Memikat Pemilih Muda Meminggirkan Kelas Bawah

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi,jatimupdate.id
Ilustrasi,jatimupdate.id

Catatan Redaksi - Panggung politik menuju Pemilu 2029 di Kota Surabaya mulai riuh dengan satu mantra seragam Gen Z. 

Partai politik seakan berlomba menyulap diri menjadi entitas paling kekinian. 

Namun, di balik gemerlap romantisasi pemilih muda tersebut, ada kontras sosial yang menganga lebar di aspal jalanan Kota Pahlawan.

Ketika parpol sibuk mengemis "jempol digital" dari anak-anak muda, di sudut kota yang lain, jempol-jempol kaki kaum marjinal justru sedang kapalan menahan beban gerobak yang diangkut paksa. 

Fenomena penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) tanpa solusi konkret di sejumlah titik strategis Surabaya menjadi potret buram kebijakan tata kota. 

Di sini, ironi itu telanjang bulat kota dipercantik demi "memanjakan mata", tetapi isi perut rakyat kecil dikorbankan atas nama estetika.

Bagi Gen Z, isu kota mungkin berkisar pada ruang berekspresi, kesehatan mental, atau lapangan kerja sektor formal. 

Namun bagi wong cilik, diskursusnya jauh lebih mendasar dan brutal besok anak-anak mereka bisa makan atau tidak?

Redaksi memandang ada kegagalan fatal dalam prioritas komunikasi politik parpol di Surabaya. Parpol terjebak pada tren populis yang kosmetik. 

Mereka lupa karakter pemilih Gen Z sangat cair (swing voters) dan mudah bosan oleh gimmick. Sebaliknya, kelompok wong cilik yang terpinggirkan memiliki memori politik yang jauh lebih panjang dan militan. 

Rasa sakit hati karena digusur, dikhianati, dan dibiarkan kelaparan di tengah kemewahan kota, akan bertransformasi menjadi energi perlawanan yang solid di bilik suara Pemilu 2029.

Memang tidak tidak boleh menutup mata, tata kota yang rapi sebuah keharusan. Namun, modernisasi kota tidak boleh meniru cara kerja mesin yang dingin dan tanpa hati. 

Sebuah kota tidak bisa dikatakan maju hanya karena trotoarnya bersih dari pedagang, sementara angka kemiskinan merangkak naik akibat ruang ekonomi rakyat kecil ditutup paksa.

Parpol di Surabaya harus segera bangun dari siuman digitalnya. Jika mereka terus abai dan menganggap jeritan PKL sebagai angin lalu, maka penertiban tanpa solusi ini akan menjadi komoditas politik yang empuk bagi parpol lawan. 

Sebelum terlambat, ubah pendekatan akselerasi. Memburu suara masa depan (Gen Z) hak politik, tetapi memelihara isi perut pemilih tradisional (wong cilik) kewajiban kemanusiaan. 

Jangan sampai demi mengejar jutaan 'Likes' di media sosial, parpol justru menuai badai kemarahan dari mereka yang nyata-nyata lapar di dunia nyata.