Ramdansyah, Sekretaris PMI Jakarta Utara -Mantan Sekjen Partai Idaman 2015-2018.
JatimUPdate.id - Momentum Kopi Darat Nasional (Kopdarnas) dan Halal Bihalal Fans of Rhoma Irama (Forsa) pada 25–26 April 2026 di Ragunan menghadirkan suasana yang berbeda. Selain kehadiran Rhoma Irama, logo Palang Merah Indonesia (PMI) tampak menghiasi latar belakang spanduk besar acara, sementara para penggemar terlibat dalam aksi donor darah.
Pemandangan ini menunjukkan bahwa budaya populer tidak selalu berhenti pada hiburan semata. Musik, pada titik tertentu, dapat menjelma menjadi medium solidaritas sosial yang mempertemukan empati, kemanusiaan, dan ikatan kolektif dalam ruang yang sama
Setiap 8 Mei, dunia memperingati Hari Palang Merah Internasional untuk meneguhkan kembali nilai-nilai universal tentang kepedulian terhadap sesama manusia.
Peringatan ini merujuk pada kelahiran Henry Dunant, pendiri Gerakan Palang Merah Internasional, yang menggagas perlindungan terhadap korban perang tanpa membedakan identitas politik, agama, maupun bangsa. Caroline Moorehead dalam Dunant’s Dream (1998) menjelaskan bahwa gagasan Dunant lahir dari kegelisahan moral setelah menyaksikan ribuan korban Perang Solferino terlantar tanpa pertolongan. Spirit kemanusiaan itu pada dasarnya menempatkan empati sebagai fondasi utama tindakan sosial.
Dalam konteks Indonesia kontemporer, semangat tersebut tidak hanya hidup melalui lembaga-lembaga formal kemanusiaan, tetapi juga menemukan bentuknya dalam kebudayaan populer. Salah satu figur yang memperlihatkan hal itu adalah Rhoma Irama.
Selama puluhan tahun, ia menggunakan musik bukan sekadar sebagai sarana hiburan, melainkan medium pendidikan moral, kritik sosial, dan pembelaan terhadap masyarakat kecil. Di tengah budaya populer yang semakin didominasi logika pasar dan pencitraan digital, kehadiran Rhoma memperlihatkan bahwa selebritas masih dapat memainkan fungsi etik dalam kehidupan publik.
Dari Popularitas ke Solidaritas
Fenomena selebritas kemanusiaan sesungguhnya telah lama menjadi perhatian dalam kajian sosial-politik. Daniel J. Boorstin dalam The Image (1961) menjelaskan bahwa masyarakat modern mengalami pergeseran dari penghormatan terhadap tokoh besar menuju pemujaan terhadap figur populer.
Popularitas kemudian berubah menjadi kekuatan simbolik yang mampu memengaruhi opini publik. Dalam situasi seperti itu, selebritas tidak lagi sekadar penghibur, tetapi juga berpotensi menjadi agen sosial yang membangun solidaritas masyarakat.
Rhoma Irama memperlihatkan bentuk khas dari selebritas kemanusiaan Indonesia.
Sejak dekade 1970-an, ia menjadikan dangdut sebagai instrumen dakwah sosial yang dekat dengan pengalaman hidup rakyat kecil. Lagu-lagunya tidak hanya berbicara tentang cinta, tetapi juga menyentuh persoalan kemiskinan, perjudian, narkoba, ketimpangan sosial, dan degradasi moral. Lagu “Begadang” mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dan disiplin hidup, “Judi” mengkritik praktik perjudian yang menghancurkan keluarga miskin, sedangkan “Mirasantika” menjadi kritik keras terhadap narkotika dan alkohol yang merusak generasi muda.
Melalui lagu-lagu tersebut, musik berubah menjadi bahasa moral yang mudah dipahami masyarakat akar rumput.
Pesan-pesan itu memiliki keterhubungan yang kuat dengan spirit kemanusiaan universal yang menempatkan martabat manusia sebagai nilai utama. Hari Palang Merah Internasional mengingatkan bahwa solidaritas tidak hanya hadir melalui diplomasi global atau kerja lembaga formal, tetapi juga dapat tumbuh dalam kehidupan sehari-hari melalui kebudayaan populer. Dalam konteks itu, Rhoma Irama menunjukkan bahwa musik dapat menjadi medium untuk menumbuhkan empati sosial dan kepedulian terhadap penderitaan sesama.
Dangdut sebagai Bahasa Kemanusiaan
John Street (2004) menyebut fenomena tersebut sebagai celebrity advocacy, yaitu ketika selebritas menggunakan pengaruh budaya untuk mengangkat isu sosial dan politik. Rhoma memang tidak tampil sebagai aktivis kemanusiaan formal seperti figur-figur Barat yang identik dengan lembaga filantropi global.
Namun, pengaruhnya tumbuh dari kedekatan emosional dengan masyarakat bawah yang sering kali tidak terwakili dalam diskursus elite. Aktivisme sosial Rhoma lahir dari tradisi budaya rakyat dan etika religius yang mengakar kuat, bukan dari industri filantropi global. Musik baginya menjadi ruang artikulasi penderitaan sosial, bukan sekadar panggung amal simbolik.
Kehadiran Rhoma sebagai figur moral juga relevan jika dikaitkan dengan tradisi kemanusiaan yang diwariskan Henry Dunant. Daniel Warner (2013) menjelaskan bahwa semangat kemanusiaan Dunant lahir dari dorongan moral untuk membela manusia yang menderita tanpa melihat latar belakang identitasnya. Semangat serupa tampak dalam lagu-lagu Rhoma Irama yang berpihak kepada wong cilik, kelompok miskin, dan masyarakat yang tersisih oleh pembangunan.
Jika Dunant menggunakan institusi kemanusiaan internasional untuk membela korban perang, maka Rhoma menggunakan budaya populer untuk membela korban ketidakadilan sosial.
Dangdut memiliki kekuatan unik sebagai bahasa emosional rakyat Indonesia. Berbeda dengan wacana akademik yang sering terasa elitis, lagu-lagu Rhoma mampu menjangkau masyarakat bawah secara langsung.
Matthew Newcomb (2015) dalam kajiannya tentang Henry Dunant menjelaskan bahwa gerakan kemanusiaan selalu membutuhkan dimensi afektif agar mampu menggerakkan tindakan sosial. Rhoma melakukan hal tersebut melalui musik. Ia membuat isu moral dan kemanusiaan terasa dekat dengan pengalaman hidup masyarakat sehari-hari.
Karena itu, membaca Rhoma Irama hanya sebagai penyanyi dangdut jelas merupakan penyederhanaan. Ia adalah representasi bagaimana budaya populer dapat menjadi medium pembelaan sosial. Di tengah dunia digital yang semakin bising oleh sensasi dan pencitraan, Rhoma menunjukkan bahwa selebritas masih dapat menjalankan fungsi etik: menyuarakan penderitaan, membangun solidaritas, dan menghidupkan empati publik.
Pada akhirnya, Rhoma Irama memperlihatkan bahwa kemanusiaan tidak selalu lahir dari forum diplomasi internasional atau pidato politik yang megah. Kemanusiaan juga dapat tumbuh dari panggung musik rakyat yang sederhana, dari suara dangdut yang akrab di telinga masyarakat kecil, dan dari lagu-lagu yang mengajarkan kepedulian terhadap sesama.
Di tengah krisis empati masyarakat modern, pesan itu menjadi semakin penting: kemanusiaan sejati bukan sekadar wacana, melainkan keberanian untuk tetap berpihak kepada mereka yang menderita. (*)
Editor : Redaksi