Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Karmila Sari Tekankan Kesehatan Mental Siswa Terpinggirkan

Reporter : Shofa
Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, Karmila Sari,

Jakarta, JatimUPdate.id - Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, Karmila Sari, menekankan pentingnya perhatian serius terhadap kesehatan mental dan kondisi psikososial siswa, menyusul meninggalnya seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Karmila, peristiwa tragis tersebut mengungkap realitas pahit bahwa sebagian anak Indonesia masih menghadapi tekanan berat, baik secara ekonomi maupun psikologis, yang luput dari pengawasan sistem pendidikan.

Baca juga: Karmila Sari: Kontribusi Ekonomi PRT Besar, RUU PPRT Mendesak Dibahas

“Sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi anak. Ketika seorang siswa sampai kehilangan harapan, itu menandakan ada persoalan serius dalam ekosistem pendidikan kita,” ujar Karmila dalam pernyataannya, Rabu (04/02/2026).

Karmila menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya YBR, siswa SD yang diduga mengakhiri hidupnya akibat tekanan ekonomi keluarga. Ia menilai, kasus ini memperlihatkan bahwa persoalan sederhana seperti alat tulis sekolah masih dapat menjadi beban psikologis yang berat bagi anak-anak dari keluarga rentan.

Ia menegaskan bahwa pendekatan pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada kurikulum dan capaian akademik, tetapi juga pada deteksi dini kondisi mental siswa. Menurutnya, sekolah harus memiliki mekanisme pendampingan yang mampu membaca tanda-tanda tekanan emosional pada peserta didik.

Baca juga: Sambut Ramadhan 1447 H, Dr Karmila Sari Perjuangkan Tambahan Kuota PIP dan KIP Kuliah untuk Rohil

“Pendataan siswa tidak cukup berbasis dokumen. Harus ada kehadiran nyata guru dan sekolah untuk memahami kondisi anak secara menyeluruh,” tegasnya.

Selain itu, Karmila mendorong agar pendidikan karakter dan layanan konseling diperkuat, terutama di daerah dengan tingkat kerentanan sosial ekonomi tinggi. Sekolah, kata dia, perlu menjadi tempat yang inklusif dan manusiawi, di mana siswa merasa didengar dan dilindungi.

Dalam konteks kebijakan, Karmila mengingatkan bahwa pemerintah telah menjalankan Program Indonesia Pintar (PIP) untuk membantu kebutuhan dasar pendidikan siswa. Namun ia menilai, efektivitas program tersebut harus dibarengi pendampingan dan pengawasan agar benar-benar menjangkau anak yang paling membutuhkan.

“Angka penerima bantuan penting, tapi yang lebih penting adalah memastikan tidak ada satu pun anak yang merasa sendirian dan terabaikan,” ujarnya.

Karmila berharap tragedi ini menjadi titik balik bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk menempatkan keselamatan, kesehatan mental, dan martabat anak sebagai prioritas utama dalam kebijakan pendidikan nasional (*)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru