UNUSIDA Gelar Sekolah Politik, Mahasiswa Dibekali Pemahaman 4 Pilar Kebangsaan

avatar Imam Hambali
  • URL berhasil dicopy
Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Sekolah Pendidikan Politik yang diikuti mahasiswa dari berbagai program studi.
Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Sekolah Pendidikan Politik yang diikuti mahasiswa dari berbagai program studi.

 

Sidoarjo, JatimUPdate.id - Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Sekolah Pendidikan Politik yang diikuti mahasiswa dari berbagai program studi.

Kegiatan ini menjadi wadah penguatan wawasan kebangsaan sekaligus meningkatkan pemahaman generasi muda tentang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam kegiatan tersebut, DPM menghadirkan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) sekaligus Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI), Lia Istifhama, sebagai narasumber utama.

Pada kesempatan itu, Lia memaparkan materi mengenai 4 Pilar Kebangsaan yang menjadi fondasi kehidupan bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Menurutnya, pemahaman terhadap empat pilar tersebut sangat penting bagi generasi muda di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi. Nilai-nilai kebangsaan dinilai menjadi bekal utama dalam menjaga persatuan serta memperkuat karakter anak bangsa.

"Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa harus memahami dan mengamalkan nilai-nilai 4 Pilar Kebangsaan sebagai landasan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak di tengah kehidupan bermasyarakat," ujar Lia,  Sabtu (13/6/2026)

Ketua DPM UNUSIDA, Alief Noor Rohman, mengatakan Sekolah Pendidikan Politik merupakan bagian dari komitmen organisasi mahasiswa dalam menghadirkan ruang edukasi politik yang sehat, kritis, dan konstruktif.

"Kegiatan tersebut tidak hanya memperluas pemahaman mahasiswa tentang teori politik, tetapi juga mendorong implementasi nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari," ucap Alief.

Selama kegiatan berlangsung, suasana diskusi terlihat hidup dan interaktif. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait demokrasi, partisipasi politik generasi muda, hingga tantangan menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.(ih/yh)