Puasa Kok Berat Badan Nambah

Reporter : Redaksi
Ilustrasi

Oleh : widodo, ph.d

pengamat keruwetan sosial

Baca juga: Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Dua Fungsi Pendidikan, Wariskan Nilai dan Siapkan Khalifah Masa Depan

 

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Setiap tahun pertanyaan itu datang seperti tamu tak diundang:
“Puasa kok berat badan malah nambah?”

Secara teori, jam makan berkurang. Dari 3 kali jadi 2 kali. Logikanya defisit kalori. Tapi praktiknya? Yang defisit cuma jamnya. Kalorinya malah naik kelas, dari reguler jadi VIP.

Mari kita audit dengan jujur, bukan dengan iman yang sedang diskon.

Sahur:

Nasi sepiring penuh. Telur. Ayam. Tempe. Sayur. Sambal. Ditutup teh manis atau sirup. Alasannya klasik: “Biar kuat seharian.”

Padahal kuat atau tidak, itu urusan metabolisme. Yang jelas perut sudah seperti gudang Bulog menjelang Lebaran.

Buka puasa:

Air putih? Ada.
Kurma? Ada.
Tapi itu cuma pembuka. Bab utama: gorengan 4 biji (katanya cuma dua, tapi dua kali ambil), kolak, es buah, risol, pastel. Seolah-olah 14 jam itu adalah penderitaan yang harus dibalas lunas malam itu juga.

Habis Maghrib atau Tarawih? Final round.

Nasi lagi. Ayam goreng. Sup. Tahu. Tempe. Buah. Teh manis lagi.

Baca juga: Alfamart Konsisten Hadirkan Program Sosial Tahunan Warteg Gratis Ramadan 2026

Kalau pola begini, jangan salahkan timbangan. Timbangan itu jujur. Yang suka drama itu nafsu makan.

Dokter sekaligus influencer sains Ryu Hasan pernah berkelakar bahwa Ramadan bisa jadi “pesta kuliner”. Dan memang tampaknya sebagian dari kita memahami Ramadan sebagai festival diskon takjil nasional. Masjid penuh, pasar takjil lebih penuh.

Padahal kalau kita menengok teladan Nabi Muhammad, inti puasa bukan sekadar memindahkan jam makan. Ada ajaran tentang sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, sepertiga untuk udara.

Yang terjadi sekarang?
Sepertiga untuk gorengan, sepertiga untuk dessert, udara kebagian antre.

Puasa itu latihan empati. Lapar agar tahu rasanya mereka yang tak bisa makan karena tak ada yang dimakan setiap hari. Tapi jangan sampai berubah jadi:
siang menahan lapar, malam balas dendam.

Pepatah lama bilang, “hemat pangkal kaya.”
Versi Ramadan kita kadang berubah jadi, “lapar pangkal kalap.”

Lalu bagaimana seharusnya?

Baca juga: Bupati Bondowoso Resmi Buka Festival Ramadhan 2026, Dorong Ekonomi Rakyat dan Pelestarian Budaya

1. Sahur secukupnya, bukan secukup takut.
Karbo kompleks, protein, sayur, air putih. Kurangi gula.

2. Buka dengan ringan dan beri jeda.
Tubuh butuh transisi, bukan kejut-kejutan gorengan.

3. Minuman manis itu kalori cair.
Tak terasa, tapi menumpuk seperti janji kampanye.

4. Tetap bergerak.
Jalan santai 20–30 menit setelah tarawih lebih berguna daripada scroll promo buffet.

Karena kalau puasa hanya memindahkan jam makan tanpa mengubah pola dan niat, hasilnya sederhana:
Ibadah jalan, metabolisme kaget, celana mengecil.

Puasa itu menahan.
Bukan menimbun.

 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru