Oleh : Tri Prakoso, SH,.M.HP
Baca juga: Jiwa yang Tenang: Menyelami Samudra Kedamaian dalam Bingkai Tasawuf
Alumni Universitas Jember
Surabaya, JatimUPdate.id -
Seorang hamba bertanya tentang lokasi paling mulia di sisi Tuhan. Jawaban yang diterimanya justru berupa paradoks: pergilah ke tempat yang paling jauh, sekaligus paling dekat. Di sanalah, kata sufi, seorang pencinta akan bertemu dengan Kekasihnya.
Di sebuah senja yang hening, seorang hamba berbisik lirih. Bukan doa meminta harta atau panjang umur. Bukan pula ratapan atas nestapa dunia. Ia hanya ingin tahu satu hal: di manakah tempat paling mulia di sisi Allah?
”Sungguh aku ingin bersujud di tempat yang paling dimuliakan Allah. Sungguh aku ingin memuji Allah di tempat yang paling suci di hadapan-Nya. Sungguh aku ingin berjalan di tempat yang diridhai Allah. Sungguh aku ingin hidup di tempat yang paling disukai Allah."
Begitulah syair itu bermula. Sebuah nyanyian jiwa yang merindu puncak. Lalu, suara lain menjawab—entah dari dalam dada, entah dari dimensi yang tak kasatmata. "Pergilah ke tempat yang paling jauh menurutmu, lebih jauh dari tempat lainnya. Dan pergilah ke tempat yang paling dekat menurutmu, lebih dekat dari yang lainnya. Di situlah engkau akan menemukan tempat paling mulia."
Syair sederhana ini, yang mungkin lahir dari perenungan seorang salik (penempuh jalan spiritual) di kedalaman malam, menyimpan lautan makna.
Ia bukan sekadar rangkaian kata puitis, melainkan peta jalan menuju apa yang dalam dunia tasawuf disebut sebagai ma'rifat—pengenalan sejati akan Tuhan. Tapi apa maksudnya? Bagaimana mungkin sesuatu bisa menjadi paling jauh sekaligus paling dekat?
Ketika Hati Bertanya tentang "Tempat"
Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa memaknai "tempat" secara fisik. Masjidil Haram adalah tempat paling suci. Makam Nabi di Madinah adalah tempat paling mulia. Lembah-lembah di Mekah dan bukit-bukit di Mina adalah tempat-tempat yang diberkahi.
Jutaan orang rela mengeluarkan harta dan mempertaruhkan nyawa untuk sampai ke sana. Namun, pertanyaan dalam syair itu bukan soal Ka'bah. Bukan pula soal Masjid Nabawi. "Wahai yang ada dalam hatiku, dimanakah tempat yang paling mulia itu? Aku ingin pergi ke sana."
Ada yang berbeda di sini. Si penanya tidak meminta petunjuk jalan menuju kota suci. Ia bertanya kepada "yang ada dalam hati"—sebuah personifikasi dari kesadaran spiritual terdalam, yang oleh para sufi disebut sebagai sirr (rahasia Ilahi) atau qalb (hati spiritual).
Dalam tradisi tasawuf, hati bukan sekadar organ pemompa darah. Hati adalah pusat kesadaran, tempat Tuhan menitipkan cahaya-Nya.
Imam Al-Ghazali, sang Hujjatul Islam, dalam kitab monumentalnya Ihya' 'Ulum al-Din menjelaskan bahwa hati (qalb) memiliki dua mata: satu mata yang melihat ke arah dunia fisik, dan satu mata lainnya yang melihat ke arah alam malakut (kerajaan langit).
Pertanyaan si hamba datang dari mata yang kedua. Ia tidak bertanya tentang tempat di peta, tapi tentang stasiun spiritual di peta perjalanan menuju Allah.
Syaikh Dliyauddin Ahmad Al-Kamasykhonawi, seorang sufi besar dari tanah Turki yang hidup pada abad ke-19, dalam kitabnya Jami'ul Ushul fil Auliya' (Kumpulan Dasar-Dasar Tentang Para Wali) menguraikan panjang lebar tentang tahapan-tahapan perjalanan spiritual. Kitab ini sejatinya adalah syarah (komentar) atas kitab Al-Hikam karya Ibn 'Atha'illah Al-Sakandari, yang menjadi bacaan wajib di hampir semua pesantren dan tarekat di Nusantara.
Al-Kamasykhonawi menjelaskan bahwa para wali dan pencari Tuhan tidak terobsesi pada tempat-tempat fisik semata. Mereka memang memuliakan tempat-tempat suci, tapi tujuan akhir mereka bukanlah bangunan atau lokasi geografis.
Tujuan mereka adalah Allah sendiri. Seorang wali bisa bersujud di atas sajadah anyaman bambu di sudut rumahnya yang gelap, namun hatinya sedang melakukan thawaf di sekitar 'Arasy Ilahi. Ia bisa duduk bersila di teras masjid kampung, namun ruhnya sedang bermunajat di hadirat Yang Maha Kuasa.
Dalam syair itu, keinginan untuk "bersujud di tempat paling dimuliakan" dan "hidup di tempat paling disukai Allah" adalah kiasan dari kerinduan untuk mencapai derajat ridha—sebuah maqam di mana seorang hamba tidak lagi memiliki kehendak selain kehendak Tuhannya.
Ibn 'Atha'illah dalam Al-Hikam pernah berkata: "Tanda matinya hati adalah tidak adanya kesedihan karena kehilangan ketaatan dan tidak adanya penyesalan karena melakukan kesalahan." Sebaliknya, tanda hidupnya hati adalah kerinduan yang tak terbendung untuk selalu berada dalam "tempat" yang diridhai-Nya.
Jalan Panjang Menuju "Tempat Paling Jauh"
Jawaban yang diterima si hamba ternyata membingungkan. "Pergilah ke tempat yang paling jauh menurutmu." Di sini, "jauh" bukan berarti jarak geografis. Ini adalah jarak spiritual—jurang pemisah antara diri manusia yang kotor oleh dosa dan ego, dengan Tuhan Yang Maha Suci.
Semakin banyak dosa dan semakin tebal hijab (tabir) nafsu, semakin "jauh" seseorang dari Tuhan, meskipun secara fisik ia bisa jadi setiap hari datang ke masjid.
"Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian," firman Allah dalam Surah Al-'Ashr. Al-Ghazali menafsirkan kerugian ini sebagai kondisi di mana seseorang terhalang dari Allah. Ia hidup, namun tidak merasakan kehadiran-Nya. Ia bernafas, namun tidak menyadari bahwa setiap helaan adalah karunia. Ia berada di dekat masjid, tapi hatinya berada nun jauh di pasar-pasar dunia.
Ketika sang pembimbing hati berkata, "Pergilah ke tempat yang paling jauh," ia sejatinya menyuruh si hamba untuk memasuki medan perang terbesar: perang melawan hawa nafsu.
Dalam sebuah hadits yang masyhur, Rasulullah bersabda sepulang dari Perang Badar, "Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar." Para sahabat bertanya, "Apa jihad yang lebih besar itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Jihad melawan hawa nafsu."
Perjalanan menuju "tempat paling jauh" adalah proses takhalli—pengosongan diri dari segala sifat tercela. Sombong, riya, hasad, tamak, dan cinta dunia adalah beban-beban yang membuat perjalanan ini terasa panjang dan melelahkan. Ibarat seorang pendaki yang membawa ransel penuh batu, langkahnya akan tertatih dan jalannya terasa tak berujung.
Syair itu melanjutkan: _”Sejauh angan-angannya yang tidak pernah ketemu awal dan akhirnya, sampai engkau lelah dan tak punya daya mampu di buatnya."_ Ini adalah gambaran yang sangat akurat tentang kondisi jiwa manusia.
Angan-angan atau khayal dalam istilah sufi adalah proyeksi ego. Kita selalu membayangkan ini dan itu, menginginkan ini dan itu. Keinginan nafsu tidak pernah berhenti. Bahkan setelah satu keinginan terpenuhi, muncul lagi keinginan baru. Ini adalah lingkaran setan yang melelahkan.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, sang sulthanul auliya, dalam kitab Futuh al-Ghaib (Pembuka Kegaiban) mengingatkan bahwa jalan menuju Allah harus ditempuh dengan keringat dan air mata.
Tidak ada jalan pintas. Tidak ada lift spiritual. Yang ada hanyalah anak tangga yang harus didaki satu per satu: taubat, kemudian zuhud, kemudian sabar, kemudian tawakkal, dan seterusnya hingga sampai ke puncak ma'rifat.
"Lelah dan tak punya daya" dalam syair itu adalah kondisi yang oleh para sufi disebut sebagai al-'ajz (ketidakberdayaan total) dan al-faqr (kefakiran mutlak). Dalam doa yang diajarkan Rasulullah, kita memohon: "Ya Allah, jadikanlah aku orang yang fakir di hadapan-Mu." Bukan fakir harta, tapi fakir spiritual—merasa tidak memiliki apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa tanpa pertolongan-Nya. Inilah titik di mana ego runtuh dan pintu pertolongan Ilahi terbuka lebar.
Al-Kamasykhonawi dalam Jami'ul Ushul menukil sebuah kisah tentang seorang murid yang bertanya kepada gurunya, "Sudah 30 tahun aku beribadah, tapi aku belum merasakan manisnya iman. Mengapa?" Sang guru menjawab, "Karena selama 30 tahun itu engkau masih merasa bahwa engkau yang beribadah. Lepaskan rasa 'aku'-mu, maka engkau akan menemukan-Nya."
Inilah makna "tempat paling jauh". Ia jauh karena membutuhkan pengorbanan yang paling mahal: pengorbanan ego. Tapi justru di sanalah, di ujung kepayahan dan kehancuran ego, seseorang mulai menemukan jejak-jejak Sang Kekasih.
Yang Tersembunyi di "Tempat Paling Dekat"
Setelah petunjuk pertama yang membingungkan, datanglah petunjuk kedua yang lebih membingungkan lagi. ”Dan pergilah ke tempat yang paling dekat menurutmu, lebih dekat dengan yang lainnya."
Dalam syair itu, tempat paling dekat dijelaskan secara gamblang: "Lebih dekat dengan badanmu yang dijadikan sandaran jiwamu." Ini merujuk pada sesuatu yang amat dekat dengan diri kita, bahkan mungkin kita sendiri. Lalu di mana itu? Ada di dalam diri.
Al-Qur'an telah mengabarkan hal ini berabad-abad silam: "Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qaf: 16).
Ayat ini sering dikutip para sufi untuk menjelaskan betapa Allah tidak pernah jauh dari hamba-Nya. Yang jauh bukan Allah, tapi kesadaran hamba. Yang butuh perjalanan bukan Tuhan, tapi diri kita sendiri.
Imam Al-Ghazali, dalam kitabnya yang tipis tapi padat Al-Maqshad al-Asna fi Syarh Asma' Allah al-Husna, menjelaskan bahwa sifat Allah Al-Qarib (Maha Dekat) tidak berarti kedekatan fisik, karena Allah Maha Suci dari dimensi ruang. Kedekatan ini adalah kedekatan dalam ilmu, kekuasaan, dan kasih sayang. Allah mengetahui setiap detak jantung kita, setiap lintasan pikiran kita, bahkan setiap getaran batin yang tak terucap.
Tapi para sufi tidak berhenti di situ. Mereka meyakini adanya dimensi kedekatan yang lebih dalam, yang oleh Al-Ghazali disebut sebagai al-qurb al-khashsh (kedekatan khusus).
Ini adalah kedekatan yang dialami oleh para wali dan orang-orang yang telah mencapai ma'rifat. Dalam kondisi ini, seorang hampa menyaksikan bahwa tidak ada wujud hakiki selain Wujud Allah. Segala sesuatu yang tampak—termasuk dirinya sendiri—adalah bayangan dari Wujud Yang Satu.
