catatan tangan kanan, wiedmust-280426

Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur Salah Siapa ?

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh widodo, ph.d

pengamat keruwetan sosial
 

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Malam itu bukan sekadar gelap.
Ia berubah jadi sunyi yang terlalu cepat sunyi yang lahir dari benturan, jeritan, dan nama-nama yang tiba-tiba berhenti disebut.

Per pagi hari, kita mencatat 7 orang meninggal, puluhan luka-luka.
Angka yang mungkin akan terus bergerak. Tapi duka? Tidak.

Ia menetap di rumah-rumah yang kehilangan.

Dan lagi-lagi, rel kereta menjadi saksi bahwa negeri ini masih memelihara risiko, seolah tragedi adalah bagian dari rutinitas.

Kita pernah punya luka bernama Tragedi Bintaro 1987.
139 nyawa melayang. Ratusan luka.

Kita bersumpah “tidak akan terulang.”
Tapi Bekasi Timur menjawab: kita belum benar-benar belajar.

Ini Bukan Kecelakaan Tunggal. Ini Kegagalan Berlapis.

Mari jujur.

Ini bukan sekadar kereta menabrak kereta.
Ini adalah rantai kegagalan yang dibiarkan terbuka:

- Perlintasan sebidang masih bisa ditembus kendaraan.

- Kereta bisa berhenti di jalur aktif tanpa proteksi total.

- Kereta cepat tetap melaju di jalur yang belum steril

Tiga celah. Satu tragedi.

Dan yang paling menyakitkan: ini bukan hal baru.
Ini masalah lama yang dipelihara.

Regulator Kita: Hadir Saat Peresmian, Absen Saat Pencegahan

Setiap proyek rel baru diresmikan dengan pita dan kamera.

Setiap upgrade diumumkan dengan optimisme.

Tapi pertanyaannya sederhana:
di mana ketegasan saat bicara keselamatan dasar?

Perlintasan sebidang itu bukan inovasi. Itu kompromi.
Kompromi antara keselamatan dan biaya.

Selama perlintasan masih dibiarkan hidup berdampingan dengan lalu lintas umum,
maka kita sedang menaruh taruhan:
antara jadwal kereta dan nyawa manusia.

Dan malam itu kita kalah lagi.

Sistem Kita Masih Bergantung pada “Jangan Sampai Salah”

Di negara dengan sistem matang, satu kesalahan tidak langsung jadi bencana.
Karena ada pengaman berlapis:

- kalau manusia lalai → sistem menahan

- kalau sistem gagal → otomatis berhenti

- kalau darurat → semua jalur terkunci

Di sini?

Kita masih bergantung pada satu hal:
semoga tidak ada yang salah.

Dan ketika satu saja celah terbuka semuanya runtuh.

Jangan Cepat Cari Kambing Hitam

Nanti akan ada yang disalahkan.

Masinis.
Petugas sinyal.
Sopir taksi.

Tapi kalau setelah ini hanya satu orang dikorbankan untuk menutup cerita,
maka kita sedang mengubur masalah, bukan menyelesaikannya. 

Karena yang lebih besar dari kesalahan individu adalah:
sistem yang memungkinkan kesalahan itu menjadi fatal.

Yang Pergi Bukan Sekadar Penumpang

Gerbong perempuan menjadi titik luka terdalam malam itu.

Bayangkan:
mereka naik kereta bukan untuk perjalanan jauh.
Hanya pulang.
Hanya ingin sampai rumah.

Tapi takdir memotong perjalanan itu di rel dingin Bekasi Timur.

Mereka bukan angka.
Mereka adalah:

- ibu yang ditunggu anaknya

- anak yang masih jadi harapan keluarga.

- perempuan-perempuan kuat yang diam-diam menopang ekonomi rumah

Dan sekarang…
yang pulang hanyalah kabar.

Kita Tidak Kekurangan Teknologi. Kita Kekurangan Keberanian

Keberanian untuk:

- menutup perlintasan sebidang secara total

- membangun sistem yang tidak bergantung pada keberuntungan

- mengakui bahwa keselamatan belum jadi prioritas utama

Selama itu belum dilakukan,
maka setiap rel di negeri ini menyimpan potensi tragedi berikutnya.

Dan setiap kita yang naik kereta sebenarnya sedang menitipkan hidup pada sistem yang belum sepenuhnya siap menjaganya.

Bekasi Timur sudah berbicara.
Dengan suara yang lirih…
dan harga yang terlalu mahal.

Pertanyaannya sekarang:
Kita mau benar-benar mendengar, atau menunggu giliran berikutnya?