Pekat, Dompu NTB, JatimUpdate.id – Pemandangan ladang tebu yang membentang luas kini menjadi wajah baru di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, NTB.
Di balik gemerlapnya hasil tanaman ini yang setiap tahunnya mengirim puluhan warga ke Tanah Suci, tersimpan peran besar para kepala desa yang menjadi garda terdepan perubahan.
Bagi warga Desa Beringin Jaya, Nangakara, dan Sorinomo, tebu bukan lagi sekadar tanaman biasa.
Ia adalah sumber kehidupan yang membangkitkan kembali semangat ekonomi setelah masa-masa sulit akibat gagal panen jambu mete yang diserang hama.
"Dulu kami sempat putus asa. Tapi setelah tebu masuk, semua perlahan bangkit," ujar Firman, Kepala Desa Beringin Jaya.
Namun, perjalanan mengubah pola pikir petani bukan perkara instan.
Supardi, Kades Sorinomo, mengenang masa-masa awal program tebu pada 2014.
Saat itu, banyak warga yang enggan percaya bahwa ada bantuan Rp 8,4 juta per kelompok tanpa syarat.
"Saya sendiri yang jadi contoh pertama. Kalau saya tak mulai, siapa lagi?," kata Supardi yang memang petani tebu itu.
Kini, kerja keras para kades itu menuai hasil. Di Beringin Jaya, sekitar 600 kepala keluarga hampir sepenuhnya bergantung pada tebu.
Aktivitas ekonomi yang meningkat turut menekan angka kriminalitas, seperti pencurian, karena warga lebih banyak menghabiskan waktu di kebun.
Bahkan dalam lima tahun terakhir, setiap tahunnya ada 12 hingga 30 warga yang mampu berangkat umrah dari hasil panen tebu. Sebuah pencapaian yang dulu hanya mimpi.
Para kades tak hanya jadi penggerak, tapi juga pelayan administrasi yang sigap.
Firman mengaku selalu mempercepat penerbitan surat keterangan lahan agar warganya bisa bermitra dengan PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS), pabrik gula setempat.
"Kalau bukan kita yang memudahkan, siapa lagi?," tegasnya.
Tak hanya itu, mereka juga menjadi penengah saat konflik lahan muncul. Salah satunya soal ternak sapi yang kerap merusak tanaman.
Lewat musyawarah, warga sepakat mengandangkan ternak. Hasilnya, gangguan sapi liar turun drastis hingga 75 persen.
Tanpa campur tangan kepala desa, konflik semacam ini bisa berujung pada aksi balas dendam atau laporan polisi.
Menariknya, tanaman tebu sempat membuat sebagian orang menyebut petani setempat sebagai "petani malas".
Pasalnya, setelah melalui proses awal seperti pengolahan lahan (zonder), tanam, dan pemupukan, tebu bisa tumbuh subur tanpa perawatan intensif.
Dalam setahun, petani bisa mengantongi keuntungan bersih Rp30–35 juta per hektare.
Sistem pembayaran juga kini lebih transparan. Dana langsung masuk ke rekening pribadi petani (by name by address), memutus praktik lama yang kerap tersendat di tangan oknum kelompok tani.
Bagi para kepala desa, keberlangsungan industri tebu adalah harga mati. Mereka sadar, tanpa tebu, perekonomian warga bisa goyah.
Mereka pula yang setiap hari menjaga api semangat petani tetap menyala, meskipun perhatian dari pemerintah pusat maupun daerah masih terasa minim.
"Kalau perusahaan tumbang, kita semua ikut kelaparan," seperti diungkapkan salah satu kades dengan nada lugas. (mmt/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat