Oleh : Tri Prakoso
Baca juga: Ramadhan dan Luka Umat: Di Mana Rasa Satu Tubuh Itu?
Alumnus Universitas Jember
Surabaya, JatimUPdate.id -
Di zaman ketika manusia sibuk memoles citra, mengatur masa depan, dan mempertahankan dirinya dengan segala cara, tasawuf justru datang membawa kabar yang nyaris terasa kejam: yang pertama-tama harus kau lepaskan bukan duniamu, melainkan dirimu sendiri.
βΈ»
Ada nasihat spiritual yang terdengar lembut, nyaris seperti bisikan ibu kepada anak yang sedang gelisah.
Kalimatnya tidak rumit. Tidak memakai istilah filsafat. Tidak mengutip perdebatan panjang para mutakallim.
Ia hanya berkata: sebutlah nama Allah dalam kesendirianmu, ikuti desah nafasmu dengan menyebut nama Allah, biarkan semua terjadi atas kehendak-Nya, jangan takut, jangan pertanyakan, tenanglah, bersabarlah, bersyukurlah.
Lalu, pada bagian yang lebih dalam dan lebih berbahaya, ia berkata: ketika keinginanmu menjadi keinginan Tuhanmu, ketika rencanamu menjadi rencana Tuhanmu, ucapkan sifat-sifat Tuhan dalam hatimu, pikiranmu, dan badanmu, agar terbentuk sifat-sifat Rasul dalam dirimu.
Dan kemudian ia menutup dengan semacam gerbang metafisik: ketika ketiadaan yang ada bertemu dengan keadaan yang ada, di situlah ada kehidupan yang mengiringi kehidupan nyata. Jika engkau sanggup melakukannya dengan benar, engkau akan mengikuti jejak Rasulmu.
Bagi orang yang sedang letih, kata-kata seperti itu mungkin terasa seperti obat penenang. Bagi orang yang sedang patah, ia terdengar seperti penghiburan.
Tetapi bagi tasawuf, syair semacam itu bukan penghiburan biasa. Ia adalah kabar buruk untuk ego. Ia adalah panggilan untuk masuk ke jalan yang tidak sedang berusaha membuat manusia merasa penting, kuat, hebat, atau menang.
Ia justru sedang menuntun manusia menuju pengalaman yang paling tidak disukai oleh dirinya sendiri: pengalaman dipreteli dari pusat semunya, dipisahkan dari klaim-klaim palsu, lalu dipaksa berhadapan dengan satu kenyataan yang paling sederhana sekaligus paling mengerikan—bahwa ia selama ini terlalu penuh oleh dirinya sendiri.
Di situlah tasawuf berbeda dari banyak spiritualitas populer. Banyak orang datang kepada agama untuk mencari perlindungan psikologis.
Mereka ingin tenang. Mereka ingin hidupnya tidak terlalu cemas. Mereka ingin ada sesuatu yang menenangkan saraf, sesuatu yang membuat malam mereka lebih mudah dilewati.
Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi tasawuf tidak berhenti di situ. Tasawuf tidak sekadar ingin menenangkan manusia. Ia ingin membongkar manusia. Ia ingin menyelamatkan ruh dengan menghancurkan ilusi pusat diri.
Dan itu berarti tasawuf, pada titik tertentu, tidak lagi terasa manis. Ia terasa gelap. Ia terasa seperti kehilangan. Ia terasa seperti dibawa masuk ke sebuah lorong di mana yang satu demi satu dipadamkan bukan lampu dunia, melainkan lampu-lampu kebanggaan diri.
Karena itu kalimat pertama syair tersebut penting sekali: “Sebutlah nama Allah di dalam kesendirianmu.” Bukan di depan orang banyak. Bukan di mimbar. Bukan di panggung kesalehan. Bukan di ruang di mana manusia mudah memerankan dirinya sebagai orang saleh, orang khusyuk, orang lembut, orang bercahaya.
Syair itu memerintahkan kesendirian karena justru di situlah topeng mulai gugur. Di hadapan publik, manusia masih bisa memainkan peran.
Ia bisa tampak sabar, tampak tunduk, tampak jernih, tampak seolah telah berdamai dengan dirinya dan Tuhannya. Tetapi dalam kesendirian, seluruh dekorasi itu dipaksa runtuh.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada tatapan kagum. Tidak ada pujian. Yang ada hanya dirimu sendiri—dan sering kali, itu sudah cukup untuk membuat manusia ketakutan.
Kesendirian adalah tempat paling jujur. Di sanalah orang mulai tahu apakah dzikirnya sungguh mencari Allah, atau sekadar mencari rasa nyaman. Di sanalah orang mulai tahu apakah doanya benar-benar ibadah, atau hanya negosiasi halus dengan Tuhan untuk melindungi egonya.
Di sanalah orang menyadari bahwa batinnya tidak sehening yang ia kira. Bahwa di dalam dirinya ada pasar yang riuh: ada ambisi yang terus menuntut, ada luka yang terus menjerit, ada ketakutan yang tak mau mengaku kalah, ada keinginan untuk dipandang baik, ada hasrat untuk tetap menjadi pusat, ada kesalehan yang diam-diam ingin dilihat.
Maka ketika nama Allah diminta disebut dalam kesendirian, sesungguhnya manusia sedang diajak memasuki ruang operasi. Nama itu bukan dekorasi rohani. Ia adalah pisau.
Lalu syair itu berkata: “Ikutilah desah nafasmu dengan menyebut nama Allah.” Ini bahkan lebih dalam. Sebab nafas adalah sesuatu yang paling dekat, paling sederhana, dan paling sering dilupakan.
Kita hidup darinya, tetapi jarang sungguh menyadarinya. Ia datang tanpa kita undang, pergi tanpa kita kuasai. Kita membicarakan masa depan, seolah-olah hari esok berada di tangan kita, padahal seluruh keberanian itu berdiri di atas sesuatu yang begitu rapuh: satu tarikan nafas yang belum tentu datang lagi. Itulah sebabnya tasawuf menaruh perhatian besar pada nafas.
Bukan demi teknik semata, melainkan karena nafas adalah pelajaran paling telanjang tentang kehinaan ontologis manusia. Satu nafas saja dicabut, tamatlah seluruh kisah tentang “rencanaku”, “masa depanku”, “pengaruhku”, “kekuatanku”, “mimpiku”.
Mengikat dzikir kepada nafas berarti mengikat kesadaran kepada sumber kehidupan itu sendiri. Setiap tarikan menjadi pengakuan bahwa aku sedang dihidupkan.
Setiap hembusan menjadi pengakuan bahwa aku tidak memiliki diriku sendiri. Ini bukan sekadar latihan konsentrasi; ini penghancuran mendasar terhadap rasa memiliki yang berlebihan.
Sebab manusia modern hidup dalam mabuk kepemilikan. Ia merasa tubuhnya miliknya, hidupnya miliknya, waktunya miliknya, bahkan sering kali mengira masa depan adalah proyek pribadi yang dapat ia bentuk sesukanya.
Dzikir nafas datang untuk menampar semua itu. Ia berkata: lihatlah baik-baik, bahkan udara yang keluar-masuk paru-parumu bukan hasil kekuasaanmu. Lalu atas dasar apa engkau berdiri dengan begitu pongah di hadapan takdir?
Setelah itu, syair memasuki wilayah yang paling dibenci ego: “Biarkan semua terjadi atas kehendak-Nya, janganlah engkau takut dan jangan engkau pertanyakan.”
Kalimat seperti ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya ia menghantam salah satu berhala terbesar manusia modern: ilusi kontrol. Kita hidup di zaman yang memuja pengaturan.
Semua harus direncanakan, dipetakan, dihitung, diukur, diamankan. Bahkan agama pun sering kali diubah menjadi instrumen kontrol. Orang berdoa bukan semata karena ia hamba, tetapi agar hasil tertentu datang.
Orang bersedekah agar takdir patuh. Orang beribadah agar hidup berjalan sesuai skenario. Di situ Allah tidak lagi diposisikan sebagai Tuhan yang disembah, melainkan semacam jaminan metafisik untuk proyek ego.
Tasawuf menolak itu. Kalimat “biarkan semua terjadi atas kehendak-Nya” bukan ajakan menjadi lemah dan malas. Ia bukan pembenaran untuk menyerah sebelum berusaha. Yang ditolak bukan ikhtiar, melainkan penyembahan tersembunyi kepada hasil. Yang dihancurkan adalah keyakinan bahwa keselamatan ada pada kemampuan diri untuk mengatur segala hal.
Sebab itulah sumber ketakutan yang paling dalam. Manusia takut bukan semata karena hidup keras, tetapi karena ia tak tahan menyadari bahwa ia bukan penguasa atas hidupnya sendiri. Ia takut kehilangan, takut gagal, takut ditinggalkan, takut jatuh, takut masa depan berantakan—karena diam-diam ia ingin tetap duduk di singgasana pengendali. Maka ketika tasawuf berkata “jangan takut”, sesungguhnya ia sedang berkata: berhentilah berpura-pura menjadi Tuhan.
