JatimUPdate.id - Sehubungan dengan rangkaian pelaksanaan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M, khususnya momentum wukuf di Arafah hingga pelaksanaan jumrah (jamarat) yang berlangsung pada tanggal 26–30 Mei 2026, terdapat fenomena astronomis penting yang dapat dimanfaatkan umat Islam untuk melakukan pembetulan arah kiblat, yaitu peristiwa Istiwaul A'dham atau Transit Utama Matahari.
Baca juga: Tiga Kloter Haji Bondowoso 2026 Siap Berangkat, Ini Jadwal Lengkapnya
Transit Utama Matahari atau Istiwaul A’dham merupakan salah satu peristiwa astronomi penting yang memiliki keterkaitan langsung dengan penentuan arah kiblat umat Islam di seluruh dunia. Secara astronomis, Istiwaul A’dham terjadi ketika posisi semu Matahari tepat melintasi zenit Ka’bah di Makkah, sehingga pusat cakram Matahari berada hampir sejajar dengan koordinat geografis Ka’bah, yaitu sekitar 21° 25’ Lintang Utara dan 39° 50’ Bujur Timur. Dalam kondisi ini, sinar Matahari jatuh secara tegak lurus di atas bangunan Ka’bah dan tidak menimbulkan bayangan pada benda vertikal di lokasi tersebut.
Fenomena ini terjadi karena gerak semu tahunan Matahari yang berpindah dari garis balik selatan menuju garis balik utara dan sebaliknya sepanjang bidang ekliptika. Ketika deklinasi Matahari bernilai hampir sama dengan lintang Ka’bah, maka Matahari akan mencapai titik kulminasi tertinggi tepat di atas Ka’bah. Secara astronomis, keadaan ini dikenal sebagai solar transit at zenith atau transit zenit Matahari. Peristiwa tersebut umumnya terjadi dua kali dalam satu tahun, yakni sekitar tanggal 27–28 Mei dan 15–16 Juli, meskipun waktunya dapat sedikit berubah setiap tahun akibat pengaruh tahun kabisat, persamaan waktu (equation of time), serta dinamika orbit bumi.
Pada momentum Istiwaul A’dham, posisi Matahari berada tepat di atas Ka’bah sekitar pukul 12.18 Waktu Arab Saudi (WAS), dengan ketinggian Matahari mencapai 90 derajat. Secara astronomi, kondisi ini menunjukkan bahwa Matahari sedang berada pada titik kulminasi sempurna di atas Ka’bah. Kulminasi merupakan keadaan ketika suatu benda langit melintasi meridian lokal dan mencapai posisi tertinggi di langit pada hari tersebut. Karena Matahari tepat berada di zenit Ka’bah, maka arah datang cahaya Matahari dari berbagai wilayah di bumi akan membentuk garis lurus menuju Ka’bah.
Konsekuensi astronomis dari fenomena ini sangat penting dalam ilmu falak dan penentuan arah kiblat. Pada saat Istiwaul A’dham berlangsung, seluruh bayangan benda tegak lurus di wilayah yang masih dapat melihat Matahari akan mengarah tepat berlawanan dengan posisi Ka’bah. Dengan kata lain, arah menuju Matahari saat itu identik dengan arah kiblat. Oleh karena itu, masyarakat dapat melakukan verifikasi atau koreksi arah kiblat secara sederhana namun sangat akurat hanya dengan menggunakan tongkat tegak lurus, benang, atau sisi bangunan yang terkena cahaya Matahari.
Metode ini memiliki tingkat akurasi tinggi karena bersandar langsung pada observasi astronomi empiris tanpa bergantung pada instrumen kompas yang rentan dipengaruhi medan magnet lokal, gangguan logam, maupun deviasi magnetik bumi. Dalam perspektif astronomi praktis, Istiwaul A’dham menjadi salah satu metode paling presisi dalam kalibrasi arah kiblat, terutama untuk masjid, mushalla, dan bangunan ibadah lainnya.
Bagi wilayah Indonesia, fenomena ini dapat diamati pada sore hari karena perbedaan zona waktu dengan Arab Saudi. Saat Matahari berada tepat di atas Ka’bah, masyarakat Indonesia masih dapat menyaksikan Matahari berada di langit bagian barat. Oleh sebab itu, bayangan benda tegak lurus yang terbentuk pada waktu tersebut akan menunjukkan arah kiblat secara langsung. Semakin tegak posisi benda dan semakin rata permukaan pengamatan, maka semakin tinggi pula tingkat ketelitian hasil verifikasi arah kiblat yang diperoleh.
Khusus untuk wilayah Indonesia bagian barat, waktu pembetulan arah kiblat dapat dilakukan pada tanggal 27–28 Mei 2026 M/10-11 Dzulhijjah 1447 H pada rentang waktu sekitar pukul 16.18 WIB hingga 16.23 WIB. Pada momentum waktu tersebut, masyarakat dapat mengamati bayangan benda yang berdiri tegak lurus untuk menentukan arah kiblat secara akurat.
Langkah pembetulan arah kiblat dapat dilakukan dengan cara:
Menyiapkan benda yang benar-benar tegak lurus, seperti tongkat, tiang, atau benang berbandul.
Memastikan jam atau waktu yang digunakan telah sesuai dengan waktu resmi (http://jam.bmkg.go.id/jam.bmkg)
Mengamati arah bayangan benda tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Menarik garis lurus dari ujung bayangan menuju pangkal benda.
Arah yang berlawanan dengan bayangan tersebut adalah arah kiblat menuju ka’bah.
Fenomena ini menjadi metode astronomis yang sederhana, murah, dan memiliki tingkat akurasi tinggi dalam verifikasi arah kiblat masjid, mushola, pesantren, kampus, kantor, maupun rumah masyarakat Muslim.
Momentum ini juga menjadi sarana edukasi penting dalam pengembangan ilmu falak Islam, bahwa penentuan arah kiblat tidak hanya berbasis teori, tetapi juga dapat diverifikasi secara empiris melalui fenomena astronomi yang dapat diamati langsung.
Mari manfaatkan momentum 27–28 Mei 2026 ini untuk memastikan kembali ketepatan arah kiblat tempat ibadah dan rumah kita agar semakin presisi menghadap ka’bah. Selamat mencoba!.
Wallahu A’lam Bishowab
Baca juga: Armuji Ditunjuk Plh Wali Kota Surabaya, Anas: Pastikan Roda Pemerintahan Tetap Berjalan
Editor : Redaksi