Yogyakarta, JatimUPdate.id — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhadjir Effendy menegaskan bahwa tauhid tidak boleh berhenti pada keyakinan teologis semata, tetapi harus diwujudkan dalam kerja nyata yang membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan sosial.
Hal itu disampaikan dalam Pengajian Ramadan 1447 H yang digelar di Student Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Haedar Nashir: Bumi Harus Dimakmurkan Tanpa Dirusak, Ekoteologi Jadi Gerakan Muhammadiyah.
Dalam pemaparannya, Muhadjir menjelaskan bahwa “tauhid murni” mencakup dua dimensi utama, yakni tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah. Tauhid uluhiyah berarti hanya Allah yang berhak disembah, sedangkan tauhid rububiyah merupakan pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta dan pengatur alam semesta. Tauhid menjadi murni apabila terbebas dari praktik tahayul, khurafat, dan bid’ah.
Menurutnya, konsekuensi logis dari tauhid adalah perubahan sikap hidup. Seorang muslim bukan sekadar beriman di dalam hati, melainkan harus menghadirkan nilai keesaan Tuhan dalam pengelolaan kehidupan sosial, ekonomi, dan pendidikan. Tauhid, kata Muhadjir, melahirkan kesadaran manusia sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di bumi.
Muhammadiyah, lanjutnya, menjadikan tauhid sebagai landasan gerakan dakwah dan tajdid (pembaruan). Prinsip amar ma’ruf nahi munkar diterjemahkan tidak hanya sebagai dakwah lisan, tetapi juga sebagai upaya memberantas “kemungkaran sosial” seperti kebodohan dan kemiskinan.
Ia kemudian menguraikan implementasi tauhid melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Di bidang pendidikan, gerakan Muhammadiyah berawal dari pengajian kemudian mendirikan sekolah modern yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum.
Kini, ribuan lembaga pendidikan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi Muhammadiyah tersebar di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah mencetak generasi berilmu, berakhlak, serta menghilangkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia.
Baca juga: Ketua PDM Malang Sampaikan Tausyiah Refleksi Persatuan Muhammadiyah dan NU
Pada sektor kesehatan, Muhammadiyah mengembangkan pelayanan sosial sejak berdirinya Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) tahun 1918.
Saat ini jaringan rumah sakit, klinik, dan balai kesehatan Muhammadiyah melayani masyarakat tanpa diskriminasi status sosial maupun ekonomi. Menolong orang sakit dipandang sebagai bentuk ibadah sosial, bagian dari pengabdian kepada Allah.
Sementara di bidang ekonomi dan sosial, Muhammadiyah mendirikan Baitul Maal wat Tamwil, koperasi, serta lembaga keuangan mikro syariah dan mengelola Lazismu untuk penyaluran zakat, infak, dan sedekah secara tepat sasaran.
Baca juga: Bangkit Bersama untuk Indonesia, Haedar Nashir Serukan Solidaritas dan Keteladanan Elit Bangsa
Program tersebut juga meliputi panti asuhan, pemberdayaan kaum dhuafa, serta layanan disabilitas dengan tujuan mewujudkan keadilan sosial dan kemandirian umat.
Muhadjir menekankan bahwa seluruh Amal Usaha Muhammadiyah dijalankan secara profesional dan sistemik, tetapi tetap berlandaskan keikhlasan. Organisasi, menurutnya, hanyalah alat untuk memakmurkan bumi sebagai amanah Tuhan.
"Kami mengajak umat Islam membaca realitas sosial, bergerak secara terorganisasi, dan membangun peradaban melalui pendidikan, kesehatan, dan ekonomi," tutupnya. (Yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat