Oleh: Ramdansyah
Sekretaris PMI Jakarta Utara
Baca juga: Khofifah Nobar Final Piala Dunia Bersama Ribuan Masyarakat di Halaman Grahadi
JatimUPdate.id - John L. Esposito wafat pada tanggal 15 Juli 2026. Ia dikenal lewat karya yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia berjudul Islam dan Demokrasi, yang terbit menjelang akhir rezim Orde Baru.
Dunia kehilangan seorang intelektual publik yang mengajarkan bahwa konflik antaragama lebih sering lahir dari kegagalan memahami daripada dari perbedaan keyakinan itu sendiri.
Memahami sebelum Menghakimi
Warisan intelektual John L. Esposito tampak jelas dalam sejumlah buku bertema Islam, seperti The Straight Path (1998), The Islamic Threat: Myth or Reality? (1999), dan Who Speaks for Islam? (2007), yang tetap relevan ketika dunia menghadapi polarisasi identitas yang semakin tajam.
Namun warisannya tidak semata-mata terletak pada buku-buku yang ia hasilkan. Ia mengajarkan dunia cara membaca agama. Ketika sebagian kalangan Barat memandang Islam sebagai ancaman keamanan atau benturan peradaban, Esposito justru mengajak pembacanya melihat Islam sebagai tradisi intelektual yang kompleks, dinamis, dan terus berinteraksi dengan perubahan zaman. Baginya, konflik bukanlah persoalan alami dari agama, melainkan lahir dari kegagalan manusia memahami agama secara utuh.
Hans-Georg Gadamer memberi jalan untuk memahami cara berpikir Esposito. Dalam Truth and Method (1960), Gadamer mengkritik anggapan bahwa pemahaman dapat dicapai hanya melalui metode ilmiah yang objektif. Menurutnya, memahami bukan sekadar mengumpulkan data, melainkan proses dialog yang melibatkan sejarah, bahasa, tradisi, dan pengalaman hidup setiap manusia.
Tidak ada seorang pun yang mendekati suatu persoalan dengan pikiran yang benar-benar kosong. Setiap orang membawa horizon atau cakrawala pemahamannya sendiri, yang dibentuk oleh kebudayaan, pendidikan, keyakinan, dan pengalaman sosial.
Prasangka dalam Kehidupan Sehari-hari
Fenomena prasangka dapat diketemukan dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaan seseorang berpakaian bernuansa keagamaan di suatu pemukiman dapat dengan cepat dijustifikasi sebagai upaya penyebaran agama, dan berbagai kabar bohong pun bermunculan.
Kegiatan donor darah yang dilakukan oleh komunitas agama tertentu kerap dicap sebagai kegiatan keagamaan semata. Padahal, komunitas keagamaan, kedaerahan, kelembagaan swasta, maupun pemerintah paling sering menggunakan kegiatan donor darah untuk membantu Palang Merah Indonesia (PMI).
Karena itu, pemahaman tidak lahir ketika seseorang memaksakan perspektifnya kepada orang lain. Pemahaman justru tumbuh ketika dua cakrawala yang berbeda bersedia saling membuka diri, sehingga melahirkan apa yang oleh Gadamer disebut fusion of horizons. Di sinilah letak keistimewaan Esposito. Ia tidak pernah meminta dunia Barat menjadi Islam, ataupun meminta umat Islam menyesuaikan diri dengan seluruh nilai Barat. Sebaliknya, ia berusaha mempertemukan keduanya dalam ruang dialog yang memungkinkan masing-masing melihat dirinya melalui sudut pandang pihak lain.
Prasangka memang tidak dapat dihindari, tetapi prasangka tidak boleh menjadi akhir dari proses berpikir. Ia harus menjadi titik awal untuk diuji melalui percakapan, pengalaman, dan kesediaan mendengar pihak lain.
Esposito menjalankan prinsip tersebut sepanjang hidupnya. Ia tidak melawan prasangka terhadap Islam dengan membangun prasangka baru terhadap Barat. Ia memilih memperluas ruang pengetahuan agar stereotip kehilangan pijakan.
Baca juga: KPK Amankan Bupati Lombok Barat Melalui Proses OTT
Esposito melakukan penelitian, dialog lintas agama, dan mendirikan Center for Muslim-Christian Understanding di Georgetown University. Ia memperlihatkan bahwa universitas bukan hanya tempat menghasilkan pengetahuan, tetapi juga ruang mempertemukan manusia yang berbeda keyakinan, sejarah, dan tradisi.
Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, warisan inilah yang justru menjadi kebutuhan paling mendesak. Keberanian untuk memahami diperlukan, sebelum menghakimi.
