Oleh : Dr. Agus Andi Subroto
Baca juga: Wapres Dukung Pelatihan AI bagi UMKM, Indonesia Jadi Target Terbesar di ASEAN
Dosen Kewirausahaan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Pasuruan, JatimUPdate.id - Sebuah potongan gambar malam ini menyentak kesadaran saya. Foto itu adalah hasil crop dari video yang dikirim seorang kolega—ia maniak sekaligus melek AI. Visualnya tajam, hidup, hampir sulit dibedakan dari kenyataan. Teknologi hari ini bukan lagi sekadar alat bantu; ia telah menjelma menjadi mesin pencipta realitas.
Dan saya menulis ini di gerbong kereta, dalam perjalanan pulang dari kampus Pasuruan menuju rumah tercinta di Kota Pahlawan, Surabaya. Di antara deru rel yang konstan dan lampu-lampu kota yang berlari di balik jendela, satu pertanyaan mengemuka dengan jujur:
Jika AI mampu menciptakan, merangkum, bahkan menganalisis dalam hitungan detik, lalu apa yang masih bisa diajarkan dosen kewirausahaan?
Hari ini, pengetahuan tidak lagi dimonopoli ruang kelas. Mahasiswa dapat mengakses teori bisnis dari berbagai platform. Mereka bisa menyusun rencana usaha dengan bantuan AI. Mereka dapat membaca tren global tanpa harus menunggu penjelasan dosen pada pertemuan berikutnya.
Otoritas informasi telah bergeser. Dan itu fakta yang tidak perlu disangkal.
Namun kewirausahaan tidak pernah hanya soal informasi.
Ia adalah keberanian melangkah ketika kepastian tidak tersedia. AI dapat menghitung risiko, tetapi ia tidak memiliki nyali. AI mampu menyusun strategi, tetapi ia tidak merasakan getirnya kegagalan. AI dapat memberi alternatif keputusan, tetapi ia tidak memikul konsekuensi moral dari keputusan itu.
Di sinilah pendidikan kewirausahaan menemukan relevansi barunya.
Baca juga: Pendidikan Karakter di Era Kecerdasan Buatan
Dosen hari ini tidak lagi cukup menjadi penyampai teori. Ia harus menjadi pelatih mental. Ia harus menumbuhkan keberanian. Ia harus membangun karakter. Karena dalam dunia usaha, yang diuji bukan seberapa cepat seseorang mengakses data, melainkan seberapa kuat ia bertahan saat realitas tidak berjalan sesuai rencana.
Pantang menyerah tidak bisa diunduh.
Mental tahan banting tidak bisa di-generate.
Integritas tidak bisa di-copy paste.
Di era AI, justru karakter menjadi pembeda utama.
Peran dosen kewirausahaan bukan melawan teknologi, melainkan mengajarkan bagaimana memimpin teknologi. Mahasiswa perlu diajarkan cara memanfaatkan AI untuk riset pasar, validasi ide, dan percepatan inovasi. Tetapi pada saat yang sama, mereka harus memahami bahwa teknologi hanyalah kendaraan.
Arah tetap ditentukan oleh manusia.
Jika pengetahuan telah terbuka bagi siapa saja, maka ruang kelas harus menjadi ruang pembentukan jiwa. Tempat mahasiswa belajar mengambil risiko dengan tanggung jawab. Tempat mereka memahami bahwa keuntungan tanpa etika adalah kehampaan. Tempat mereka ditempa agar berani memulai, bukan sekadar pandai merencanakan.
Baca juga: Rakernas IV KEIND, Wamen Viva Yoga Undang Pengusaha Tanamkan Investasi di Kawasan Transmigrasi
Kereta terus melaju. Malam semakin dalam. Kota Surabaya semakin dekat. Di tengah perjalanan itu saya menyadari, tantangan dosen hari ini bukan lagi mempertahankan otoritas pengetahuan, melainkan menjaga nyala keberanian dalam diri mahasiswa.
Karena pada akhirnya, wirausaha bukan soal siapa yang paling tahu, tetapi siapa yang paling berani memulai dan siap berdiri ketika gagal menghampiri.
Di era ketika mesin bisa berpikir cepat, manusia tetap harus belajar menjadi kuat.
"Teknologi mempercepat langkah, tetapi karakter lah yang menentukan arah".
Saya menutup tulisan ini tepat ketika kereta melambat memasuki stasiun. Perjalanan malam ini selesai. Tetapi pekerjaan membangun jiwa-jiwa wirausaha muda masih panjang. Dan mungkin, justru di era AI inilah, tugas itu menjadi semakin mulia. (red)
Editor : Redaksi