Oleh : Dr. Agus Andi Subroto
Dekan FHB ITB Yadika Pasuruan
Ketua DPD AFEBSI Jatim
Baca juga: Proyek KRL Surabaya Raya Dimulai 2027, Anggaran Capai Rp5,4 Triliun
Gerbong 5
kereta Surabaya-Pasuruan, 15 Desember 2025
Surabaya-Pasuruan, JatimUPdate.id - Malam ini rapat pimpinan kampus menyoal urusan mutu dan pembuatan renstra fakultas dan prodi berakhir dengan tenang.
Esok pagi, kegiatan kembali berlanjut—workshop instrumen akreditasi.
Tahun depan, Prodi Akuntansi akan memasuki fase pentingnya.
Hari-hari ini adalah bagian dari ikhtiar itu.
Siang tadi, saya menyentuh kembali laporan akhir hibah BIMA penelitian 2025.
Dikerjakan pelan, dengan niat yang dijaga.
Setiap paragraf bukan sekadar kewajiban administratif,
melainkan jejak kesungguhan dalam merawat kerja akademik.
Tak lama berselang, Ketua LPPM membagikan informasi sosialisasi hibah BIMA 2026.
Satu kabar kecil yang mengingatkan bahwa ruang belajar selalu terbuka.
Bahwa kesempatan untuk bertumbuh tak pernah benar-benar berhenti.
Hari ini terasa penuh makna.
Diisi dengan peran sebagai pendidik sekaligus pejabat struktural.
Baca juga: Angkutan KA Punya Peran Strategis
Peran yang pantas disyukuri, dijalani dengan senang,
dan dirayakan dalam ruang gembira—termasuk melalui guyon maton parikeno bersama kolega,
agar kerja tetap hangat dan manusiawi.
Kini malam.
Saya duduk di samping pintu jendela.
Klakson kereta terdengar tegas, disusul laju gerbong yang melintas cepat.
Roda-roda besi beradu dengan rel, berirama, pasti,
seperti penanda bahwa perjalanan selalu menemukan jalannya sendiri.
Kereta ini membawa pulang diri ke Kota Pahlawan.
Di dalam gerbong, beraneka rupa manusia menjadi lukisan hidup tentang hari yang telah mereka jalani.
Ada yang larut dengan game di genggaman.
Ada yang bersandar di kursi pojok, mata terpejam dengan wajah terbuka polos,
tidur nyenyak seolah malam adalah hadiah paling sederhana.
Semua hadir apa adanya.
Tenang.
Jujur.
Manusiawi.
Di luar, lampu-lampu berkelip.
Kecil, tetapi setia menemani perjalanan.
Dan malam selalu menarik dengan pertunjukkannya—
ia tak pernah meminta perhatian,
namun selalu menyisakan rasa syukur.
Baca juga: Ribuan Kilometer Jalur Kereta Api Nonaktif, Pemerintah Siapkan Reaktivasi
Di antara rapat yang telah usai,
rel yang terus berlari,
dan kota yang menyambut pulang,
saya belajar satu hal sederhana:
Hari ini layak dimuliakan.
Terima kasih, Tuhan.
Urip iku Urup. Setiap kata adalah cahaya, semoga catatan kecil ini menjadi sedekah yang menyalakan kebaikan bersama. (fiq/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat