Oleh Hijrah Saputra
Pengamat Sosial dan Alumnus S3 Universitas Jember
Bondowoso, JatimUPdate.id - Tidak semua orang memilih masjid karena bangunannya. Kadang bukan kubahnya, bukan pula pengeras suaranya. Ada hal lain yang lebih susah dijelaskan—semacam rasa yang membuat langkah terasa ringan.
Jumat awal puasa. Matahari tidak terlalu menyengat. Angin lewat begitu saja. Siang terasa biasa, tetapi entah kenapa ada suasana yang berbeda.
Pukul 11 lewat sedikit saya bergegas. Untuk sampai ke masjid, saya harus menyeberangi sok-sok —parit kecil yang dari dulu disebut begitu oleh orang kampung.
Airnya mengalir seperti biasa. Tidak pernah istimewa. Tapi setiap melangkah di atasnya, selalu ada kesan seperti sedang berpindah suasana.
Saya berboncengan dengan seorang teman. Motor tua itu berjalan pelan. Sekoknya turun sedikit ketika kami naik berdua. Sempat terpikir, kuat tidak ya bannya? Hal-hal kecil seperti itu kadang muncul begitu saja, lalu hilang lagi.
Masjid baru berdiri menghadap sawah. Di kejauhan tampak pegunungan. Anginnya lebih terasa. Saf depannya lapang. Rasanya terbuka.
Masjid lama tidak jauh dari sana. Jalannya lebih besar, lebih dekat dengan arus kendaraan. Sudah lama berdiri. Banyak kenangan barangkali tersimpan di sana.
Awalnya, jamaah tetap memilih yang lama. Sudah terbiasa. Mungkin juga karena merasa lebih pasti.
Tapi lama-lama ada yang berubah. Tidak ada rapat, tidak ada pengumuman apa pun. Orang hanya datang, lalu minggu berikutnya datang lagi. Tiba-tiba saja saf di masjid baru terasa lebih cepat penuh.
Saya teringat pada Max Weber (1922). Ia pernah menulis tentang legitimasi
"bagaimana kewibawaan bisa bertumpu pada tradisi, tetapi juga bisa bergeser ketika pengakuan orang-orang ikut bergeser."
Barangkali perpindahan itu tidak lahir dari perdebatan apa pun. Kadang ia hanya mengikuti rasa mantap yang pelan-pelan berubah tempat.
Di tempat lain, saya melihat kejadian yang mirip.
Di pinggir jalan besar berdiri masjid yang megah. Mudah terlihat.
Sedikit masuk ke dalam kawasan yang biasanya ramai oleh langkah-langkah muda, ada masjid kecil yang sederhana.
Untuk sampai ke sana orang melewati lorong yang biasanya riuh. Waktu itu lantainya masih agak basah, baru dipel. Suasananya justru terasa lebih hening.
Khutbah di masjid besar menggunakan bahasa Indonesia. Di masjid kecil menggunakan bahasa Arab.
Ketika salat dimulai, masjid kecil itu justru penuh. Letaknya memang tidak persis di tepi jalan, mungkin sekitar seratus meter masuk ke dalam. Tetapi orang-orang tetap mengarah ke sana. Jalan besar seperti ikut melambat, meski tidak benar-benar macet.
Di situ saya teringat pada Jürgen Habermas (1962) tentang ruang publik
"ruang yang hidup karena interaksi di dalamnya, bukan semata karena letaknya strategis."
Dan lebih jauh lagi, Al-Ghazali (1111) pernah mengingatkan bahwa "nilai tidak ditentukan oleh bentuk luar, melainkan oleh niat dan kesungguhan." Mungkin ruang pun demikian.
Masjid tetap berdiri seperti biasa. Sok-sok tetap mengalir. Jalan tetap ramai setelah salat selesai.
Yang berubah mungkin bukan bangunannya.
Hanya rasa mantap orang-orang yang pelan-pelan menemukan tempatnya.
Mungkin memang begitu cara sesuatu menjadi bermakna. Ia tidak selalu lahir dari apa yang tampak besar atau terlihat meyakinkan, tetapi tumbuh ketika orang merasa pas, merasa nyaman, merasa cukup.
Dan itu sering terjadi tanpa banyak kata. Wallahu a'lam bish showab.
Editor : Redaksi