Dan “jangan engkau pertanyakan” juga bukan anti-akal. Ini bukan larangan berpikir. Yang disasar justru lebih halus: kesombongan akal yang ingin menjadikan dirinya hakim atas seluruh kehendak Allah.
Ada pertanyaan yang lahir dari kerendahan hati, dan itu adalah jalan ilmu. Tetapi ada juga pertanyaan yang lahir dari pemberontakan halus: mengapa bukan seperti yang kuinginkan? mengapa takdir tidak mengikuti logikaku? mengapa hidup tidak tunduk pada desainku? Di sini tasawuf kembali keras. Tidak semua hal harus dipahami untuk bisa diterima. Tidak semua kehendak Allah harus dijelaskan menurut kepuasan ego. Kadang justru di titik ketika penjelasan berhenti, adab dimulai.
Baca juga: Hendri Sepriyadi Dorong Ekonomi Syariah, Imbau Umat Islam Jaga kerukunan
Lalu syair bergerak ke nada yang tampak lebih tenang: “Temukan ketenanganmu, sebarkan rasa kesabaranmu dan bersyukurlah dirimu di dalam keheninganmu.” Tapi dalam tasawuf, ketenangan bukan hadiah untuk ego; ia buah dari kekalahannya. Sabar bukan sekadar menahan diri agar tidak meledak.
Sabar adalah tidak mendudukkan Allah di kursi terdakwa hanya karena hidup melukai dirimu. Syukur bukan sekadar ucapan “alhamdulillah” ketika semuanya menyenangkan. Syukur adalah kemampuan melihat Allah tetap bekerja bahkan ketika kenyataan tidak sesuai dengan selera ego.
Dengan kata lain, sabar dan syukur adalah dua disiplin ruhani untuk memindahkan pusat penilaian dari “apa yang aku mau” menjadi “apa yang Allah kehendaki.”
Ketenangan sejati lahir ketika perang batin itu berhenti. Selama ego masih merasa berhak menghakimi realitas berdasarkan untung-ruginya sendiri, hati akan terus gaduh.
Ia akan memprotes takdir, menawar kenyataan, mengeluh terhadap kehilangan, dan menolak apa pun yang tidak cocok dengan rencananya. Tetapi ketika manusia mulai menerima bahwa yang sedang ia jalani bukan semata narasi pribadinya, melainkan medan kehambaan, di situlah ketenangan muncul.
Bukan karena hidup mendadak mudah. Bukan karena masalah hilang. Bukan karena semua luka sembuh. Melainkan karena hati berhenti menuduh Allah sebagai lawan.
Lalu datang bagian paling berbahaya dari syair itu: “Tatkala engkau sudah menemukan keinginanmu adalah keinginan Tuhanmu. Tatkala engkau sudah menemukan rencanamu adalah rencana Tuhanmu…” Banyak orang tersandung di sini. Sebab kalimat ini sangat mudah disalahgunakan. Ia bisa dipakai untuk membungkus nafsu dengan aroma langit.
Orang bisa berkata bahwa apa yang ia mau adalah ilham, bahwa dorongan dirinya adalah petunjuk, bahwa rencananya adalah kehendak Tuhan. Di sinilah tasawuf klasik sangat keras dan sangat hati-hati.
Para sufi tahu betapa licinnya ego. Nafas dapat memakai baju agama. Ia bisa berbicara dengan bahasa cahaya, padahal isinya tetap hasrat lama: ingin berkuasa, ingin dibenarkan, ingin dipandang istimewa.
Karena itu kalimat itu tidak boleh dibaca sebagai pengangkatan kehendak manusia menjadi setara dengan kehendak Tuhan. Bukan itu maksudnya. Yang benar justru sebaliknya: kehendak manusialah yang harus dibakar, dilebur, ditundukkan, dibersihkan, sampai ia tidak lagi menuntut sesuatu di luar keridhaan Allah.
Ini yang oleh tasawuf disebut sebagai lebur kehendak, fana al-iradah. Jadi bukan “Tuhan pasti menginginkan apa yang kuinginkan”, melainkan “aku tidak lagi menginginkan kecuali apa yang Dia ridai”. Bedanya tipis di telinga, tetapi mutlak di langit.
Dan jalan ke sana bukan jalan singkat. Ia tidak dicapai dengan satu malam dzikir atau sejenak rasa haru. Ia menuntut mujahadah, pengawasan diri, disiplin terhadap hawa nafsu, kejujuran brutal terhadap motif-motif tersembunyi, serta keberanian untuk melihat bahwa bahkan dalam ibadah pun ego bisa menyelinap.
Orang yang sungguh berjalan justru makin takut mengklaim dirinya dekat dengan Tuhan. Ia tidak mudah menyebut pengalaman batin sebagai tanda maqam. Ia lebih sering curiga pada dirinya sendiri daripada membangga-banggakan rasa spiritualnya. Sebab salah satu tanda ruhani yang matang justru ialah mengecilnya kebutuhan untuk mengumumkan kedekatan.
Pada titik ini, syair menghubungkan tasawuf dengan teologi: “Maka ucapkan 20 sifat Tuhanmu di dalam hatimu, pikiranmu dan badanmu…” Ini penting. Sebab pengalaman ruhani tanpa fondasi tauhid bisa berubah menjadi kabut. Orang bisa mabuk perasaan, terpesona oleh sensasi, lalu tersesat dalam klaim-klaim halus.
Dengan menyebut sifat-sifat Allah, syair ini sedang mengembalikan tasawuf ke akarnya: ma’rifat kepada Tuhan yang benar. Allah ada, terdahulu, kekal, berbeda dari makhluk, berdiri sendiri, berkuasa, berkehendak, mengetahui, hidup, mendengar, melihat, berfirman.
Jika sifat-sifat itu sungguh masuk ke hati, pikiran, dan badan, maka seharusnya banyak penyakit batin luruh dengan sendirinya. Mengapa masih pongah, jika Allah saja yang sungguh berdiri sendiri? Mengapa masih marah ketika rencana patah, jika Allah Maha Berkehendak? Mengapa masih gelisah seperti semesta buta, jika Allah Maha Mengetahui?
Di sini syair menunjukkan bahwa tauhid bukan hafalan. Ia adalah martil untuk menghancurkan ilusi diri. Dan karena itu wajar jika ia lalu berkata: “Semoga terbentuk di dalam dirimu 4 sifat wajib bagi Rasul.” Siddiq, amanah, tabligh, fathanah.
Ini titik uji. Sebab tasawuf yang benar tidak berhenti pada rasa tenang atau pengalaman mistik. Ia harus berbuah pada akhlak. Kalau dzikirmu membuatmu merasa istimewa tetapi tidak membuatmu jujur, berarti kau masih berkutat dengan dirimu sendiri.
Kalau wiridmu banyak tetapi amanahmu buruk, maka masalahmu bukan kekurangan ritual, melainkan kebekuan hati. Kalau kau pandai berbicara tentang rahasia ruhani tetapi lidahmu masih melukai, maka yang tumbuh bukan ma’rifat, melainkan kebanggaan spiritual.
Maka jejak Rasul dalam syair ini bukan soal penampilan lahir semata. Ia adalah struktur batin: kejujuran yang total, amanah yang bersih, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kebijaksanaan yang jernih. Mengikuti Rasul dalam tasawuf berarti menapaki kehambaan beliau, bukan sekadar mengagumi kemuliaannya. Rasul tidak agung karena ego beliau besar, melainkan karena kehambaan beliau sempurna.
Baca juga: Gubernur Khofifah Tekankan Pentingnya Al Quran Sebagai Referensi Akhlak Umat Islam
Di titik inilah banyak orang religius modern tersandung: mereka ingin kemuliaan agama tanpa kehancuran ego. Mereka ingin cahaya, tetapi tidak mau dibakar. Mereka ingin disebut meneladani Nabi, tetapi enggan menanggung proses sunyi yang membuat diri tak lagi menjadi pusat.
Lalu syair memasuki wilayah yang paling pekat: “Ketika ketiadaan yang ada bertemu dengan keadaan yang ada…” Ini kalimat metafisik. Gelap, dalam, dan jika direnungkan sungguh-sungguh, dapat mengguncang seluruh rasa identitas manusia. “Ketiadaan yang ada” dapat dibaca sebagai manusia itu sendiri: tampak ada, berjalan, berbicara, berkehendak, membangun sejarah, tetapi sebenarnya tidak memiliki wujud mandiri. Ia ada secara pinjaman. Ia bergantung total. Ia tidak punya eksistensi otonom.
Sementara “keadaan yang ada” menunjuk pada Wujud yang sejati—Allah, yang adanya tidak dipinjam dari siapa pun, yang wujud-Nya mutlak, yang tidak bertumpu pada selain-Nya.
Apa yang terjadi ketika keduanya bertemu? Yang terjadi adalah runtuhnya rasa pusat diri. Manusia sadar bahwa seluruh hidupnya hanyalah limpahan. Bahwa “aku” yang selama ini dibela mati-matian itu bukan benteng kokoh, melainkan bayangan.
Bahwa seluruh narasi tentang prestasi, penderitaan, kehormatan, nama baik, posisi, pengaruh, bahkan kesalehan, berdiri di atas sesuatu yang sewaktu-waktu bisa pupus. Ini bukan nihilisme. Justru ini pembebasan.
Karena begitu manusia sadar bahwa dirinya tidak pernah sungguh memiliki dirinya, ia mulai lepas dari beban untuk terus mempertahankan citra dan klaim. Ia mulai hidup lebih jujur. Lebih ringan. Lebih kecil di hadapan Allah, dan karena itu lebih lapang di hadapan dunia.
Tetapi jalan menuju ke sana tidak romantis. Ia tidak selalu terasa indah. Ia sering gelap. Ia menuntut kematian demi kematian. Mati dari pujian. Mati dari kebutuhan untuk dibenarkan. Mati dari ambisi untuk menang. Mati dari keinginan tampil sebagai yang paling paham. Mati dari kesenangan menjadi pusat perhatian. Mati dari rasa memiliki yang berlebihan atas hidup. Dan inilah yang membuat tasawuf sejati jarang benar-benar diminati. Banyak orang menyukai aroma tasawuf: bahasanya yang lembut, citranya yang teduh, suasananya yang hening. Tetapi sedikit yang sungguh siap untuk menjalani amputasi batin yang dituntutnya.
Karena itu penutup syair itu sangat tepat: “Kalau engkau bisa melakukannya dengan benar, niscaya engkau bisa mengikuti jejak Rasulmu.”
Kata kuncinya: dengan benar. Bukan sekadar dengan rasa. Bukan sekadar dengan simbol. Bukan sekadar dengan romantisme kesalehan.
Dengan benar berarti dengan disiplin, dengan adab, dengan tauhid yang lurus, dengan kesediaan dibongkar, dan dengan keberanian memeriksa diri tanpa henti. Jalan ini bukan jalan untuk merasa cepat sampai.
Justru salah satu tanda bahwa seseorang mulai sungguh berjalan ialah ia makin sadar betapa banyak kepalsuan dalam dirinya yang belum mati.
Pada akhirnya, syair ini tidak sedang mengajarkan cara menjadi manusia yang lebih sukses secara spiritual. Ia tidak sedang menawarkan paket ketenangan cepat. Ia sedang mengundang manusia ke sesuatu yang lebih berat dan lebih jujur: penghabisan diri palsu.
Sebut Allah dalam kesendirianmu—agar topengmu rontok. Ikuti nafasmu—agar kau tahu hidupmu hanyalah pinjaman. Biarkan kehendak-Nya berlaku—agar singgasana egomu runtuh.
Bersabar dan bersyukurlah dalam keheningan—agar kau berhenti menuduh Tuhan dari balik lukamu. Sebut sifat-sifat-Nya—agar kau tahu kau bukan pusat, bukan sumber, bukan pengatur.
Teladani Rasul—agar kedekatan kepada Allah tidak berubah menjadi panggung kesalehan. Masuklah ke wilayah ketiadaanmu—agar kau mengerti bahwa hanya Dia yang sungguh-sungguh Ada.
Mungkin itulah inti paling telanjang dari tasawuf: bukan bagaimana engkau memiliki Tuhan di dalam pengalamanmu, tetapi bagaimana engkau akhirnya kehilangan dirimu di hadapan-Nya.
Dan mungkin, justru di situlah untuk pertama kali hidup benar-benar dimulai. Bukan ketika semua masalah selesai. Bukan ketika semua pertanyaan terjawab. Bukan ketika semua luka tertutup. Tetapi ketika “aku” mulai retak, dan dari celah-celah retakan itu, nama Allah tidak lagi hanya berputar di bibir, melainkan turun menjadi cahaya.
Sebab problem terbesar manusia, barangkali, bukan bahwa ia jauh dari Tuhan. Problem terbesarnya adalah ia terlalu sesak oleh dirinya sendiri. Terlalu penuh oleh keinginannya, ketakutannya, citranya, prestasinya, lukanya, dan klaim-klaim halusnya atas hidup.
Selama ruangan batin itu masih dijejali “aku”, Allah hanya akan singgah sebagai tamu. Tidak akan menetap sebagai Raja.
Tasawuf datang membawa kabar yang bagi ego terdengar seperti ancaman, tetapi bagi ruh adalah keselamatan: ketika Allah datang, “aku” harus pergi. Dan hanya setelah yang palsu itu keluar, yang sejati akhirnya punya ruang untuk hidup. (red)
Editor : Redaksi