Oleh : Salihudin
Baca juga: Islam " Mazhab HMI"
Ketua Umum HMI Cabang Palu 2001–2002, Alumni HMI, Aktivis Pro Demokrasi
Palu, JatimUPdate.id - Pertanyaan ini selalu sy ulang dlm berbagai tulisan dgn topik yg berbeda. Kali ini tentang HMI yg memperingati Dies Natalis yg ke 79 , 5 Februari 2026.
Pertanyaan ini menyimpan kegelisahan yang panjang. Setelah bertahun-tahun berproses di Himpunan Mahasiswa Islam, setelah puluhan bahkan ratusan forum, diskusi, pelatihan, bahkan konflik internal, lalu apa? Ke mana semua itu bermuara? Apa yang sebenarnya kita cari ketika dulu dengan penuh semangat mengucap janji atau sumpah kader?
Sebagian menjawab: Islam. Yang lain berkata: ilmu. Ada yang jujur mengaku: relasi. Tidak sedikit pula yang diam-diam berharap jabatan, pengaruh, atau sekadar identitas sosial. Semua jawaban itu manusiawi.
Masalahnya bukan pada ragam motif, melainkan pada satu hal yang jauh lebih bermakna: apakah proses panjang di HMI benar-benar mengubah cara berpikir, cara bersikap, dan cara hidup kita?
Fakta yang pahit harus diakui. Banyak yang setelah “ber-HMI” justru tidak beranjak ke mana-mana secara nilai. Cara berpikirnya tetap transaksional, etikanya lentur mengikuti kepentingan, dan keberagamaannya berhenti pada simbol.
Secara struktural pernah aktif, secara ideologis pernah fasih, tetapi secara praksis nyaris tidak berbeda dengan sebelum masuk HMI. Yang berubah hanya jaringan, bukan nurani.
Di sinilah ironi itu lahir. HMI sering dibicarakan, tetapi tidak sungguh dipahami. Kita hafal sejarah, fasih menyebut tokoh, pandai mengutip konstitusi organisasi, namun gagap ketika diminta menunjukkan buah nilai itu dalam kehidupan nyata. Seolah HMI hanyalah tangga, bukan jalan.
Padahal sejak awal, HMI tidak dirancang sebagai alat mobilitas sosial semata, melainkan sebagai ruang pembentukan manusia.
Baca juga: Pesan Prof Taruna Ikrar untuk Kader HMI saat Dies Natalis ke -79
Anggaran Dasar HMI dengan terang menyebut tujuan yang sangat indah : terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kalimat ini bukan kelengkapan anggaran dasar. Ia adalah kompas moral. Ia menuntut integrasi antara iman, ilmu, dan tanggung jawab sosial atau amal. Tanpa itu, HMI kehilangan maknanya.
Insan akademis berarti berpikir jernih, jujur pada data, dan berani berbeda secara argumentatif. Insan pencipta berarti tidak puas menjadi penonton, apalagi pengekor. Insan pengabdi berarti hadir untuk publik, bukan sekadar mengabdi pada kekuasaan.
Semua itu “bernafaskan Islam”, artinya berakar pada nilai Al-Qur’an dan Hadis: keadilan, amanah, kejujuran, dan keberpihakan pada yang lemah. Bukan Islam simbolik, melainkan Islam etik.
Ketika kader meninggalkan nilai ini, HMI berubah menjadi sekadar label masa lalu. Lebih buruk lagi, ia menjadi legitimasi kosong.
Kita pernah mengaku ditempa, tetapi perilaku kita membantah pengakuan itu. Kita bicara keadilan, namun nyaman dengan ketimpangan. Kita bicara amanah, tetapi lihai dalam kompromi moral. Kita bicara umat, tetapi abai pada penderitaan di sekitar.
Kritik ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan untuk mengingatkan. Bahwa HMI bukanlah tempat mencari karier, meskipun karier bisa datang. Bukan tempat mengoleksi jabatan, meskipun banyak alumninya berjabatan. Bukan pula klub eksklusif relasi, meskipun jejaringnya luas. Semua itu hanyalah efek samping, bukan tujuan.
Baca juga: Peringati Milad ke-79, Kader dan Alumni HMI Lamongan Tanam Mangrove di Pantai Kandangsemangkon
Tujuan utamanya adalah pembentukan watak/ karakter. Watak yang membuat seseorang tetap lurus ketika sendirian, tetap adil ketika berkuasa, dan tetap rendah hati ketika dipuji. Watak yang menjadikan Al-Qur’an dan Hadis bukan sekadar rujukan retoris, tetapi sumber orientasi hidup. Tanpa watak ini, kecerdasan hanya melahirkan keculasan, dan kekuasaan hanya mempercepat kerusakan.
Maka pertanyaan “setelah ber-HMI, lalu apa?” seharusnya dijawab dengan refleksi. Kemudian dihadirkan dlm perilaku keseharian.
Apakah kita hari ini lebih jujur dibanding sebelum HMI? Lebih peka pada ketidakadilan? Lebih berani menolak yang salah meski merugikan diri sendiri? Jika tidak, mungkin masalahnya bukan pada HMI, melainkan pada kesungguhan kita menjalaninya.
*****
HMI pada akhirnya bukan tentang masa lalu, tetapi tentang tanggung jawab hari ini. Ia hidup sejauh nilainya dihidupi. Ia bermakna sejauh kadernya berani menjadikan iman sebagai etika, ilmu sebagai alat pembebasan, dan amal pengabdian sebagai jalan hidup. Di titik itulah HMI berhenti menjadi cerita, dan kembali menjadi alat perjuangan.
Wallahu A'lam. (red)
Editor : Redaksi