Baca juga: Industri Pengolahan, Sektor Perdagangan Dan Pertanian Penopang Utama Struktur Ekonomi di Jawa Timur
Sragen, JatimUPdate.id - Di tengah hamparan sawah, hijau sepanjang mata memandang, berdiri bangunan megah, luas berbentuk hangar.
Ia seperti sedang mengucapkan janji kepada anak negeri bahwa di sini akan berkembang perajin dan IKM mebel tangguh. Bangunan megah ini adalah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Sentra IKM Mebel Sragen.
Sentra mebel yang mengusung konsep factory sharing ini berdiri di atas lahan 7.525 meter persegi. Luasnya sekitar satu lapangan bola standar FIFA.
Dibangun dengan memanfaatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang digelontorkan dari anggaran Kementerian Perindustrian, UPTD ini diresmikan tiga tahun lalu, persisnya 15 Desember 2022 lalu.
“Kehadiran UPTD ini untuk membantu IKM. Di sini disediakan aneka mesin produksi mebel canggih. Didukung dengan pemanfaatan teknologi 4.0. dalam pengaturan jadwal produksi maupun jadwal perawatan mesin,”ujar Ilham Setiawan, Kepala UPTD Sentra Industri Kabupaten Sragen, belum lama ini.
UPTD adalah rumah produksi bersama, dimanfaatkan perajin dan IKM di Sragen dan sekitarnya. Jadi, mereka tak perlu mengeluarkan modal besar, membeli mesin untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Maupun untuk memperbaiki mutu produk, sesuai tuntutan pasar. Ini langkah strategis pemerintah mendorong perajin naik kelas.
Secara geografis, lokasi UPTD ini berdekatan dengan dua sentra industri mebel di Sragen, yakni Sentra Gemolong dan Sentra Kalijambe.
Di sana tersebar ratusan perajin dan IKM mebel. Angka pastinya belum diperoleh, ada yang bilang jumlahnya di atas 500 perajin. Sumber lain menyebut , terdapat di atas 1.000 perajin/IKM.
Presisi tinggi
Sebelumnya, perajin mebel bekerja secara tradisional. Untuk mengeringkan, perajin biasa menjemur kayu di depan rumahnya. Di tengah persaingan pasar yang kian ketat, cara ini mengandung banyak kelemahan.
Selain, karena prosesnya memakan waktu berhari-hari bahkan sampai sebulan dan hasilnya pun kurang optimal.
“Pengeringan kayu penting dalam industri mebel. Pengeringan yang baik memungkinkan kayu diolah dengan presisi tinggi dan dapat meningkatkan mutu dan daya tahan produk,” ujar Ilham.
Presisi adalah tuntutan pasar. Ini tidak bisa ditawar. Tidak ada toleransi. “Baru-baru ini ada produk IKM yang ditolak buyer China karena ketebalannya selisih satu mili,”ujar Moh Apriyanto, Kepala Produksi UPTD Mebel Sragen menambahkan.
UPTD ini memiliki mesin “oven” kayu. Tercatat ada enam “chamber kiln dry”, ruang isolasi pengeringan kayu, selain boiler serta kipas “kiln dry” yang dapat mengatur panas dan sirkulasi udara. Masing-masing chamber berukuran 3,5 x 6 meter dengan kapasitas 8-20 kubik.
Menurut Ilham, sekitar 18 IKM mebel termasuk perajin aktif memanfaatkan jasa UPTD Industri Sragen.
IKM ini menghasilkan aneka produk mebel dengan orientasi ekspor. Di antaranya, PT Wirasindo Santakarya (Wisanta) berlokasi di Kawasan Industri Simas Kalijambe. “Walaupun sudah punya ‘oven’ sendiri, Wisanta memakai oven UPTD karena hasilnya lebih baik,”tambah Ilham.
Lain lagi dengan PT Ribka Furniture, perusahaan ini menggunakan fasilitas pengeringan UPTD karena kapasitas “oven” miliknya tidak cukup alias kurang.
Dari kayu gelondongan
Siang itu, di hangar UPTD tampak tumpukan kayu gelondongan yang sudah terpotong. Kayu ini akan diolah menjadi bahan baku produk mebel.
Rumah produksi mebel Sragen punya unit sawmill/penggergajian kayu, salah satu mata rantai vital dalam industri kayu. Di sini, kayu gelondongan itu dipotong dan diolah menjadi produk setengah jadi seperti papan dan balok yang siap diproses lebih lanjut.
Setelah menjadi papan, material ini akan dikeringkan dan selanjutnya memasuki proses finishing. Untuk melakukan ini, perajin tak perlu pusing karena sudah tersedia mesin produksi canggih. Salah satunya, mesin “double surface planer”, alat perkakas ini mampu menghasilkan permukaan kayu yang rata, rapi. Ini senjata andalan untuk menciptakan hasil akhir kayu yang presisi dan halus.
“Jadi, silakan perajin gunakan fasilitas UPTD. Mulai dari memotong kayu gelondongan hingga mengolah menjadi produk setengah jadi dan atau produk jadi. Bahkan, kami menyediakan ruang pamer juga,”ujar Apriyanto.
Meskipun mutu lebih baik dan biaya sewa mesin lebih murah, tapi diakui perajin/IKM yang memanfaatkan fasilitas UPTD relatif belum banyak dibandingkan potensi yang ada. Ini pekerjaan rumah besar. Sebab, tujuan keberadaan UPTD ini adalah mendorong IKM mebel di Sragen dan sekitarnya naik kelas, berorientasi ekspor.
Sesuai Perda Kabupaten Sragen Nomor 9/2023 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, untuk pengergajian di UPTD hanya dikenakan biaya Rp 120.000 per kubik.
Bandingkan biaya pengergajian di sawmill milik swasta di Sragen, mencapai Rp 200.000 per kubik. “Tapi, perajin lebih pilih sawmill swasta karena ada layanan antar jemput. sekarang kami belum mampu. Kami akan berusaha lebih baik ke depan,”janji Ilham. ***
HERRY SINAMARATA
Editor : Herry Sinamarata