Riadi Ngasiran: Sejarah NU Tak Boleh Dipinggirkan dalam Sejarah Nasional

Reporter : Ibrahim
Forum Metodologi Riset Penulisan Sejarah, ISNU Kota Mojokerto, dok istimewa

Surabaya,JatimUPdate.id - Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama (PC ISNU) Kota Mojokerto, menggelar forum Metodologi Riset Penulisan Sejarah, di kantor PCNU setempat, Jumat (24/7) malam.

Wakil Ketua PCNU Kota Surabaya, Riadi Ngasiran, mengingatkan sejarah NU dalam sejarah nasional tidak bisa diganjilkan apalagi dipinggirkan.

Baca juga: Poros Tengah di Nahdlatul Ulama Muktamar NU ke 35 th. 

Sebab kaum santri dan umat Islam juga punya andil dalam sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia.

"Sejarah Nahdhatul Ulama tak bisa dipinggirkan hanya karena penulisan Sejarah Nasional mengganjilkan dan meminggirkan peran kaum santri dan umat Islam dalam perjuangan bangsa Indonesia," katanya.

Ia menegaskan, penulisan Sejarah Nasional Indonesia tidak timpang, harus memperhatikan keterlibatan umat Islam, utamanya kaum Santi.

Menurutnya peran mereka dalam pergerakan kemerdekaan, masa revolusi nasional Indonesia, hingga eksistensi Negara Republik Indonesia, harus ditulis secara utuh.

"Penulisan Sejarah Nasional Indonesia lazimnya bersifat objektif dan fair, mempertimbangkan peran-peran umat Islam, khususnya kaum santri, baik dalam Pergerakan Kemerdekaan, masa Revolusi Nasional Indonesia, hingga pada eksistensi Negara Republik Indonesia alias sejarah kontemporer kita," urainya.

Sejarawan NU ini, memaparkan Historiografi Nasional Indonesia, mempertimbangkan adanya sumber sejarah dan sejarah lisan, memoar para tokoh Nahdlatul Ulama dan pejuang Islam, dan kesaksian mereka. 

"Peran Sejarah umat Islam, khususnya kaum santri dan Nahdlatul Ulama yang selama ini ditempatkan di pinggiran (peripherial) haruslah digeser ke Tengah Percaturan Peran untuk menghadirkan Sejarah Nasional secara objektif dan utuh. Untuk diperlukan ketersediaan data dan sumber penulisan yang komperehensif, " tutur pengkaji Sejarah Gerakan Bawah Tanah Circle Sjahririan.

Baca juga: Prabowo Target Tutup 700-800 BUMN Merugi Tahun Ini, Klaim Hemat Anggaran hingga Triliunan Rupiah

Maka dari itu, ia mengingatkan Ketua Tim Kerja Monumen Resolusi Jihad NU, dokumen dan arsip Nahdlatul Ulama telah menjadi bagian penting dalam Arsip Nasional.

Pun menjadi sumber primer dan utama yang bisa dimanfaatkan untuk Penulisan Sejarah Nasional Indonesia konteporer. 

Riadi menuturkan, penulisan Sejarah Nahdlatul Ulama dalam Konstelasi Sejarah Nasioal Indonesia secara utuh dibutuhkan data yang valid.

Ia menekankan data itu berlandaskan dari sumber primer dan sumber skunder, dengan memanfaatkan penulisan Sejarah NU di tingkat lokal.

Baca juga: Perkuat Silaturahmi, Kapolsek Cengkareng Sambangi PCNU Jakarta Barat Bangun Sinergi Jaga Kamtibmas

"Penulisan Sejarah NU di tingkat lokal (baik Cabang maupun Wilayah NU), memberikan panorama zaman dan cata pandang dengan pemikiran lateral yang bisa menggambarkan spirit zaman dan suasana yang melatarbelakanginya, " tegas Tim Kreatif Film Dokumenter Moseum Nahdlatul Ulama ini. 

Menurutnya, peran tokoh sejarah lokal (baik Cabang maupun Wilayah), berkait dengan perjalan Sejarah NU secara umum, mendapat porsi perhatian yang penting.

Dari sudut pandangnya, sejarah tidaklah sekadar menghadirkan aktor-aktor besar, melainkan juga peran aktor-aktor pendukungnya di pelbagai tingkatan.

"Di sinilah, etersediaan dokumen, data, sumber primer dalam penulisan Sejarah Lokal dan Sejarah Nahdlatul Ulama secara Nasional, membuka peluang bagi penulisan Sejarah yang lebih utuh. Demikian pula pentingnya, memerhatikan panorama zaman keterkaitan dengan pergerakan sejarah dunia di kawasan lain selain Indonesia," kata Riadi Ngasiran. (*)

Editor : Miftahul Rachman

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru