Oleh widodo, ph.d,.
pengamat keruwetan sosial
Baca juga: Indonesia Berencana Tutup Prodi Pendidikan, Malaysia Malah Buka Lowongan Guru
Surabaya, JatimUPdate.id - Setiap 2 Mei kita ramai-ramai memperingati Hari Pendidikan Nasional.
Tanggal ini diambil dari hari lahir Ki Hajar Dewantara (2 Mei 1889), sosok yang mengajarkan bahwa pendidikan itu memerdekakan manusia.
Tapi pertanyaannya sekarang sederhana dan agak menyakitkan:
masih memerdekakan… atau justru membingungkan?
Dulu, di era 1950-an, lulusan SMA Indonesia bisa langsung kuliah ke Eropa atau Amerika. Tanpa kelas persiapan, tanpa foundation, tanpa “bukti tambahan” kalau mereka layak.
Sekarang?
Anak-anak Indonesia harus:
- tes bahasa
- tes akademik tambahan
- ikut kelas persiapan
Pertanyaannya bukan cuma:
apakah kita tertinggal?
tapi juga:
atau kita nggak ikut berubah?
Kita sering bandingkan diri dengan Singapura atau Malaysia. Katanya mereka lebih maju.
Ya jelas.
Mereka pakai sistem pendidikan yang nyambung langsung ke standar global warisan Commonwealth of Nations. Kurikulumnya align, jalurnya jelas, “bahasanya sama” dengan dunia internasional.
Sementara kita?
Masih sibuk gonta-ganti kurikulum.
Dari: KBK → KTSP → K13 → Merdeka Belajar
Setiap ganti, harapannya bagus.
Tapi di lapangan?
Guru bingung.
Siswa menyesuaikan lagi.
Sistem mulai dari nol lagi.
Dan kita masih sering terjebak di satu hal klasik:
nilai.
Bukan pemahaman.
Bukan kemampuan berpikir.
Tapi angka.
Padahal dunia sekarang tidak butuh orang yang bisa hafal jawaban.
Dunia butuh orang yang bisa:
Baca juga: Ruang Tumbuh Bersama: Usai Mengajar di ITB Yadika Pasuruan
- berpikir kritis
- adaptif
- problem solving
Sementara kita masih debat: *"ini masuk kisi-kisi atau tidak?”*
Kasus-kasus perbedaan sistem pendidikan luar negeri sering bikin publik ribut. Misalnya soal durasi sekolah yang berbeda, langsung muncul tuduhan:
“nggak lulus”,
“nggak sesuai”,
“aneh”.
Padahal masalahnya simpel:
kita membandingkan sistem yang memang tidak sama.
Masalah terbesar pendidikan Indonesia sebenarnya bukan di muridnya.
Tapi di sistemnya:
- tidak konsisten
- tidak merata
- tidak cukup cepat beradaptasi
Di kota besar, anak-anak sudah belajar coding.
Di daerah, masih ada yang rebutan bangku.
Baca juga: Siswa SMP Al Muslim Sidoarjo Belajar Animasi dan Dubbing
Ini bukan soal pintar atau tidak.
Ini soal *kesempatan.*
Lalu sekarang kita masuk era digital.
AI, teknologi, otomatisasi.
Ironisnya?
Saat dunia berubah cepat, pendidikan kita masih sering jalan pelan.
Masih sibuk administrasi.
Masih fokus formalitas.
Masih mengejar target di atas kertas.
Pendidikan Indonesia itu bukan buruk.
Tapi juga belum hebat.
Kita bukan tertinggal jauh
tapi kita juga belum cukup cepat untuk mengejar.
Dan kalau kita masih sibuk memperdebatkan masa lalu,
sementara dunia terus melaju ke depan…
maka yang tertinggal bukan sistemnya saja.
Tapi generasinya.
Editor : Redaksi