Mudik Lebaran 2026, Pemudik Perlu Terapkan Prinsip K3 agar Perjalanan Aman dan Selamat.

Reporter : Yuris. T. Hidayat
Edi Priyanto (kiri) bersama koleganya saat berada di Forum Pemberdayaan.

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Arus mudik Lebaran selalu menghadirkan kebahagiaan sekaligus tantangan besar bagi keselamatan perjalanan.

Baca juga: Dari Kepatuhan Menuju Budaya, Saatnya K3 Menjadi DNA Organisasi

Jutaan masyarakat Indonesia diperkirakan kembali bergerak menuju kampung halaman pada Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026.

Di tengah tingginya mobilitas tersebut, risiko kecelakaan lalu lintas, kelelahan pengemudi, hingga gangguan kesehatan menjadi ancaman nyata yang perlu diantisipasi bersama.

Menyikapi hal tersebut, Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Provinsi (DK3P) Jawa Timur mengimbau masyarakat untuk menerapkan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) selama perjalanan mudik guna menekan potensi kecelakaan dan memastikan pemudik dapat tiba dengan selamat di kampung halaman.

Wakil Ketua DK3P Jawa Timur, Edi Priyanto, menegaskan bahwa mudik sejatinya merupakan aktivitas berisiko tinggi yang memerlukan perencanaan matang sebagaimana standar keselamatan di lingkungan kerja.

“Setiap tahun kita fokus menyiapkan barang bawaan dan rencana perjalanan, tetapi sering melupakan aspek keselamatan. Padahal esensi mudik bukan sekadar berangkat dan tiba cepat, melainkan pulang dengan selamat dan berkumpul kembali bersama keluarga,” ujarnya.

Risiko Mudik Didominasi Faktor Manusia

Menurut Edi, meningkatnya volume kendaraan selama periode Lebaran secara langsung meningkatkan potensi kecelakaan lalu lintas. Namun, sebagian besar insiden justru dipicu oleh faktor manusia (human factor), seperti kelelahan, kurang konsentrasi, emosi saat berkendara, hingga memaksakan perjalanan tanpa istirahat.

“Banyak pengemudi merasa mampu menyetir berjam-jam tanpa jeda. Padahal kelelahan dapat menurunkan kewaspadaan setara kondisi mengantuk berat. Inilah salah satu penyebab utama kecelakaan fatal saat mudik,” jelasnya.

Karena itu, masyarakat diimbau menerapkan prinsip dasar keselamatan perjalanan, yaitu pengemudi siap, kendaraan layak, dan perjalanan terencana.

Persiapan Sebelum Mudik Jadi Faktor Penentu

DK3P Jawa Timur menekankan pentingnya kesiapan fisik pengemudi sebelum perjalanan. Istirahat  sangat dianjurkan, serta menghindari berkendara dalam kondisi sakit, mengantuk, atau emosi tidak stabil. 

Perjalanan jarak jauh juga disarankan disertai jeda istirahat.
"Rest area bukan hanya tempat berhenti, tetapi bagian dari manajemen keselamatan perjalanan untuk menjaga fokus dan stamina pengemudi,” kata Edi.

Selain itu, pemeriksaan kendaraan sebelum berangkat menjadi langkah wajib, meliputi kondisi rem, ban, lampu, oli mesin, serta sistem pendingin kendaraan. Pemudik juga dianjurkan membawa perlengkapan darurat seperti kotak P3K, segitiga pengaman, dan alat pemadam api ringan.

“Keselamatan sering ditentukan oleh langkah sederhana yang dilakukan sebelum perjalanan dimulai,” tambahnya.

*Disiplin Berkendara Kunci Keselamatan Bersama*

Baca juga: Dewan K3 Jatim Luncurkan Kompetisi Nasional K3 2026

Selama perjalanan mudik, masyarakat diminta tetap disiplin berlalu lintas dengan menggunakan sabuk pengaman atau helm standar, menjaga batas kecepatan, mempertahankan jarak aman antar kendaraan, serta menghindari penggunaan telepon genggam saat mengemudi.

Edi menekankan bahwa jalan raya merupakan ruang publik yang membutuhkan kesadaran kolektif.

“Keselamatan bukan hanya tanggung jawab individu. Satu keputusan yang ceroboh dapat berdampak pada banyak orang. Empati di jalan adalah bagian penting dari budaya K3,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan agar pengemudi segera beristirahat apabila mulai merasakan kantuk atau kehilangan fokus.

Mudik kerap melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak dan lansia. Oleh karena itu, kapasitas kendaraan harus dipatuhi dan keselamatan penumpang menjadi prioritas.

Pemudik juga diimbau menjaga pola makan, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, serta membawa obat pribadi bagi yang memiliki riwayat penyakit seperti hipertensi atau diabetes.

“Kesehatan adalah bagian dari keselamatan. Tubuh yang lelah dan dehidrasi sangat memengaruhi kemampuan mengambil keputusan saat berkendara,” jelasnya.

Rumah Aman Saat Ditinggal Mudik

Baca juga: Kampung Edukasi Sampah Sidoarjo Jadi Rujukan Smart City Malaysia

Selain perjalanan, DK3P Jawa Timur mengingatkan masyarakat untuk memastikan keamanan rumah sebelum ditinggalkan, seperti mematikan instalasi listrik yang tidak diperlukan, memastikan kompor dan tabung gas aman, serta berkoordinasi dengan tetangga atau pengurus lingkungan.

Langkah sederhana ini dinilai mampu mencegah risiko kebakaran maupun gangguan keamanan selama masa libur Lebaran.

Edi juga mengajak masyarakat menjaga kebersihan selama perjalanan dengan tidak membuang sampah sembarangan di jalur mudik maupun rest area.

“Mudik bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga cerminan karakter masyarakat. Kita ingin perjalanan yang aman, tertib, dan berbudaya,” katanya.

Keselamatan Adalah Bagian dari Ibadah

Di akhir pesannya, DK3P Jawa Timur mengajak masyarakat menjadikan keselamatan sebagai bagian dari nilai ibadah selama momentum Idul Fitri.

“Lebaran adalah momen kembali kepada keluarga dan kemenangan setelah Ramadan. Jangan sampai perjalanan menuju kebahagiaan justru membawa duka. Kebahagiaan terbesar adalah tiba di rumah dan disambut keluarga dalam keadaan selamat,” tutupnya.

DK3P Jawa Timur berharap kolaborasi antara pemerintah, operator transportasi, komunitas, dan masyarakat dapat mewujudkan arus mudik Lebaran 2026 yang aman, sehat, tertib, serta minim kecelakaan. (ries/yh)

Editor : Miftahul Rachman

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru