Oleh : Ponirin Mika
Baca juga: Temuan Kasus Perundungan, Komisi D DPRD Surabaya Evaluasi Implementasi Perlindungan Anak
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo, Jurnalis JatimUPdate.id
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id - Fenomena normalisasi kesalahan adalah salah satu tantangan moral terbesar di era modern ini. Ketika sebuah perilaku menyimpang dilakukan secara berulang oleh mayoritas orang dalam suatu kelompok, nilai etika dari perbuatan tersebut perlahan memudar.
Hal yang awalnya dianggap tabu atau berdosa, lambat laun bergeser menjadi sesuatu yang dianggap lumrah, biasa, dan bahkan menjadi bumbu penyedap dalam interaksi sosial sehari-hari.
Salah satu bentuk kesalahan yang paling sering dinormalisasi adalah ghibah atau membicarakan keburukan orang lain. Dalam kelompok-kelompok kecil, baik itu di kantor, lingkaran pertemanan, maupun keluarga, ghibah sering kali menjadi "perekat" sosial yang tidak sehat.
Tanpa disadari, kita merasa lebih dekat dengan seseorang saat memiliki musuh atau objek pembicaraan yang sama, meskipun itu dilakukan dengan cara menjatuhkan kehormatan orang lain.
Ghibah secara bahasa berarti membicarakan sesuatu yang ada pada diri saudara kita, yang mana jika ia mendengarnya, ia tidak menyukainya.
Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras mengenai hal ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau bersabda:
"Tahukah kalian apa itu ghibah?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Engkau menceritakan tentang saudaramu sesuatu yang tidak ia sukai." Ada yang bertanya, "Bagaimana menurutmu jika apa yang aku katakan itu memang benar ada pada saudaraku?" Beliau menjawab, "Jika apa yang kamu katakan itu benar, maka kamu telah melakukan ghibah, dan jika tidak benar, maka kamu telah memfitnahnya (buhtan)." (HR. Muslim).
Normalisasi ghibah sering kali bersembunyi di balik dalih "sekadar sharing" atau "mengeluarkan uneg-uneg". Kita sering membenarkan tindakan tersebut dengan alasan bahwa apa yang dibicarakan adalah fakta.
Padahal, hadits di atas dengan jelas membedakan antara ghibah dan fitnah. Benar atau tidaknya sebuah fakta bukan menjadi pembenaran untuk menyebarkannya, terutama jika tujuannya adalah untuk merendahkan martabat orang yang dibicarakan.
Dampak dari normalisasi ghibah ini sangat merusak struktur kepercayaan dalam sebuah komunitas. Ketika seseorang terbiasa membicarakan orang lain di depan kita, besar kemungkinan ia juga akan membicarakan kita saat kita tidak ada di tempat.
Hal ini menciptakan lingkungan yang penuh dengan kecurigaan dan kepura-puraan, di mana setiap orang merasa harus waspada terhadap kata-kata yang keluar dari mulut teman sejawatnya.
Secara psikologis, ghibah memberikan kepuasan semu berupa perasaan "lebih baik" dari objek yang dibicarakan.
Dengan menyoroti kekurangan orang lain, seseorang secara tidak langsung mencoba menutupi rasa rendah diri atau kegagalannya sendiri. Ini adalah mekanisme pertahanan diri yang destruktif karena membangun kepercayaan diri di atas puing-puing kehormatan orang lain.
Islam memandang ghibah bukan sekadar kesalahan lisan biasa, melainkan dosa besar yang diumpamakan dengan analogi yang sangat menjijikkan. Dalam Al-Qur'an, orang yang berghibah diibaratkan seperti orang yang memakan daging saudaranya sendiri yang telah mati.
Analogi ini seharusnya cukup untuk membuat siapa pun merasa mual dan enggan untuk melakukannya, namun kekuatan normalisasi sering kali mengalahkan rasa takut akan dosa tersebut.
Baca juga: Cegah Bullying Ajeng Dorong Sekolah di Surabaya Bentuk Agen Persahabatan
Bahaya lain dari ghibah yang dianggap biasa adalah hilangnya keberkahan dalam majelis atau perkumpulan.
Pertemuan yang seharusnya diisi dengan hal-hal produktif, ide kreatif, atau saling menyemangati, justru berubah menjadi kubangan dosa yang menggerus pahala amal kebaikan pelakunya.
Amal ibadah yang dikumpulkan dengan susah payah bisa lenyap seketika karena ditransfer kepada orang yang dizalimi melalui lisan kita.
Sangat penting bagi kita untuk berani menjadi "pembeda" dalam sebuah kelompok yang sedang menormalisasi kesalahan.
Memang tidak mudah untuk menegur atau mengalihkan pembicaraan saat suasana ghibah sedang memanas. Ada ketakutan akan dianggap sok suci atau dikucilkan dari pergaulan.
Namun, membiarkan kesalahan terjadi di depan mata tanpa ada upaya untuk mengubahnya adalah bentuk persetujuan diam-diam terhadap dosa tersebut.
Strategi terbaik untuk memutus rantai ghibah adalah dengan menerapkan prinsip "bicarakan ide, bukan orang". Manusia yang memiliki visi besar akan disibukkan dengan gagasan-gagasan untuk masa depan, sedangkan manusia yang berjiwa kerdil akan menghabiskan waktunya untuk menguliti kehidupan orang lain.
Mengalihkan topik pembicaraan ke arah yang lebih bermanfaat adalah cara elegan untuk menolak ghibah tanpa harus menyinggung perasaan teman.
Kita perlu melatih empati. Sebelum membuka mulut untuk membicarakan kekurangan seseorang, bayangkan jika posisi tersebut dibalik.
Baca juga: Mahasiswa Unitri Edukasi Siswa SDN 1 Banturejo Hidup Sehat dan Anti-Bullying
Bagaimana perasaan kita jika rahasia atau keburukan kita menjadi konsumsi publik dan bahan tertawaan? Menempatkan diri pada posisi orang lain adalah rem paling pakem untuk menahan lisan dari perbuatan ghibah.
Normalisasi kesalahan ghibah juga dipicu oleh media sosial. Saat ini, ghibah tidak lagi terbatas pada kelompok kecil secara fisik, tetapi meluas melalui kolom komentar dan akun-akun gosip.
Budaya cyber-bullying sering kali berawal dari ghibah yang dianggap biasa, yang kemudian meledak menjadi bola salju kebencian yang sulit dikendalikan.
Kita harus menyadari bahwa lisan adalah salah satu anggota tubuh yang paling sulit dikendalikan namun paling besar dampaknya bagi keselamatan di akhirat.
Rasulullah SAW menjamin surga bagi siapa saja yang mampu menjaga apa yang ada di antara kedua rahangnya (lidah) dan di antara kedua kakinya (kemaluan). Ini menunjukkan betapa krusialnya menjaga ucapan dalam kehidupan seorang Muslim.
Langkah konkret untuk berhenti menormalisasi ghibah dimulai dari diri sendiri. Jika kita terjebak dalam lingkaran pembicaraan yang negatif, kita memiliki tiga pilihan: mengingatkan dengan baik, mengalihkan pembicaraan, atau meninggalkan tempat tersebut.
Konsistensi dalam menjaga lisan akan membentuk karakter yang disegani, karena orang akan tahu bahwa kita adalah pribadi yang amanah dan tidak suka menjatuhkan orang lain.
Ikhtitam, marilah kita ingat bahwa setiap kata yang terucap akan dimintai pertanggungjawabannya. Jangan biarkan kebiasaan buruk yang dianggap lumrah oleh lingkungan sekitar menyeret kita ke dalam lubang kerugian.
Ghibah tetaplah sebuah kesalahan besar, meskipun dilakukan oleh seluruh dunia. Integritas kita diuji saat kita tetap memilih jalan yang benar di tengah kerumunan yang menormalisasi kesalahan.
Editor : Redaksi