Eco Composter Ubah Beban APBD Bangun budaya Maritim Surabaya Dengan Ekonomi Sirkular Sampah Organik 

Reporter : Redaksi
Ali Yusa


​Oleh: Ali Yusa
Pengurus PII Jawa Timur & Dewan Pakar IKA ITS Surabaya

 

Baca juga: Lawan Gunungan Sampah dari Desa: Aksara Project Mahasiswa UNEJ Tawarkan Solusi Zero Waste Berbasis AI-IoT

Surabaya, JatimUPdate.id - ​Kota Surabaya berdiri di persimpangan krusial sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur.

Sebagai kota metropolitan terbesar kedua sekaligus gerbang maritim utama, Surabaya memikul beban ganda: memacu produktivitas industri dan jasa, sembari memitigasi eksternalitas negatif lingkungan. Di tengah ambisi menjadi kota dunia, tantangan paling nyata yang mengintai di depan mata bukanlah sekadar kemacetan atau urbanisasi, melainkan tata kelola sampah yang mengancam keberlanjutan ekosistem darat dan laut.

​Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, timbulan sampah saat ini telah menyentuh angka 1.600 hingga 1.800 ton per hari. Dalam perspektif ekonomi publik, volume ini adalah "biaya" yang terus membengkak jika dikelola dengan paradigma lama—kumpul, angkut, buang.

Namun, dengan capaian Surabaya sebagai Kota Terbaik I dalam Pengelolaan Sampah se-Indonesia pada 2025 (skor 74,92), kota ini sebenarnya memiliki modalitas sosial dan struktural untuk melakukan lompatan kuantum: mengubah beban biaya menjadi nilai tambah melalui integrasi kelembagaan dan teknologi.

​Evolusi Paradigma: Dari Estetika Menuju Substansi

​Perjalanan Surabaya dalam mengelola lingkungan merupakan sebuah evolusi yang terencana. 
Tahap pertama, Go Green, berhasil meletakkan fondasi estetika kota dan kesadaran visual warga. 

Tahap kedua, Green and Clean, melangkah lebih jauh dengan menjadikan kampung sebagai unit terkecil perubahan perilaku. Kini,

Surabaya memasuki fase ketiga yang jauh lebih substantif dan teknis: Eco Composter.

​Jika tahap sebelumnya berfokus pada "hilir" atau kebersihan lingkungan yang tampak mata, Eco Composter menyasar langsung ke "hulu"—yaitu meja makan dan dapur setiap rumah tangga.

Data menunjukkan bahwa mayoritas sampah perkotaan didominasi oleh sampah organik (sisa makanan, sayur, dan limbah dapur).

Apabila sampah organik ini mampu diselesaikan di tingkat rumah tangga melalui teknologi komposter yang praktis, higienis, dan murah, maka beban angkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat direduksi secara signifikan.

​Secara kalkulatif, intervensi di tingkat sumber ini diyakini mampu mengurangi beban sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) hingga 40%. Implikasi finansialnya pun nyata: Pemerintah Kota Surabaya dapat menghemat belanja operasional penanganan sampah (logistik dan bahan bakar armada) hingga 20%—25%.

Angka efisiensi ini merupakan ruang fiskal yang besar jika dialokasikan kembali untuk penguatan infrastruktur lingkungan lainnya.

​Digitalisasi dan IoT: Modernisasi Gotong Royong

​Di era Industri 4.0, pendekatan manual dalam mengawasi ribuan titik sumber sampah tidak lagi memadai. Surabaya memerlukan integrasi teknologi digital atau Internet of Things (IoT) untuk memantau volume kompos, tingkat partisipasi warga, hingga efisiensi pengangkutan secara real-time.

Dengan dashboard data berbasis kelurahan, pemerintah kota dapat melakukan intervensi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy), bukan sekadar intuisi lapangan. Penggunaan sistem poin digital bagi warga yang aktif mengelola komposter juga akan menciptakan insentif ekonomi yang transparan.

Inilah yang kita sebut sebagai modernisasi gotong royong; di mana nilai-nilai luhur komunal diperkuat oleh presisi teknologi untuk memastikan program tidak berhenti pada level seremonial.