Piala Dunia Mempersatukan dan VAR yang memecah belah
Jika dialog adalah inti dari hermeneutika, maka olahraga merupakan salah satu ruang sosial yang paling nyata memperlihatkan bagaimana dialog dapat bekerja tanpa harus selalu diucapkan melalui kata-kata. Prinsip memahami sebelum menghakimi bukan hanya berlaku dalam relasi antaragama. Ia juga hidup dalam berbagai ruang sosial modern, termasuk olahraga
Di atas lapangan sepak bola, identitas agama, etnis, bahasa, maupun kebangsaan tidak serta-merta dihapuskan, tetapi ditempatkan dalam sebuah aturan bersama yang memungkinkan semua orang berkompetisi secara setara. Selama sembilan puluh menit pertandingan berlangsung, yang berbicara bukan lagi prasangka, melainkan kerja sama, sportivitas, dan penghormatan terhadap aturan yang sama.
Fenomena itu sesungguhnya memperlihatkan apa yang dimaksud Gadamer sebagai fusion of horizons. Pertandingan tidak menghapus perbedaan, tetapi mempertemukan berbagai cakrawala pengalaman dalam sebuah aktivitas bersama. Setiap pemain tetap membawa identitasnya masing-masing, namun identitas itu tidak lagi menjadi penghalang untuk bekerja sama.
Pemahaman lahir bukan karena semua orang menjadi sama, melainkan karena mereka bersedia berbagi ruang yang sama. Di titik inilah olahraga menjadi metafora yang hidup bagi seluruh proyek intelektual John L. Esposito: membangun jembatan di atas perbedaan, bukan memperkokoh tembok pemisah.
Ironisnya, pelajaran tersebut justru sering terlupakan ketika pertandingan selesai dan percakapan berpindah ke ruang digital. Kontroversi penggunaan Video Assistant Referee (VAR) pada Piala Dunia 2026 memperlihatkan bagaimana teknologi yang dirancang untuk memperkuat keadilan justru dapat memicu polarisasi baru.
Baca juga: Polres Bondowoso Gelar Nobar Final Piala Dunia 2026, Pererat Kedekatan dengan Masyarakat
Munculnya tagar #VARgentina di berbagai media sosial menunjukkan betapa cepat opini publik berkembang menjadi vonis kolektif. Sebagian pendukung meyakini adanya keberpihakan wasit, sementara pihak lain menganggap seluruh tuduhan itu hanya lahir dari kekecewaan akibat kekalahan. Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan tersebut, fenomena ini memperlihatkan kecenderungan yang lebih mendasar: manusia semakin mudah mengambil kesimpulan sebelum memahami keseluruhan konteks. Akibatnya, ruang publik sering berubah menjadi arena saling menghakimi, bukan ruang untuk saling belajar.
Sesungguhnya VAR bukan teknologi semata. Ia merupakan hermeneutika institusional. Ia menjadi teknologi yang memaksa manusia untuk menunda penilaian, memperhatikan dengan seksama pergerakan pemain, dan melihat dari banyak sudut pandang lainnya.
Tantangan Pasca Piala Dunia dan Warisan Esposito
Pada akhirnya, tantangan terbesar abad ke-21 bukanlah kekurangan teknologi ataupun informasi, melainkan semakin menipisnya kesediaan untuk memahami pihak lain. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia mendengar sebelum bereaksi, membaca sebelum menyimpulkan, dan berdialog sebelum menghakimi. Itulah warisan intelektual yang ditinggalkan John L. Esposito, warisan yang menjadikan pengetahuan bukan sekadar alat menjelaskan dunia, melainkan jalan untuk merawat perdamaian di tengah keberagaman.
Tontonan Piala Dunia membuat manusia semakin cepat berpendapat tentang kecurangan, tetapi tidak selalu semakin cepat memahami upaya menjaga perdamaian. Di sinilah warisan John L. Esposito memperoleh makna yang melampaui studi Islam. Ia mengingatkan bahwa perdamaian bukan pertama-tama lahir dari kesamaan keyakinan, melainkan dari kesediaan memperluas cakrawala pemahaman.
Sebagaimana diperlihatkan oleh VAR, setiap orang harus menunda penilaian sebelum benar-benar memahami duduk perkaranya. Pertemuan satu sudut pandang dengan sudut pandang lain dapat saja menimbulkan konflik, tetapi wasit adalah penengah yang berusaha seadil-adilnya. Ia menjadi jembatan yang adil, dibantu teknologi, untuk menuntaskan seluruh pertandingan hingga final antara Argentina dan Spanyol.
Barangkali dunia saat ini tidak kekurangan teknologi secanggih VAR. Yang lebih langka justru keberanian untuk melakukan apa yang diajarkan Esposito dan Gadamer: menunda prasangka, membuka dialog, dan memahami sebelum memutuskan
Editor : Redaksi