Oleh widodo, p.hd
pengamat keruwetan sosial
Baca juga: Dasco Sebut Danantara Ambil Saham Aplikator Ojol, Potongan Komisi Bakal Turun Jadi 8 Persen
Surabaya, JatimUPdate.id - Beberapa minggu terakhir, publik seperti dipaksa ikut ujian kesabaran massal. Bukan karena soal LCC Empat Pilar-nya sulit, tapi karena penjelasan setelah acaranya malah terasa lebih membingungkan dari soal kuisnya sendiri.
Awalnya netizen marah karena merasa ada keputusan janggal di final LCC. Video potongan acara beredar di mana-mana. Orang-orang memperdebatkan jawaban peserta, reaksi juri, sampai ekspresi MC yang dianggap ikut memperkeruh suasana.
Biasanya kalau internet Indonesia sudah kompak marah, itu tandanya ada sesuatu yang memang terasa “nggak beres” di mata publik.
Lalu muncullah tersangka utama baru: sound system.
Ya, pengeras suara mendadak seperti menjadi tokoh antagonis nasional. Semua seolah diarahkan ke sana. Seakan-akan speaker di ruangan itu tiba-tiba punya ambisi menghancurkan kredibilitas lomba cerdas cermat.
Padahal yang bikin publik kesal sebenarnya bukan sekadar salah dengar atau suara mic pecah. Orang-orang marah karena merasa ada sikap yang tidak mau mengakui kekeliruan sejak awal. Di situlah api emosi netizen mulai membesar.
Kadang masalah kecil bisa selesai cepat kalau ada satu kalimat sederhana: "Maaf, kami keliru.”
Baca juga: Bamsoet Dorong Advokat Muda Atasi Ketimpangan Akses Keadilan
Tapi di negeri +62, permintaan maaf sering terasa lebih mahal daripada sound system satu gedung.
Yang membuat publik makin panas adalah kesan defensif. Bukannya introspeksi, yang muncul malah kesan mencari kambing hitam. Hari ini sound system, besok mungkin kabel HDMI, lusa bisa jadi pendingin ruangan.
Padahal masyarakat sekarang bukan cuma menonton, tapi juga merekam, mengulang video, memperlambat audio, bahkan menganalisis frame demi frame seperti detektif digital.
Netizen Indonesia itu unik. Mereka bisa lupa harga cabai minggu lalu, tapi kalau soal drama publik, arsip memorinya setara cloud storage premium.
Publik sebenarnya tidak menuntut semua orang sempurna. Juri bisa salah. MC bisa gugup. Panitia bisa khilaf. Itu manusiawi. Yang sulit diterima justru ketika wibawa dijaga terlalu keras sampai kritik dianggap ancaman.
Karena wibawa sejati bukan lahir dari suara keras atau muka serius di atas panggung. Wibawa muncul saat seseorang berani berkata: “Kami evaluasi, kami perbaiki.”
Dan jujur saja, keputusan mengulang final dengan juri independen sebenarnya sudah menjadi jawaban tidak langsung bahwa memang ada sesuatu yang perlu dibenahi. Artinya publik tidak sepenuhnya berhalusinasi seperti yang sempat dituduhkan sebagian orang.
Akhir pekan ini mungkin sound system sedang diam di gudang. Kabelnya digulung rapi. Speakernya tidak bicara apa-apa. Tapi namanya sudah telanjur masuk sejarah kecil internet Indonesia: alat elektronik pertama yang dituduh menjatuhkan martabat lomba cerdas cermat.
Kasihan juga sebenarnya. Speaker cuma tugasnya mengeluarkan suara. Bukan menanggung ego satu ruangan.
Editor : Redaksi