​Konektivitas Darat-Laut dan Ekonomi Sirkular

Sebagai kota pesisir, Surabaya memegang tanggung jawab moral atas kesehatan laut di kawasan timur Indonesia. Setiap kilogram sampah yang gagal terkelola di darat memiliki probabilitas tinggi berakhir di muara sungai, mencemari pesisir Kenjeran, Bulak, hingga Teluk Lamong. Gerakan "Laut Sehat Bebas Sampah" bukanlah kampanye terpisah, melainkan hasil akhir dari kedisiplinan rumah tangga di daratan.

Baca juga: PT Aisyah Cahaya Nusantara Teken LOI dengan Buyer Global

​Di sinilah peran penting Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) sebagai motor ekonomi sirkular. 

Sampah tidak boleh hanya dilihat sebagai limbah, tetapi sebagai komoditas. KKMP dapat mengambil peran strategis dalam rantai pasok: menyediakan perangkat komposter, membeli kompos hasil produksi warga, memprosesnya menjadi pupuk organik berkualitas, hingga memasarkannya untuk kebutuhan urban farming atau taman kota.

‎Dengan melibatkan lembaga kemasyarakatan seperti RT, RW, LPMK, PKK, hingga Karang Taruna, Surabaya sedang membangun ekosistem kolaborasi yang kokoh.

Namun, untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang, pendekatan ini harus diperluas menggunakan model Hepta Helix.

Sinergi Hepta Helix: Kunci Keberlanjutan

Persoalan sampah adalah masalah multidimensi yang membutuhkan keterlibatan tujuh pilar utama secara simultan:

Pemerintah: Sebagai regulator dan penyedia anggaran yang adaptif.

Akademisi: Memberikan dukungan riset teknologi komposter tepat guna dan model edukasi efektif.

‎Dunia Usaha: Melalui skema CSR yang berkelanjutan untuk mendukung sarana TPS 3R dan logistik.

‎Komunitas Masyarakat: (RT, RW, PKK, LPMK, dll) Sebagai ujung tombak implementasi budaya.
‎Media: Membangun opini publik dan memastikan transparansi capaian program.

‎Lembaga Keuangan: (Termasuk perbankan dan KKMP) Memperkuat pembiayaan usaha berbasis lingkungan.

Baca juga: Kabupaten Malang Siapkan 6 Hektare untuk Proyek Energi Sampah

‎Inovator/Teknologi: Menyediakan solusi digital untuk efisiensi sistem.

‎Tanpa sinergi ketujuh unsur ini, pengelolaan sampah hanya akan menjadi beban tahunan APBD tanpa dampak struktural.

Hepta Helix memastikan adanya pembagian beban dan tanggung jawab, sehingga perubahan perilaku masyarakat didukung oleh ketersediaan teknologi dan kemudahan akses finansial.

‎Penutup: Model Nasional dari Surabaya

Surabaya telah membuktikan bahwa kemajuan ekonomi sebuah metropolis tidak harus mengorbankan kualitas lingkungan. Keberhasilan menekan biaya pengangkutan sebesar Rp6,73 miliar per tahun melalui 27 rumah kompos saat ini hanyalah permulaan.

‎Jika program Eco Composter ini diintegrasikan secara masif dengan penguatan KKMP dan lembaga kemasyarakatan,

Surabaya akan menjadi prototipe nasional bagi kota metropolis pesisir yang tangguh.

Sebuah kota yang tidak hanya pandai membangun gedung pencakar langit, tetapi juga terampil mengelola sisa konsumsinya.

Inilah esensi dari pembangunan berkelanjutan: sebuah harmoni antara pertumbuhan ekonomi, teknologi digital, dan kearifan gotong royong yang bermuara pada laut yang sehat dan masa depan yang bersihak hanya pandai membangun gedung pencakar langit, tetapi juga terampil mengelola sisa konsumsinya.

Inilah esensi dari pembangunan berkelanjutan: sebuah harmoni antara pertumbuhan ekonomi, teknologi digital, dan kearifan gotong royong yang bermuara pada laut yang sehat dan masa depan yang bersih.

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru