Asmara Anak Digital dan Media Sosial yang Dibentuk oleh Angka

Reporter : Yuris. T. Hidayat
Nanang Hadi Hariyanto

Nanang Hadi Hariyanto 
Dosen Tadris Matematika Universitas Islam Cordoba Banyuwangi 

 

Baca juga: Pelajaran dari Iran dan Sebatang Rokok di Tepi Sungai

JatimUPdate.id - Matematika dengan melalui algoritma yang cerdas, bisa berperan sebagai penjaga digital yang menyeleksi konten, mengatur durasi layer, dan membimbing anak di bawah umur agar menjelajah media sosial dengan aman dan bermanfaat. 

Dunia media sosial bagi anak digital bisa terasa seperti kisah asmara: penuh warna, menarik, dan kadang membingungkan. Setiap klik, gulungan video, dan like yang mereka berikan menjadi bagian dari cerita itu. 

Mereka masuk ke dunia maya dengan rasa ingin tahu dan kegembiraan, seperti menapaki taman yang dipenuhi lampu warna-warni dan musik yang terus berdentum. Namun, di balik layar yang tampak ramah itu, ada “tangan tak terlihat” yang mengatur aliran perhatian mereka, yap itu adalah angka dan rumus matematika dalam bentuk algoritma. 

Algoritma ini membaca perilaku anak, durasi menonton, dan pola klik, lalu menyesuaikan konten yang muncul berikutnya. Dengan cara ini, matematika bisa menjadi pelindung yang bijak, menuntun anak ke konten yang aman dan edukatif, atau justru menjadi godaan yang menjerat, jika tidak diatur dengan hati-hati
Beberapa waktu terakhir, pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk membatasi akses media sosial bagi anak di bawah umur. 

Kebijakan ini muncul karena banyak anak yang “terjebak” dalam arus informasi yang deras, dari video viral hingga konten yang menimbulkan kecemasan atau perundungan siber.

 Jika kita melihat lebih jauh, yang memicu masalah ini bukan sekadar aplikasi itu sendiri, tetapi algoritma di baliknya yang memiliki susunan rumus matematika dalam menghitung dan menayangkan konten berdasarkan pola perilaku anak. Pembatasan ini ibarat pagar pelindung yang memberi ruang bagi anak untuk menikmati dunia digital tanpa terseret arus bahaya.

Bayangkan media sosial sebagai taman bermain digital yang selalu ramai. Ada tarikan suara, efek visual, dan sensasi yang terus diperbarui. Anak-anak masuk untuk bersenang-senang, tapi taman itu dibangun bukan untuk mendidik atau melindungi mereka, melainkan untuk menjaga mereka tetap berada di dalamnya. 

Algoritma membaca dan menghitung setiap gerakan, setiap klik, dan menyiapkan konten berikutnya agar mereka tetap “terikat” dengan layar. Anak yang belum matang dalam mengatur emosi bisa terjebak, menonton konten yang sensasional atau bahkan berbahaya, tanpa orang tua menyadarinya.

Baca juga: Praktek Ng-Vlog, ABG Dan Manula Membaur Seru

Penelitian oleh Nurfadilla dkk (2025) menunjukkan bahwa paparan konten yang tidak sesuai usia dapat memengaruhi perilaku dan perkembangan emosional anak, termasuk kecenderungan agresif atau tergantung pada konten negatif. Organisasi kesehatan anak juga menegaskan bahwa otak yang masih berkembang belum siap menghadapi arus informasi tanpa batas dari media sosial.

Itulah paradoksnya: kata “algoritma” terdengar rumit dan teknis, tapi kenyataannya ia seperti asisten tak terlihat dalam taman asmara digital anak. Ia menentukan cerita, ritme, dan arah pertumbuhan anak di dunia maya. 

Ia menghitung video viral, gulungan konten yang “tidak bisa berhenti ditonton”, dan memetakan emosi yang belum matang menjadi data untuk disajikan kembali. Tanpa disadari, angka-angka itu membentuk pola pikir anak, bukan sekadar hiburan semata.

Karena itu, pembatasan usia bukan sekadar “pagar” yang menahan anak di luar gerbang digital. Batasan saja tidak cukup, anak yang menggunakan akun orang dewasa atau trik lain tetap bisa terpapar konten berbahaya.

Dibutuhkan pengaturan algoritma yang lebih cerdas, yang tidak hanya menghitung klik, tapi juga menghitung manfaat bagi anak. Algoritma bisa diarahkan untuk memprioritaskan konten edukatif, membatasi konten kekerasan, dan mengatur durasi menonton. 

Baca juga: Dari Idealisme ke Pramagtisme, Krisis Moral Media

Dengan demikian, matematika yang biasanya dingin dan logis, dapat menjadi pelindung anak digital, bukan penjaga yang menjerat mereka. 

Lebih dari itu, anak dan orang tua perlu dibekali literasi digital. Mereka harus memahami bahwa layar yang terlihat ramah bukan sepenuhnya bebas. Di balik hijau tombol play atau merah tanda notifikasi, ada hitungan terus-menerus yang memetakan emosi, kebiasaan, dan kelemahan anak. Dalam hasil penelitian oleh Ranjana Dias (2023), anak dan orang tua seharusnya bisa lebih memahami dan bijak menavigasi taman asmara digital ini dalam memilih konten, dan mengatur waktu agar hubungan dengan dunia maya tetap sehat.

Pada akhirnya, hubungan anak dengan media sosial bukan sekadar hiburan atau kebiasaan. Ia adalah asmara yang dibentuk oleh angka, yang bisa menjadi pelindung sekaligus tantangan dan tergantung bagaimana kita mengarahkannya. 

Dengan pembatasan usia, algoritma yang bijak, dan literasi digital, angka dan rumus yang biasanya dingin bisa berubah menjadi teman setia, menuntun anak digital menjelajahi dunia maya dengan aman, sehat, dan penuh rasa ingin tahu. (*)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Senin, 30 Mar 2026 03:14 WIB
Jumat, 03 Apr 2026 12:29 WIB
Berita Terbaru