Oleh: Machsus
Baca juga: Liveaboard Indonesia dan Alvin Jaya Group Ajak 100 Anak Yatim Bermain dan Wisata di KBS
Wakil Rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Alumni Pondok Pesantren Al-Hidayah Bangkalan, Wakil Ketua LPNU Jawa Timur, dan kini juga turut membina Pondok Pesantren Ribath Tahfidz Al-Qur’an Al Fauzi Tolbuk Bangkalan
JatimUPdate.id - Kegiatan sosial-keagamaan seperti santunan anak yatim tidak selayaknya berhenti sebagai seremoni. Ia perlu naik kelas menjadi gerakan yang menyalakan kepedulian sekaligus membangun tanggung jawab bersama. Santunan anak yatim yang diselenggarakan pada tanggal 30 Juni 2026 oleh Takmir Masjid Agung Bangkalan bekerja sama dengan LAZISNU, di bawah kepemimpinan Ketua Takmir Masjid Agung Bangkalan, K.H. M. Syafik Rofi’i, menjadi pengingat bahwa anak-anak yatim tidak cukup hanya disantuni hari ini, tetapi juga perlu didampingi menuju masa depan yang lebih baik.
Saya bersyukur diberi kesempatan dan kepercayaan untuk memberikan motivasi dalam kegiatan mulia tersebut. Kesempatan itu bukan sekadar ruang untuk berbicara di hadapan anak-anak yatim, melainkan juga menjadi momentum untuk belajar kembali tentang makna kepedulian, kekuatan harapan, dan pentingnya menghadirkan lingkungan yang percaya bahwa setiap anak, apa pun latar belakang hidupnya, berhak memiliki cita-cita besar.
Menyantuni anak yatim adalah amal mulia. Ia menjadi tanda bahwa di tengah kehidupan yang sering bergerak cepat dan individualistis, masih ada ruang bagi kasih sayang, gotong royong, dan kepedulian sosial. Namun, pertanyaannya adalah cukupkah anak yatim hanya kita bahagiakan pada hari acara, lalu kita biarkan berjalan sendiri menghadapi panjangnya kehidupan?
Selama ini, anak yatim sering ditempatkan sebagai penerima bantuan. Mereka hadir dalam kegiatan keagamaan, duduk rapi, menerima santunan, lalu pulang membawa bingkisan. Tentu tidak ada yang salah dari santunan. Tetapi santunan tidak boleh dipersempit hanya menjadi amplop. Santunan adalah perhatian. Santunan adalah pendidikan. Santunan adalah bimbingan. Santunan adalah keberanian yang kita tanamkan agar mereka percaya bahwa hidup yang sulit tidak berarti masa depan harus sempit.
Dalam tradisi Islam, anak yatim memiliki kedudukan yang sangat mulia. Rasulullah SAW sendiri lahir dan tumbuh sebagai anak yatim. Dari sirah beliau, kita belajar bahwa menjadi yatim bukan tanda jalan hidup telah tertutup. Justru dari ruang keterbatasan dapat lahir keteguhan, kedewasaan, dan kebesaran jiwa.
Memuliakan, Bukan Mengasihani
Ada perbedaan mendasar antara mengasihani dan memuliakan. Mengasihani sering berhenti pada rasa iba. Memuliakan bergerak lebih jauh dengan menghadirkan kesempatan, membangun percaya diri, dan membuka jalan agar seseorang dapat berdiri tegak dengan martabatnya sendiri.
Anak-anak yatim tidak boleh tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya adalah beban. Mereka harus tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya adalah amanah. Mereka bukan sekadar penerima kebaikan, melainkan calon pelaku kebaikan. Hari ini mereka mungkin menerima santunan, tetapi kelak mereka harus kita doakan dan kita dampingi agar menjadi orang-orang yang mampu memberi manfaat.
Di titik ini, syukur menjadi penting. Syukur bukan sikap pasrah. Syukur bukan alasan untuk berhenti berikhtiar. Syukur justru energi. Anak yang bersyukur tidak berhenti sekolah hanya karena sepatunya sederhana. Ia harus tetap melangkah. Anak yang bersyukur tidak berhenti membaca hanya karena bukunya terbatas. Ia harus tetap belajar. Anak yang bersyukur tidak minder karena rumahnya kecil. Ia justru harus membesarkan mimpinya.
Banyak anak dari keluarga sederhana sesungguhnya tidak kekurangan kecerdasan. Mereka kekurangan kesempatan, pendampingan, dan orang yang berkata dengan tulus, “Kamu bisa. Kamu layak. Kamu punya masa depan.” Kalimat seperti itu sederhana, tetapi bagi anak-anak yang sedang rapuh, ia bisa menjadi cahaya.
Baca juga: Pj. Gubernur Jawa Timur Bersama Gus Kautsar Hadiri Acara Santunan Anak Yatim dan Buka Bersama IKAPTK
Keterbatasan Menjadi Jalan
Keterbatasan tidak selalu menjadi tembok. Dalam banyak kisah kehidupan, keterbatasan justru menjadi jalan. Ia menjadi ruang latihan karakter, diantaranya sabar, disiplin, kerja keras, dan rendah hati.
Banyak tokoh besar lahir dari keadaan yang tidak mudah. B.J. Habibie kehilangan ayahnya ketika masih remaja, tetapi tumbuh menjadi ilmuwan besar dan Presiden Republik Indonesia. Mohammad Hatta menjadi yatim sejak bayi, tetapi kemudian dikenal sebagai proklamator, negarawan, pembaca tekun, dan pribadi sederhana yang berintegritas. Chairul Tanjung tumbuh dalam keterbatasan ekonomi, tetapi keberanian memulai dari kecil membawanya menjadi pengusaha besar. Dahlan Iskan juga lahir dari keluarga sederhana, tetapi kemudian memberi warna penting dalam dunia media, BUMN, dan pelayanan publik.
Kisah-kisah itu bukan untuk meromantisasi kemiskinan. Kemiskinan tetap harus dilawan. Ketimpangan tetap harus dikoreksi. Negara tetap wajib menghadirkan keadilan sosial. Tetapi kisah-kisah itu mengajarkan satu hal penting bahwa keterbatasan bukan vonis akhir.
Masa depan tidak ditentukan semata-mata oleh seberapa besar rumah seseorang hari ini. Masa depan dibentuk oleh tekad belajar, disiplin, doa, lingkungan yang mendukung, dan kesempatan yang dibuka. Karena itu, tugas masyarakat bukan hanya memberi bantuan, melainkan membangun ekosistem. Anak yatim perlu sekolah yang ramah, masjid yang merangkul, lembaga zakat yang mendampingi, kampus yang membuka inspirasi, pemerintah yang menghadirkan kebijakan, dunia usaha yang memberi ruang, dan masyarakat yang tetap hadir setelah acara santunan selesai.
Jangan sampai anak yatim hanya kita jumpai dalam seremoni, tetapi kita tinggalkan dalam perjalanan panjang hidupnya. Jangan sampai mereka kita bahagiakan satu hari, tetapi kita biarkan berjalan sendiri pada hari-hari berikutnya.
Cita-Cita Menjadi Gerakan
Setiap anak berhak punya cita-cita. Anak yatim berhak bercita-cita menjadi dokter, guru, insinyur, polisi, tentara, pengusaha, ilmuwan, ulama, dosen, atau pemimpin bangsa. Tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi bagi anak yang mau belajar dan didampingi dengan sungguh-sungguh.
Baca juga: Ramadan 1445 H, PWI Jatim Gelar Bukber dan Santuni Puluhan Anak Yatim
Namun, cita-cita tidak cukup diucapkan. Ia harus diterjemahkan menjadi rencana. Anak yang ingin menjadi dokter perlu mencintai ilmu pengetahuan. Anak yang ingin menjadi insinyur tidak boleh takut pada matematika. Anak yang ingin menjadi pengusaha harus belajar jujur sejak kecil. Anak yang ingin menjadi pemimpin harus mulai dari memimpin dirinya sendiri, yakni mulai bangun pagi, menjaga salat, menghormati guru, mengatur waktu, dan menepati janji.
Di sinilah santunan harus naik kelas menjadi gerakan masa depan. Bukan hanya gerakan memberi, tetapi gerakan mendampingi. Bukan hanya menyenangkan anak sehari, tetapi menyiapkan mereka bertahun-tahun. Bukan hanya berbagi rezeki, tetapi membuka jalan mobilitas sosial melalui pendidikan.
Bagi kampus perjuangan seperti ITS, kepedulian kepada anak yatim juga merupakan bagian dari tanggung jawab sosial keilmuan. Teknologi tidak boleh hanya hadir untuk industri besar. Ia juga harus hadir untuk memuliakan manusia. Kampus yang hebat bukan hanya kampus yang dikenal dunia, tetapi juga kampus yang mampu menyalakan harapan bagi anak-anak bangsa yang hidup dalam keterbatasan.
Pesan terpenting bagi anak-anak yatim adalah jangan jadikan kesedihan sebagai alasan untuk berhenti. Jadikan ia kekuatan untuk melangkah. Jangan jadikan keterbatasan sebagai tembok. Jadikan ia tangga untuk naik lebih tinggi. Jangan takut bermimpi besar, karena Allah Maha Besar.
Hari ini mereka mungkin menerima santunan. Tetapi dengan doa, ilmu, pendampingan, dan kesempatan yang cukup, kelak mereka dapat tumbuh menjadi pemberi manfaat. Hari ini disantuni, kelak menyantuni. Hari ini didoakan, kelak mendoakan. Hari ini dikuatkan, kelak menguatkan. Itulah tugas kita bersama untuk mengubah santunan menjadi jalan masa depan, belas kasih menjadi pemberdayaan, dan acara sesaat menjadi gerakan panjang yang beradab, berkeadilan, dan penuh harapan. (*)
Editor : Redaksi