Oleh Dr. Agus Andi Subroto
Dosen Manajemen Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Baca juga: Ramadan dan Jejak Aktivis: Merawat Nilai di Tengah Perubahan Peran
Pasuruan, JatimUPdate.id - Hujan mengguyur halaman Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan, Kamis (12/2/2026).
Tanah menjadi becek, udara terasa berat. Namun di dalam gedung kampus, dua peristiwa berlangsung dalam satu waktu yang sama—seakan menjadi metafora kecil tentang wajah pendidikan tinggi kita hari ini.
Di ruang kelas, mahasiswa tingkat akhir duduk dengan draf skripsi di tangan. Mereka menunggu giliran seminar proposal (sempro), sebuah tahapan yang kerap dipandang sebagai gerbang menuju penelitian sesungguhnya.
Di ruang itu, gagasan diuji, metodologi dipertanyakan, dan keberanian berpikir dipertaruhkan. Sempro adalah panggung pertanggungjawaban nalar.
Pada saat yang sama, di ruang kantor, para dosen dan tenaga kependidikan berkumpul dalam tradisi Megengan, menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Doa dipanjatkan, makanan dan jajan pasar dibagikan, dan suasana kebersamaan dirawat. Megengan adalah panggung penataan batin.
Sepintas, dua peristiwa ini berjalan sendiri-sendiri: yang satu akademik, yang lain kultural-spiritual. Namun jika direnungkan lebih dalam, keduanya menyimpan pesan yang sama—tentang kesiapan manusia menghadapi ujian.
Sempro bukan sekadar forum administratif untuk memenuhi prasyarat kelulusan. Ia adalah ritus inisiasi intelektual, momen ketika mahasiswa berlatih berpindah dari konsumen ilmu menjadi produsen pengetahuan. Di sana, integritas berpikir diuji. Apakah ia jujur pada data? Apakah ia memahami metodologinya? Apakah ia berani mempertahankan argumennya secara rasional?
Baca juga: Ritual Pembersihan Diri Menyambut Ramadan, Tradisi Ngumbah Dandang di Kota Batu Kembali Dihidupkan
Demikian pula Megengan. Ia bukan sekadar tradisi makan bersama menjelang Ramadan. Dalam akar budayanya, terdapat semangat munggah—naik secara spiritual, membersihkan niat, dan menyadari keterbatasan diri sebelum memasuki bulan penuh refleksi. Ia adalah latihan kesadaran bahwa ilmu tanpa kejernihan hati dapat kehilangan arah.
Sayangnya, dalam praktik pendidikan tinggi dewasa ini, kedua ruang ini kerap terjebak dalam formalisme. Seminar proposal tak jarang berubah menjadi prosedur teknis yang harus “dilalui”, bukan proses pendewasaan akademik yang sungguh-sungguh. Kritik menjadi rutinitas, bukan pembinaan. Naskah dipresentasikan sebagai dokumen administratif, bukan gagasan yang hidup.
Di sisi lain, tradisi dan spiritualitas juga rentan menjadi seremoni tanpa penghayatan. Kampus sibuk mengejar akreditasi, indikator kinerja, publikasi terindeks, dan reputasi kelembagaan. Semua itu penting. Namun ketika angka dan peringkat menjadi orientasi tunggal, ruang-ruang makna perlahan menyempit.
Kampus bisa menjadi sangat produktif, tetapi sekaligus sunyi secara reflektif.
Padahal, pendidikan tinggi sejatinya berdiri di atas dua kaki: ketajaman intelektual dan kedalaman moral. Ilmu tanpa nilai berpotensi melahirkan kecerdasan yang kering dan bahkan angkuh. Sebaliknya, kesalehan tanpa fondasi ilmu mudah terjebak pada semangat yang rapuh. Kampus semestinya menjadi ruang perjumpaan keduanya.
Pertemuan antara sempro dan Megengan di tengah hujan hari itu menghadirkan pengingat sederhana namun kuat: pendidikan bukan hanya tentang meluluskan mahasiswa atau memenuhi target institusi. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang utuh—yang berpikir kritis, tetapi tetap rendah hati; yang argumentatif, tetapi tidak kehilangan empati.
Baca juga: Ramadan, Tanda Baca dalam Hidup Sosial
Ujian tidak hanya hadir dalam bentuk pertanyaan penguji di meja seminar. Ujian juga hadir dalam cara kita memaknai setiap proses yang kita jalani. Apakah sempro hanya gugur kewajiban? Apakah tradisi hanya agenda seremonial? Ataukah keduanya sungguh menjadi sarana pembentukan karakter?
Di tengah derasnya tuntutan administratif dan kompetisi global, kampus perlu terus mengingat akar eksistensinya. Perguruan tinggi bukan sekadar pabrik gelar atau mesin produksi publikasi. Ia adalah ruang peradaban kecil, tempat nalar diasah dan batin ditata.
Sempro dan Megengan mungkin hanya peristiwa sederhana di sebuah kampus daerah. Namun dari kesederhanaan itulah tersirat pesan besar: pendidikan akan kehilangan martabatnya jika ia hanya mengejar capaian teknis tanpa menjaga dimensi kemanusiaannya.
Pada akhirnya, tugas perguruan tinggi tetaplah yang paling purba dan paling mulia—memanusiakan manusia.
Dr. Agus Andi Subroto
Dosen Manajemen Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Loby kampus, 12 Februari 2026
Editor : Redaksi