Ratapan Kelas Menengah
Oleh: Hadipras
JatimUPdate.id - Aku duduk di kursi plastik warung tegal menghitung nasi sepiring, tempe goreng sepotong
dan segelas teh panas yang sudah diaduk empat kali supaya rasa manisnya merata—seperti janji para politikus
Ada cicilan rumah yang terus menagih
padahal rumah itu hanya jadi tontonan tetangga karena aku berangkat pagi pulang malam cuma bisa memandangnya dari luar, seperti memandang layar televisi
"Apakah ini hidup?"
tanyaku pada dompet yang semakin kurus
"Atau hanya sekadar tidak mati?"
Anakku minta seragam baru
istriku mengganti beras dengan jagung
ibuku berhenti berobat ke puskesmas
katanya, "Biar Tuhan yang memulihkan"
Di minimarket, ibu-ibu saling berpandangan lalu diam-diam menyembunyikan telur di keranjang
satpam melihat, tapi ikut-ikut diam
karena perutnya juga ikut berbicara
Di stasiun kereta, karyawan berdasi tidur berdiri mimpinya jatuh terus ke dalam lubang KPR Bangun-bangun, kereta sudah lewat seperti masa mudanya
Wahai para ekonom dengan grafik melambung coba tukar diplomasimu dengan segenggam beras
rasakan bagaimana rasanya bertahan
padahal berhenti bernapas pun kadang terasa lebih menguntungkan.
Maka kubilang, ini bukan hidup
ini puisi yang gagal mencari rima
ini lagu yang putus di tengah nada
ini roti yang sudah berjamur
tapi masih juga dimakan.
Karena memang ada hidup
tapi rasanya tanpa kehidupan. (*)
Editor : Redaksi