Ibn 'Arabi, sang syaikhul akbar, dalam kitabnya Fusus al-Hikam menguraikan konsep al-Insan al-Kamil (Manusia Sempurna). Manusia sempurna adalah cermin di mana Allah melihat diri-Nya sendiri. Ia adalah tempat tajalli (penampakan) paling sempurna dari sifat-sifat Ilahi.
Di dalam dirinya, terkumpul semua rahasia alam semesta. Ia adalah mikro-kosmos yang merefleksikan makro-kosmos. Jadi, "tempat paling dekat" itu sejatinya adalah diri manusia sendiri—bukan diri yang egois dan sombong, tapi diri yang telah tersucikan, yang telah menjadi cermin bening bagi cahaya Ilahi. Jalaluddin Rumi, penyair sufi terbesar dari Persia, pernah bersenandung: ”Kau mencari-Nya di gunung-gunung dan lembah-lembah, padahal Dia ada di dalam dirimu sendiri. Tapi kau tidak menyadarinya."
Syair itu menambahkan: "Dan engkau akan mengerti pada awalnya dan pada akhirnya." Frasa ini sangat dalam. "Pada awalnya" bisa berarti bahwa sejak awal penciptaan, Allah sudah menanamkan potensi ma'rifat dalam diri setiap manusia. Inilah yang disebut dalam hadits qudsi: "Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, lalu Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk." "Pada akhirnya" berarti bahwa setelah melalui perjalanan panjang penyucian diri, seseorang akan kembali kepada kesadaran awal itu, tapi kini dengan pemahaman yang utuh dan penghayatan yang mendalam.
Al-Kamasykhonawi dalam Jami'ul Ushul menjelaskan bahwa proses ini adalah perjalanan dari Tuhan, menuju Tuhan, dan kembali kepada Tuhan. Manusia berasal dari Allah, hidup di dunia dengan lupa kepada-Nya, lalu melalui agama dan bimbingan para wali, ia diingatkan kembali, dan akhirnya kembali kepada-Nya dengan kesadaran penuh. Inilah makna Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un yang sesungguhnya—bukan hanya saat mati, tapi juga saat mencapai ma'rifat.
Titik Temu: Di Mana Yang Jauh dan Dekat Bertemu
Lalu di mana sebenarnya tempat paling mulia itu? Apakah di ujung perjalanan panjang melelahkan, ataukah di kedalaman diri yang paling dekat? Jawaban tasawuf adalah: keduanya, pada saat yang sama.
Dalam tradisi sufi, dikenal istilah fana' dan baqa'. Fana' adalah kondisi lebur atau sirnanya kesadaran akan diri. Dalam kondisi ini, seseorang tidak lagi merasa bahwa dirinya yang berbuat, dirinya yang melihat, dirinya yang mendengar.
Yang ada hanyalah Allah. Ini adalah buah dari perjalanan panjang menuju "tempat paling jauh"—perjalanan menghancurkan ego hingga tak tersisa. Setelah fana', datanglah baqa'. Ini adalah kondisi kekal bersama Allah. Setelah ego runtuh, yang tersisa adalah kesadaran akan keesaan-Nya.
Seseorang kembali hidup di dunia, makan, minum, berinteraksi dengan manusia, tapi hatinya senantiasa bersama Allah. Ini adalah "tempat paling dekat"—kesadaran bahwa Allah selalu hadir, selalu menyertai, bahkan lebih dekat dari urat leher.
Al-Kamasykhonawi dalam Jami'ul Ushul menekankan bahwa para wali tidak terhenti pada fana'. Mereka harus kembali ke dunia (baqa') untuk membimbing umat. Nabi Muhammad SAW adalah teladan tertinggi dalam hal ini.
Beliau telah mencapai puncak ma'rifat di Sidratul Muntaha pada malam Isra' Mi'raj, namun beliau kembali ke Mekah dan Madinah untuk mengajarkan Islam kepada para sahabat.
Syair itu sendiri diakhiri dengan dua pernyataan yang menggugah: Dialah Allah, tempat engkau berlindung. Dialah Allah, tempat bergantung."
Ini adalah kutipan dari Surah Al-Ikhlas, surat yang oleh Rasulullah disebut setara dengan sepertiga Al-Qur'an. "Allahu shamad"—Allah tempat bergantung segala sesuatu.
Menariknya, kata shamad dalam bahasa Arab memiliki makna yang dalam. Ia berarti tujuan akhir, tempat meminta, tempat berlindung, tempat bergantung. Semua makhluk, dalam segala kondisi, butuh kepada-Nya. Tapi Dia tidak butuh kepada siapa pun.
Dalam konteks syair ini, pernyataan "Dialah Allah tempat bergantung" menjadi klimaks dari pencarian. Si hamba yang bertanya-tanya tentang tempat paling mulia, akhirnya diingatkan bahwa yang dicarinya bukanlah "tempat", melainkan "Tuan" dari semua tempat. Allah adalah tujuan. Allah adalah tempat kembali. Segala sesuatu selain Dia hanyalah jalan dan kendaraan menuju Dia.
Pelajaran untuk Pencari Zaman Now
Lantas, apa relevansi syair kuno ini bagi kita yang hidup di abad ke-21? Di tengah hiruk-pikuk media sosial, tuntutan karier, dan tekanan hidup modern, masihkah kita peduli dengan pertanyaan tentang "tempat paling mulia di sisi Allah"?
Justru di zaman yang serba cepat ini, syair ini menjadi pengingat yang berharga. Kita sering tergoda untuk mencari kebahagiaan di tempat yang salah—di puncak jabatan, di rekening bank, di jumlah likes, di pengakuan orang lain. Kita menjelajah dunia, menghabiskan waktu dan tenaga, tapi kita lupa bahwa yang paling kita butuhkan ada di dalam diri.
Seorang sufi besar, Syaikh Abu Yazid Al-Busthami, pernah ditanya, "Di manakah Allah?" Ia menjawab, "Allah tidak di langit dan tidak di bumi. Tapi ketahuilah, jika engkau mencari-Nya, engkau akan menemukan-Nya di dalam hatimu yang bersih." Ini bukan berarti kita tidak perlu lagi ke masjid, ke pesantren, ke majelis taklim.
Semua itu tetap penting sebagai sarana. Tapi jangan sampai sarana menjadi tujuan. Jangan sampai kita sibuk mencari tempat-tempat suci, tapi lupa menyucikan hati. Jangan sampai kita repot mengurus masjid, tapi lupa memakmurkan masjid batin.
Al-Kamasykhonawi dalam Jami'ul Ushul menceritakan tentang seorang wali yang setiap hari datang ke masjid, duduk di sudut, lalu berzikir dalam hati. Orang-orang bertanya, "Wahai wali Allah, mengapa engkau hanya duduk diam? Mengapa tidak ikut pengajian, tidak ikut wirid berjamaah?" Sang wali menjawab, "Aku sedang mengikuti pengajian yang paling utama: pengajian antara aku dan Tuhanku. Di sini, di dalam hatiku."
Cerita ini tentu tidak boleh disalahpahami sebagai dalil untuk meninggalkan jamaah. Ini hanya peringatan bahwa spiritualitas bukan sekadar ritual lahiriah, tapi juga penghayatan batiniah. Kita perlu keduanya: amal lahir dan amal batin. Syariat dan hakikat. Jadi, bagi siapa pun yang masih bertanya, "Di manakah tempat paling mulia itu?" Jawabannya ada di ujung perjalanan panjang penyucian diri, dan juga ada di kedalaman hati yang paling dekat. Ia jauh bagi mereka yang malang melintang dikejar nafsu. Ia dekat bagi mereka yang telah menata hati.
Dan pada akhirnya, bukan tempat itu yang penting. Yang penting adalah Allah sendiri, sumber dari segala kemuliaan, tujuan dari segala perjalanan, tempat bergantung segala yang ada. (red)
Editor : Redaksi