Oleh: Hijrah Saputra
Baca juga: Evaluasi Menu MBG Ramadan SPPG Dadapan 2 Berbuah Perbaikan, Wali Murid Apresiasi Respon Cepat
Pengamat Sosial dan Alumnus S3 Universitas Jember
Bondowoso, JatimUPdate.id - Awal Ramadan hadir pelan. Sunyi, tapi terasa. Orang-orang bergerak lebih lambat. Tidak ada perubahan yang mencolok, hanya suasana yang perlahan bergeser.
Sidang isbat oleh Kementerian Agama Republik Indonesia pada 18 Februari 2026 menetapkan awal puasa yang dimulai keesokan harinya, 19 Februari 2026. Sejak hari pertama itu, pagi di kota terasa lebih lengang. Seperti ada jeda yang sengaja dibiarkan tinggal.
Di Bondowoso, pasar tidak terlalu riuh. Lapak-lapak UMKM masih tertutup. Tenda berdiri tanpa suara tawar-menawar. Pecinan dan Kampung Arab tampak tenang. Udara pagi seperti menyimpan napasnya sendiri.
Di sebelah utara alun-alun, beringin tua berdiri sebagaimana biasa. Akar gantungnya menjulur, daunnya bergerak pelan disentuh angin. Beberapa orang duduk diam di bawahnya. Tidak banyak bicara. Hanya menunggu waktu berjalan.
Tak jauh dari batangnya, pameran mobil bekas digelar. Mesin-mesin yang pernah melaju jauh kini berhenti dalam barisan. Ada yang menatap harga. Ada yang membayangkan perjalanan. Di bawah teduh beringin, transaksi terasa sederhana—seperti harapan yang berpindah perlahan.
Pohon tua dan mobil-mobil itu berdampingan tanpa saling mengganggu. Yang satu menyimpan umur panjang. Yang lain menawarkan arah baru. Kota tidak tergesa. Ia hanya mengikuti waktunya sendiri.
Menjelang sore, suasana berubah dengan cara yang lembut. Jalan mulai terisi. Motor berhenti sebentar, lalu bergerak lagi. Pedagang menata kolak dan gorengan. Anak-anak menunjuk pilihan dengan mata berbinar.
Pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa (2024) bahwa *"daya tahan ekonomi Indonesia bertumpu pada konsumsi domestik dan kekuatan usaha kecil"* terasa dekat di sini. Bukan dalam grafik atau angka, melainkan dalam plastik es buah, dalam uang receh, dalam kesabaran menunggu azan.
Visi “Bondowoso BERKAH” dari Bupati Abdul Hamid Wahid dan Wakil Bupati As'ad Yahya Syafii hadir tanpa banyak slogan. Ia tampak pada pedagang yang tetap membuka lapak. Pada usaha kecil yang bertahan. Pada suasana yang tetap tertib.
Di sudut alun-alun, di bawah beringin yang sama, pedagang kecil menata dagangannya. Mobil-mobil bekas masih menunggu. Ruang publik dan ruang ekonomi berbagi tempat, berbagi sore.
Baca juga: Kiai Zuhri Zaini; Qiyamul Lail sebagai Kunci Kesehatan Jasmani dan Rohani
Namun kota ini juga menyimpan ingatan yang tidak pernah benar-benar pergi.
23 November 1947. Tragedi Gerbong Maut. Sekitar 100 pejuang dipindahkan dari Bondowoso ke Surabaya dalam gerbong tertutup tanpa ventilasi. Panas. Sesak. Udara yang menipis.
Ketika gerbong dibuka, 46 orang dinyatakan meninggal dunia. Dua belas sakit parah. Dua belas dalam kondisi tidak sehat. Tiga puluh lemas tak berdaya. Angka-angka itu diam, tetapi berat.
Peristiwa itu dikenang melalui Monumen Gerbong Maut di pusat kota. Di sana, waktu terasa berjalan lebih pelan. Bondowoso pernah memiliki jalur kereta api. Rel-rel itu dahulu menjadi urat nadi perjalanan dan pergerakan. Kini tinggal jejak dan harapan. Semoga suatu hari berdenyut kembali.
Di sekitar monumen, kehidupan terus berlangsung. Orang berdagang. Anak muda berbincang. Lalu-lalang tetap ada. Gerbong itu hanya berdiri, mengingatkan tanpa suara.
Saya teringat gagasan Margono Djojohadikusumo pada dekade 1940-an tentang "ekonomi rakyat yang harus berdiri di atas kaki sendiri."
Salah satu rintisannya adalah Koperasi Lumbung Rukun Tani di Rowokangkung, Lumajang, Koperasi Sinar Jaya Jember, dan Bondowoso.
Gagasan itu tidak banyak berbunyi, tetapi bertahan dalam waktu.
Baca juga: Komisi A Minta Pengawasan RHU Selama Ramadan Tak Setengah Hati
Sore Ramadan ini terasa seperti gema yang jauh dari gagasan itu. Usaha kecil tetap membuka lapak. Roda kecil terus berputar. Pelan, tetapi setia.
Dulu, ruang gerak pernah dibatasi pintu besi yang tertutup rapat. Hari ini ruang itu terbuka. Orang dapat berjalan, berdagang, berbincang. Setiap gerak seperti memiliki akar yang tak terlihat.
Ramadan mempertemukan hening dan keramaian dalam satu waktu. Dari beringin tua di utara alun-alun hingga gerbong besi yang menyimpan duka, kota ini berdiri di atas ingatan.
Denyut kota bukan hanya soal ekonomi. Ia juga tentang kesadaran yang tumbuh perlahan.
Setiap Ramadan menghadirkan ruang sunyi untuk mengingat—bahwa kebebasan hari ini datang melalui perjalanan panjang yang tidak selalu mudah.
Dan kota yang mengingat, biasanya berjalan lebih hati-hati. Tidak tergesa. Tidak mudah kehilangan arah.
Wallahu A'lam Bish Showab
Editor : Redaksi