Surabaya,JatimUPdate.id – Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Budi Leksono, mengingatkan Pemkot Surabaya agar menerapkan skala prioritas dalam penataan pedagang pada revitalisasi Pasar Tembok Dukuh.
Revitalisasi pasar yang menjadi bagian dari target 15 pasar pada 2026 itu dinilai bukan cuma soal fisik, tetapi juga penataan ulang pedagang agar tepat sasaran.
Baca juga: Voucher Parkir Suroboyo Dicetak 500 Ribu Lembar, Eri: Untuk R4 dan R2
“Yang harus kita ingat itu skala prioritas. Skala prioritas adalah pedagang yang ada di sana dengan konsep yang sudah tertata,” ujarnya, Rabu (29/4).
Buleks, sapaan akrabnya, menegaskan penataan harus berpihak pada pedagang lama, bukan justru membuka celah bagi pihak lain mengambil keuntungan.
Ia juga mengingatkan peran kelurahan, kecamatan, hingga PD Pasar agar tidak kecolongan dalam proses pendataan.
“Keterlibatan kelurahan, kecamatan ataupun dari PD pasar sendiri, itu jangan sampai kecolongan bagi mereka yang dalam satu keluarga bisa mendapatkan stan lebih,” tegasnya.
Selain itu, ia menekankan revitalisasi harus dibarengi peningkatan kenyamanan dan keamanan agar pasar benar-benar hidup.
“Pasar itu hidup dengan kenyamanan dan keamanan. Contohnya lahan parkir yang memadai,” katanya.
Baca juga: RDP DPRD Surabaya: Warga Minta CASBAR Ditutup, Izin Jadi Sorotan
Dari sisi pengawasan, ia mendorong penggunaan sistem pemantauan seperti CCTV untuk memastikan aktivitas pasar berjalan tertib.
“CCTV harus bisa memantau juga terkait keamanan,” ujarnya.
Buleks juga mengingatkan agar setelah revitalisasi, persoalan lama tidak kembali muncul, terutama keberadaan pasar tumpah yang dinilai merugikan pedagang resmi.
“Jangan sampai setelah direvitalisasi keluhan pedagang tetap terjadi, terutama pasar tumpah. Banyak yang jualan di jalan tanpa sewa lahan, ini menimbulkan persaingan tidak sehat,” pungkasnya.
Baca juga: Anas Karno Resmi Dilantik Jadi Anggota DPRD Surabaya Melalui PAW
Direktur Utama PD Pasar Surya, Agus Priyo, mengungkapkan sebelumnya terdapat aktivitas yang melanggar aturan, seperti pemotongan unggas di dalam pasar.
Ia menyebut pedagang telah memahami dan beralih ke penjualan daging yang sudah dipotong.
“Jumlah pedagang unggas sebelumnya sekitar 12 orang. Adapun kapasitas pasar meningkat dari sekitar 135 stan menjadi 189 stan setelah revitalisasi,” ungkap Agus. (Roy)
Editor : Miftahul Rachman