Ketika Diam Bukan Lagi Pilihan

Reporter : Yuris. T. Hidayat
Hadi Prasetyo, Pengamat Sosial Politik

Oleh Hadipras 

JatimUPdate.id - Tulisan ini bukanlah sekedar rangkaian kata, melainkan sebuah artikulasi dari kegeraman batin yang telah lama mengerak. Ia lahir dari potret buram di sudut-sudut negeri, di mana keadilan seringkali menjadi barang mewah yang hanya bisa ditebus oleh mereka yang berada dalam lingkar persekutuan gelap.
Terinspirasi dari napas perlawanan "Sajak Sebatang Lisong" karya WS Rendra, esai ini mencoba memotret kenyataan pahit tentang bagaimana kekuasaan dan para kroni bersulang di atas penderitaan rakyat yang terpinggirkan. 

Baca juga: Riza Chalid, Bagaimana Konstruksi Hukumnya

Di balik kata-kata ini, terdengar pula rintihan kecewa dari liang kubur para pejuang kemerdekaan yang dulu menghibahkan nyawa demi sebuah negeri yang berdaulat, bukan negeri yang digadaikan.

Sebab, ketika ketidakadilan dilakukan secara terang-terangan, maka kemarahan yang jujur adalah satu-satunya bentuk doa yang tersisa—sebuah kemarahan suci yang bersumber dari cita-cita luhur para pendiri bangsa. 

Meja Perjamuan yang Berbau Darah dan Asap Lisong

Di atas meja marmer yang dipoles oleh keringat kuli-kuli yang tak sanggup membeli nasi, mereka duduk. Para penguasa dan para kroni yang memoles wajah dengan bedak konstitusi. Mereka bicara tentang pertumbuhan, tentang angka-angka yang melambung ke langit, sementara di bawah tanah, akar-akar kehidupan kita sedang mereka penggal demi fondasi gedung bertingkat yang angkuh.

Keadilan kini menjadi barang lelang. Siapa yang paling dekat dengan lingkar kekuasaan, merasa mampu mendikte ke mana palu hakim harus jatuh. Di bawah bayang-bayang intervensi, palu keadilan tak lagi menjadi pedang yang membelah kebatilan, melainkan instrumen yang disandera untuk melegalkan kepentingan. 

Hukum tak lagi menjadi tempat bernaung bagi yang benar, melainkan benteng yang dipaksakan untuk melindungi noda-noda perjamuan mereka.
Hukum akhirnya hanya secarik kertas yang digunakan untuk menyeka noda lemak di bibir mereka setelah perjamuan korupsi yang gila-gilaan. 

Pengkhianatan di Balik Megahnya Upacara

Baca juga: Sasar Warga Binaan Lapas LBH Ansor Jatim Gencarkan Penyuluhan Hukum

Korupsi bukan lagi sebuah pencurian sembunyi-sembunyi di balik kegelapan. Hari ini, ia dilakukan di bawah terik matahari melalui persekutuan antara pejabat dan kroni-kroni setia. Di sela-sela jabat tangan yang penuh kepura-puraan, mereka menyuap masa depan dengan harga murah.

Di sudut ruangan itu, bayang-bayang para pahlawan berdiri dengan wajah kuyu. Mereka yang dulu rela berkalang tanah agar kita tak lagi menyembah tuan tanah, kini harus menyaksikan anak cucu mereka menyembah berhala kekuasaan dan modal. 

Setiap rupiah yang dikorupsi adalah satu tetes darah pejuang yang dikhianati; setiap kebijakan yang menindas adalah ludah yang dilemparkan ke wajah para pendiri negeri.

"Apakah kita harus terus menjadi penonton di tanah air sendiri? Menjadi angka-angka statistik yang hanya berguna saat pemungutan suara, lalu dibuang kembali ke selokan kemiskinan?" 

Baca juga: Pendidikan Mahal, Mimpi Anak Miskin yang Terampas

Kemarahan Suci: Warisan Para Pendahulu

Jika kebenaran harus dibungkam dengan pasal-pasal karet, dan jika perlawanan dianggap sebagai polusi, maka biarlah kemarahan ini menjadi api. Ini bukan kemarahan buta, melainkan kemarahan suci —sebuah amarah yang diwariskan oleh mereka yang dulu berteriak "Merdeka atau Mati!".

Kita tidak sedang meminta sedekah. Kita menuntut hak atas tanah, atas air, dan atas martabat yang telah mereka gadaikan kepada syahwat kekuasaan. Karena pada akhirnya, sehebat apa pun benteng yang mereka bangun dari tumpukan uang haram, mereka tidak akan pernah bisa menyuap sejarah, dan mereka tidak akan pernah bisa menenangkan arwah para pahlawan yang menuntut pertanggungjawaban.

Sebatang lisong telah habis terbakar, tapi abunya akan terus menyusup ke dalam paru-paru kekuasaan, membawa pesan dari masa lalu: bahwa kedaulatan adalah milik rakyat, bukan milik para kroni. (*)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru