Oleh Dr. Agus Andi Subroto
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis
ITB Yadika Pasuruan
Rungkut, Surabaya, JatimUPdate.id - Gerimis pagi ini menyelimuti Kota Pahlawan, membuat kaki enggan melangkah keluar sekadar mengendarai kuda terbang Myo J menuju warkop langganan.
Namun, dari emper rumah Rungkut, layar ponsel membuka dunia yang ramai: video, fliyer, dan tulisan beredar masif di grup WhatsApp.
Sebuah video berhenti di jari saya—tagline “Adik-adik UB membakar calon mahasiswa baru.” Sekilas terdengar dramatis, tapi maksudnya jelas: semangat para mahasiswa UB mengajak calon mahasiswa baru untuk proaktif, berani mencoba, dan menyiapkan diri menjalani profesi baru selanjutnya sebagai MABA di kemudian hari.
Di grup lain, diskusi tentang prestasi Tiongkok memantik obrolan kritis tentang kualitas SDM di negeri sendiri.
Guyon-maton parikeno bercampur kritik, dan di sinilah rasa memiliki muncul—dorongan intrinsik untuk berkontribusi bagi organisasi, institusi, dan bahkan negeri sendiri.
Rasa memiliki adalah fondasi cinta. Dari situ lahir inisiatif murni, lahir dari hati dan pikiran, untuk bekerja sepenuh jiwa memajukan lingkungan tempat kita hidup dan berkarir.
Sebagai warga negara dan bagian dari ITB Yadika Pasuruan, saya percaya: tidak ada negeri hebat di bumi ini selain Indonesia, dan tidak ada kampus hebat di Jawa Timur selain tempat saya mengabdi.
Tentu, membangun kesadaran dan rasa memiliki bukan pekerjaan mudah. Kerap kita dihadapkan pada kelemahan, kekurangan, atau prestasi luar negeri yang tampak gemilang. Namun, cara pandang yang benar, positif, dan optimis tetap menjadi alat ampuh untuk memulai kerja-kerja besar, baik sebagai individu maupun komunitas di rumah besar ini: Indonesia.
Menulis pagi ini, di emper rumah Rungkut, mengingatkan saya kembali: mencintai negeri dan institusi dimulai dari pandangan yang benar—tanpa caci maki, tanpa inferioritas. Setelah itu, biarkan kaki bergerak, biarkan tangan bekerja, dan biarkan pikiran menyalurkan ide. Kontribusi nyata menunggu, bukan sekadar rasa bangga atau ucapan.
Urip iku Urup. Setiap kata adalah cahaya, semoga catatan kecil ini menjadi sedekah yang menyalakan kebaikan bersama. (red)
Editor : Redaksi