan akademisi.
Andi Suprapto, pakar komunikasi, menegaskan bahwa kesuksesan program, sehebat apa pun, bergantung pada strategi penyampaian yang tepat kepada masyarakat.
Baca juga: KM Genius Pengangkut Bahan MBG Tenggelam, SPPG Pagerungan Kecil Minta Kebijakan BGN
Pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pemetaan dan Pemutakhiran Data Sasaran MBG 3B (Bumil, Busui, Balita Non-PAUD) di Hotel Luminor, Jember, Kamis (11/12/2024).
Bahasa Langit vs Bahasa Bumi
Andi menjelaskan makna dari bahasa bumi itu adalah, itilah medis dan akademik yang bisa membingungkan masyarakat.
"Gunakan bahasa yang familier, hindari yang muluk-muluk. Petugas lapangan harus punya product knowledge kuat dan penerjemahan istilah yang seragam," tegas Andi.
Sinergi untuk Tekan Stunting
Baca juga: Sudaryono Akui Tata Kelola BGN Bermasalah, Janji Benahi Total Program Makan Bergizi Gratis
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pengendalian Kependudukan DP3AKB Jember, Ari Indra Purnama Suseno, memaparkan struktur program dari Badan Gizi Nasional (BGN) hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di tingkat lapangan.
"Dari 91 SPPG yang terdata, sekitar 60 telah beroperasi. Rakor yang menghadirkan seluruh Kepala SPPG, Koordinator, hingga Penyuluh KB ini diharapkan bisa memperkuat sinergi dan komunikasi," ujar Ari.
Program ini berfokus pada tiga sasaran utama, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.
Baca juga: Presiden Prabowo Lantik Sudaryono Jadi Kepala BGN Gantikan Naniek S. Dayang Yang Mengundurkan diri
Ari berharap, dengan komunikasi yang baik, program ini dapat berkontribusi menurunkan angka stunting dan KEK (Kurang Energi Kronis) pada ibu hamil di Jember, yang saat ini masih tinggi berdasarkan survei SSGI (Survei Status Gizi Indonesia).
"Pada akhirnya, komunikasi efektif inilah jalan utamanya," tutup Ari. (MR/Sund)
Editor : Miftahul Rachman