Titi Kala Mangsa
Oleh: Hadi Prasetyo
Baca Juga: Seni Berkhianat
Pemerhati Sosial, Budaya, Ekonomi dan Politik
Surabaya, JatimUPdate.id - Dalam khasanah agama, para Nabi adalah penerima wahyu ALLAH.
Dan Ulul Azmi adalah gelar istimewa yang diberikan ALLAH kepada Nabi dan Rasul pilihan yang memiliki ketabahan, kesabaran dan keteguhan hati yang luar biasa dalam menjalankan tugas dakwah, meskipun menghadapi tantangan, penolakan dan penderitaan yang sangat berat dari kaum mereka.
Sebagai manusia, Nabipun pernah mengeluh dalam pergumulan batin, apa lagi manusia umat biasa. Dalam pergumulan batin terkadang ada dialog-doa seperti ini:
“Bagaimana mungkin, ya TUHAN, Engkau membiarkan para penipu itu berkuasa? Mengapa Engkau diam saja ketika mereka menginjak-injak hukum dan keadilan? “
Keluhan yang ‘sama’ menjadi pergumulan dan doa rakyat biasa, yang berada di Indonesia saat ini. Rakyat menyaksikan parade kekuasaan yang telah mengubah republik ini menjadi panggung sandiwara politik dimana kebenaran menjadi barang langka dan keadilan hanya mimpi di siang bolong.
Keluhan yang Tak Terdengar
Seperti salah seorang Nabi yang berseru, "Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak minta tolong tidak Kaudengar? Aku berseru kepada-Mu: 'Penindasan!' tetapi Engkau tidak menolong?" — begitulah suara rakyat Indonesia yang ‘terpenjara’ dalam sistem yang dirancang untuk membungkam.
Sejak lebih dari satu dekade, kita menyaksikan bagaimana keluhan tentang kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan disambut dengan retorika indah dan janji manis yang tak kunjung jadi kenyataan.
Di negeri yang kaya raya ini, 26 juta orang masih hidup dalam kemiskinan, sementara 7,5 juta pengangguran terpaksa menerima nasib sebagai collateral damage dalam proyek ambisi kekuasaan.
Ketimpangan semakin melebar: segelintir elite menikmati kekayaan yang tak terbayangkan, sementara rakyat jelata berjuang sekadar untuk makan sehari-hari. Seperti yang dinubuatkan oleh salah satu Nabi "Orang yang sombong... ia seperti maut yang tidak pernah puas."
Manipulasi Konstitusi dan Dinasti Kekuasaan
Yang paling mengerikan dari semua ini bukan sekadar kemiskinan atau pengangguran, melainkan sistemiknya penindasan itu.
Konstitusi yang seharusnya menjadi pelindung rakyat, justru dimanipulasi untuk melayani kepentingan segelintir orang. Penafsiran UUD 1945 yang dilakukan terburu-buru oleh Mahkamah Konstitusi di akhir masa jabatan presiden tertentu lebih mirip kudeta konstitusional daripada proses deliberatif yang bermartabat.
Lalu lahirlah dinasti politik — suatu fenomena yang seharusnya asing di republik yang mengaku demokratis. Kekuasaan berpindah bukan melalui meritokrasi, tetapi melalui garis keturunan dan pertemanan.
Rakyat dipaksa menyaksikan bagaimana kursi kekuasaan diisi oleh mereka yang memiliki koneksi, bukan kompetensi. Para Nabi dengan tepat menggambarkan ini: "Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya."
Sandiwara Kebohongan yang Terinstitusionalisasi
Lebih dari satu dekade, kita telah menyaksikan bagaimana kebohongan tidak lagi sekadar tindakan individu, tetapi telah menjadi strategi institusional.
Data dimanipulasi, statistik dibengkokkan, dan realitas direkayasa untuk menciptakan narasi bahwa semuanya baik-baik saja. Sementara harga-harga melambung, upah stagnan, dan lapangan kerja menyusut, kita disuguhi cerita tentang pertumbuhan ekonomi yang gagah perkasa.
Baca Juga: Antara Kompromi dan Penjinakan 'Naga'
Korupsi — penyakit kronis bangsa ini — justru merajalela dalam berbagai bentuk baru. Tak lagi sekadar uang yang digelapkan, tetapi juga kebijakan yang dibajak untuk kepentingan pribadi dan kelompok.
Ketika rakyat mempertanyakan, mereka dihadapkan pada benteng birokrasi yang tak tertembus, atau lebih buruk lagi, dituduh sebagai pengganggu stabilitas nasional.
Doa dan Harapan di Tengah Keputusasaan
Seperti salah seorang Nabi yang berkata, "Aku mau berdiri di tempat pengintaianku," kita pun harus tetap waspada dan tidak menyerah pada keputusasaan. Dalam kegelapan, cahaya harapan justru sering kali paling terang. Rakyat Indonesia mulai bangun dari tidur panjangnya, menyadari bahwa kekuasaan sejati ada di tangan mereka.
Gerakan sosial bermunculan, meski sering kali dibungkam atau dicoba dikooptasi. Suara-suara kritis, meski dihadapkan pada risiko pembungkaman, terus bergema di ruang-ruang publik. Media alternatif lahir ketika media arus utama menjadi corong penguasa. Inilah yang diingatkan oleh salah seorang Nabi: "Orang yang benar akan hidup oleh percayanya."
TUHAN dan Kekuatan Rakyat
Salah seorang Nabi mengingatkan kita bahwa TUHAN tidak selalu bekerja melalui cara-cara ajaib atau intervensi langsung. Terkadang, Ia bekerja melalui kekuatan rakyat yang bangkit menuntut keadilan. Sejarah telah membuktikan bahwa rezim-rezim yang awalnya tampak tak tergoyahkan akhirnya tumbang oleh kekuatan rakyat yang telah mencapai titik jenuh.
Di Indonesia, kita mulai melihat tanda-tanda kebangkitan ini. Kesadaran politik rakyat semakin matang, meski dihadapkan pada mesin propaganda yang dahsyat.
Generasi muda mulai memahami bahwa masa depan mereka sedang digadaikan untuk kepentingan segelintir orang. Inilah yang dalam bahasa Kitab-kitab Suci disebut sebagai "roh yang menghidupkan" — semangat yang tidak bisa dipenjara oleh kekuatan apapun.
Sebuah Nubuat untuk Indonesia
Baca Juga: Seruan Ditengah Banjir Kebohongan
Dalam perspektif Kristen, salah seorang Nabi bernama Habakuk, dalam Habakuk 2:3 menubuatkan: "Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya, dan tidak akan menipu. Jika berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh."
Nubuat ini relevan untuk Indonesia masa kini. Perubahan mungkin terasa lambat, dan keadilan seolah berlambat-lambat, tetapi sejarah membuktikan bahwa setiap tirani akhirnya akan menemui ajalnya. Rakyat Indonesia perlahan tapi pasti sedang bangkit dari pembiusan panjang, menyadari bahwa mereka adalah pemilik sah negeri ini.
Rezim yang berkuasa dengan kebohongan dan manipulasi mungkin bisa bertahan sementara, tetapi fondasinya rapuh karena dibangun di atas pasir kepalsuan. Seperti menara Babel dalam kitab Kejadian, menara kebohongan yang terlalu tinggi akhirnya akan runtuh oleh beratnya sendiri.
Penutup: Menanti Fajar
Dalam kitab Habakuk, kita menemukan seorang nabi yang berani menghadap TUHAN dengan keluhan dan pertanyaan yang jujur. Ia tidak menerima begitu saja penderitaan umatnya, tetapi menuntut pertanggungjawaban ilahi.
Dalam konteks Indonesia, kita membutuhkan semangat Habakuk — keberanian untuk mempertanyakan, untuk tidak menerima narasi resmi yang dipaksakan, dan untuk percaya bahwa keadilan pada akhirnya akan ditegakkan.
Mungkin kita sedang berada dalam malam yang paling gelap sebelum fajar. Tapi seperti kata pepatah, malam selalu paling gelap tepat sebelum subuh.
Tangisan Nabi Habakuk pada sekitar 700 tahun sebelum Masehi, akhirnya dijawab oleh TUHAN dengan jaminan bahwa keadilan akan ditegakkan. Mungkin begitu pula dengan jeritan rakyat Indonesia — pada waktunya, pasti akan ada jawaban.
Dan jawaban itu mungkin tidak datang dari langit, tetapi dari kesadaran kolektif rakyat Indonesia yang bangkit dan berkata: "Cukup! Sudah cukup kami ditipu, sudah cukup kami dimanipulasi, sudah cukup kekayaan negeri kami dikeruk untuk segelintir orang."
Pada akhirnya, seperti yang diingatkan oleh para Nabi, "TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya seluruh bumi!" — pengingat bahwa semua kekuasaan manusia bersifat sementara, dan hanya keadilan yang kekal. (roy/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat