Iran: Spiritual yang Mematerial

Reporter : Redaksi
Airlangga Pribadi, Ph.D.

 

Oleh : Airlangga Pribadi, Ph.D.

Baca juga: Titi Kala Mangsa

Dosen Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga Surabaya

 

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Apa kunci dari kekuatan pertahanan Iran menghadapi serangan brutal dari kaum imperialis sehingga mampu bertahan sedemikian lama?

Bagaimana perang yang diprediksi oleh Donald Trump hanya berkisar 3 hari, dibandingkan dengan penculikan Maduro yang 300 menit menjelma menjadi perlawanan keras, yang bahkan sampai mengancam ketahanan AS yang mengarah pada dipermalukannya AS dengan Zhionhist dalam ancaman kekalahan perang? 

Ada yang memberi pendapat kemenangan Iran tidak bisa dilepaskan dari kekuatan spiritual masyarakat Iran yang terbangun setelah Revolusi Iran dan teologi syahadah.

Point diatas penting dan tidak bisa diabaikan namun demikian saya kurang puas dengan penjelasan semata-mata spiritual. 

Jawabannya saya temukan ketika saya membaca karyanya Kevan Harris: A Social Revolution: Politics of Welfare In Iran.

Yang saya temukan adalah spiritual kesyahidan bertemu dengan perbaikan kondisi material.

Spiritualitas syahadah berjumpa dengan perubahan dan perbaikan konkret hajat hidup orang banyak.

Inilah yang membuat spiritualitas di Iran bukan spiritualitas omon-omon, tapi spiritualitas yang berjejak. 

Baca juga: Merdeka dalam Tauhid

Apa maksudnya, setelah menghadapi turbulensi sosial-politik semenjak era revolusi, dan menghadapi perang dan invasi dari Irak.

Bersamaan dengan blokade ekonomi, negara Iran mengelola desain Welfare negara yang menghubungkan teologi langit dan kenyataan historis-material.

Dibangunlah institusi-institusi publik distribusi seperti Khomeini relief foundation, Foundation of Martyrdom dan institusi-institusi sejenis untuk menaikkan kesejahteraan rakyat di wilayah rural, mengelola kesehatan dan pendidikan rakyat serta mengurus kehidupan para keluarga korban perang. Teologi langit berjejak pada keadaan di bumi manusia. 

Selanjutnya kalau kita membaca riwayat revolusi Iran, yang menggugat Imperialisme budaya, salah satu tema penting didalamnya adalah menarasikan emansipasi dalam konteks peran keperempuanan.

Kita akan melihat bagaimana intelektual Islam seperti Ali Syari’ati menulis karya berjudul Fatima is Fatima. Syaikh Murtadho Muthahari menulis dan memberi kuliah soal Hak Wanita dalam Islam. Mereka memberi kuliah materi-materi tersebut dalam kuliah di Husyainiyah Al-Irsyad. 

Kesadaran-kesadaran teologis-ideologis tadi tidak hilang bahkan mewujud menjadi kebijakan yang mematerial di Republik Islam Iran. Kita menyaksikan secara konkret dari narasi emansipasi menjadi kebijakan yang membebaskan.

Angka literasi perempuan di Iran sekarang sudah 99%, angka partisipasi perempuan di pendidikan Iran dalam keadilan gender menjadi mayoritas (70% mahasiswi adalah perempuan) dan capaian-capaian progresif lainnya. Iran berhasil memberikan alternatif tentang apa itu emansipasi perempuan.

Semua akan berproses dalam dinamika dan dialektika yang berlangsung dalam kenyataan di internal sosial-politik dinegerinya. 

Maknanya di Iran teologi kesyahidan bukanlah menjadi candu yang melenakan atau pelipur lara.

Teologi kesyahidan menjadi sumber-sumber kemajuan Iran yang akan diperjuangkan sekuat tenaga bahkan sampai pada nyawa dari rakyat Iran karena capaian-capaian konkretnya?

Saya jadi ingat orasi Bung Karno tentang kuliah Tauhid soal kita mempercayai Tuhan karena haqqul Yaqin! Itulah yang kita saksikan dari keberanian mental dan spiritual melawan agresi kaum fasis dan imperialis. Itulah energi mereka yang membuat mereka mampu bertahan dari kekuatan agresor dari kaum imperialis! 

Merdeka!

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Selasa, 10 Mar 2026 00:16 WIB
Rabu, 11 Mar 2026 04:01 WIB
Sabtu, 14 Mar 2026 04:31 WIB
Berita Terbaru