Rel Kereta Indonesia Masih Kalah dari Era Belanda, KAI Targetkan Tembus 60 Ribu Kilometer pada 2045

avatar M Aris Effendi
  • URL berhasil dicopy
Jaringan rel KA di kawasan stasiun di wilayah Jawa Timur.
Jaringan rel KA di kawasan stasiun di wilayah Jawa Timur.

 

Jakarta, JatimUPdate.id, – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menargetkan panjang jaringan rel kereta api nasional mencapai 37.000 hingga 60.000 kilometer pada 2045.

Untuk mewujudkan target ambisius tersebut, perusahaan akan membangun jalur baru sekaligus mengaktifkan kembali sejumlah lintas kereta yang selama ini tidak beroperasi.

Target itu terbilang besar mengingat panjang rel aktif di Indonesia saat ini baru sekitar 6.700 kilometer. Bahkan, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan jaringan rel di Pulau Jawa pada masa kolonial Belanda yang pernah mencapai sekitar 10.000 kilometer.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan pengembangan jaringan rel menjadi bagian dari transformasi perkeretaapian nasional menuju standar kelas dunia sekaligus mendukung kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus meningkat.

"Kita memerlukan sekitar 37.000 kilometer sampai 60.000 kilometer di tahun 2045," kata Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Menurut Bobby, salah satu langkah penting yang harus dilakukan adalah menghidupkan kembali jalur-jalur kereta yang pernah beroperasi, khususnya di Pulau Jawa. Ia menilai kondisi jaringan rel saat ini justru menunjukkan penyusutan dibandingkan masa lalu.

"Di Jawa yang aktif itu kurang dari 7.000 kilometer, sementara pada zaman Belanda sudah sekitar 10.000 kilometer. Jadi sebenarnya kita bukan bertambah, malah berkurang," ujarnya.

Karena itu, selain membangun jalur baru, KAI akan mendorong program reaktivasi rel untuk memperluas konektivitas antardaerah dan meningkatkan peran kereta api sebagai moda transportasi massal yang efisien.

Sebagai tahap awal, KAI menargetkan panjang rel nasional sudah melampaui 7.000 kilometer pada 2030.

Seiring bertambahnya jaringan, kinerja perusahaan juga diproyeksikan meningkat secara signifikan.

Saat ini, dengan panjang rel sekitar 6.700 kilometer, pendapatan KAI tercatat mencapai Rp35,7 triliun. Pada 2030, pendapatan perusahaan ditargetkan naik hampir dua kali lipat menjadi sekitar Rp66 triliun.

"Pada saat ini panjang rel hanya 6.700 kilometer dengan pendapatan perusahaan Rp35,7 triliun. Diharapkan di tahun 2030 panjang rel lebih dari 7.000 kilometer dengan pendapatan sekitar Rp66 triliun," jelas Bobby.

Tak hanya fokus pada bisnis transportasi, KAI juga mulai mengubah struktur pendapatannya agar tidak terlalu bergantung pada angkutan penumpang dan logistik. Saat ini sekitar 96 persen pendapatan perusahaan masih berasal dari kedua sektor tersebut.

Untuk memperkuat sumber pendapatan baru, KAI mempercepat pengembangan kawasan berbasis transit atau Transit Oriented Development (TOD) di sekitar stasiun dan simpul transportasi.

Bobby mencontohkan perusahaan perkeretaapian Jepang, Japan Railways (JR), yang mampu memperoleh sekitar 40 persen pendapatannya dari bisnis TOD. Sementara kontribusi TOD terhadap pendapatan KAI saat ini masih sekitar 4 persen.

Karena itu, KAI mulai menggarap sejumlah proyek pengembangan kawasan.

Salah satunya pembangunan hunian menengah ke bawah di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, yang mencakup hampir 5.000 unit rumah dan ditargetkan rampung pada 2027.

Melalui ekspansi jaringan rel dan pengembangan kawasan berbasis transit, KAI berharap dapat memperkuat peran perkeretaapian sebagai tulang punggung transportasi nasional sekaligus mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. (ries/yh)