Dosen Ilmu Politik Unesa Soroti Konsolidasi Kekuasaan hingga Strategi Geopolitik Nasional
Surabaya, JatimUPdate.id — Dosen Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya sekaligus CEO Sygma Research and Consulting, Ken Bimo Sultoni, menegaskan bahwa arah politik Indonesia periode 2024–2029 akan dipengaruhi tiga faktor utama: konsolidasi kekuasaan domestik, paradigma ekonomi politik nasional, dan strategi geopolitik di tengah rivalitas global.
Pandangan tersebut disampaikan dalam forum diskusi “BISIK-BIPALA: Antara Pasar dan Pasal: Market Balance in the Gen Z Era” di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNESA, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Ken Bimo, fenomena grand coalition pasca pemilu memang mampu menciptakan stabilitas politik, namun tetap harus diawasi agar tidak melemahkan fungsi oposisi dan mekanisme checks and balances dalam demokrasi.
“Demokrasi bukan sekadar soal memilih pemimpin, tetapi bagaimana kekuasaan dijalankan, dikontrol, dan dipertanggungjawabkan kepada rakyat,” ujar Ken Bimo.
Ia juga menyoroti arah ekonomi politik nasional melalui hilirisasi industri, pembangunan IKN, serta penguatan kedaulatan pangan dan energi.
Menurutnya, industrialisasi Indonesia harus dibangun tidak hanya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan memperkuat kemandirian teknologi nasional.
Pada aspek geopolitik, Ken Bimo menilai Indonesia saat ini menerapkan strategi hedging melalui politik luar negeri bebas aktif di tengah rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok.
“Posisi Indonesia sebagai bridge builder menjadi modal penting untuk memperkuat pengaruh diplomasi Indonesia di tingkat global,” katanya.
Forum berlangsung dinamis dengan partisipasi mahasiswa, praktisi dan akademisi yang membahas masa depan demokrasi Indonesia di tengah perubahan ekonomi dan geopolitik global. (roy/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat