Mamuju, JatimUpdate.id – Perempuan itu bernama Ratna Najib, sesekali menggenggam erat pinggiran sarung yang basah oleh keringat.
Rasa sakit kontraksi hebat menusuk perutnya. Orok didalam rahimnya, seolah sudah tak betah hendak melihat dunia.
Menumpangi Jeep HardTop, Ratna diantarkan keluarga dan warga desa Kopeang, mencari tempat bersalin yang layak.
Namun, rasa sakit sudah tak tertahan lagi. Perlahan, Ratna turun dari Jeep HardTop, dan berselonjor dijalan, yang berupa tanah berlubang.
Ia tidak berada di ruang bersalin yang tidak steril.
Seraya menahan sakit, perempuan itu bersandar di bahu suaminya di tengah jalan berbatu Desa Kopeang, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Peristiwa dramatis itu terjadi pada Selasa (24/3/2026). Ratna terpaksa melahirkan di atas tanah keras, ditemani langit terbuka dan warga sekitar yang hanya membawa peralatan seadanya.
Warga menurunkan Ratna dari kendaraan hardtop yang terhenti total.
Perjalanan sejauh 21 kilometer menuju Puskesmas Tapalang kandas bukan karena kemacetan, melainkan jalanan ekstrem yang dipenuhi lubang raksasa.
Akses utama yang menghubungkan warga dengan fasilitas kesehatan itu kini menyerupai medan off-road yang tak bersahabat.
“Kami tidak punya pilihan. Kontraksi ibu ini sudah semakin kuat. Mobil hardtop yang kami tumpangi pun tidak sanggup melewati lubang. Kami harus berhenti,” ujar seorang warga yang ikut membantu proses persalinan.
Di tengah kondisi darurat, perempuan paruh baya itu melahirkan bayinya di ruang terbuka.
Warga bergotong royong membentuk lingkaran, melindungi Ratna dan bayinya dari debu serta terik matahari.
Meskipun dilahirkan dalam kondisi tidak ideal, bayi tersebut lahir dalam keadaan selamat. Ratna pun kini dalam masa pemulihan pasca persalinan yang penuh risiko.
Kejadian ini mengguncang warga Kecamatan Tapalang. Infrastruktur jalan yang rusak parah selama bertahun-tahun kini mengancam keselamatan jiwa.
Warga setempat menuntut pemerintah daerah untuk segera bertindak.
Mereka tidak ingin peristiwa serupa terulang atau bahkan berujung pada tragedi kematian karena hambatan akses kesehatan.
“Ibu dan bayi selamat kali ini. Bagaimana dengan yang lain? Kami tidak mau terus-terusan menjadi korban kelalaian infrastruktur. Jalan adalah urusan hidup dan mati bagi kami,” tegas seorang tokoh masyarakat setempat.
Peristiwa persalinan di jalan berbatu di Tapalang ini menyoroti kepedihan mendalam warga pedalaman Mamuju.
Di tengah upaya peningkatan layanan kesehatan, musuh terbesar warga ternyata masih berupa jalanan yang menghubungkan mereka dengan puskesmas.
Ratna selamat, tetapi cerita ini menjadi alarm keras bagi pemerintah: perbaiki jalan, selamatkan nyawa. (#)
Editor : Miftahul Rachman