Cerita Pendek

Warkop Ekspektasi Bagian 8: Persimpangan

Reporter : Redaksi
Ilustrasi cerita pendek Warkop Ekspetasi, jatimupdate.id

JatimUPdate.id - Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan. Rumah yang dahulu dipenuhi canda kini lebih sering diselimuti keheningan. 

Bahar Khan dan Ayu Chen masih tinggal di bawah satu atap, mereka masih menjalankan rutinitas seperti biasa. 

Baca juga: Mahkota Para Bayangan (Bagian VII)

Bahar Khan berangkat sejak pagi dan kembali ketika matahari hampir tenggelam. Sementara Ayu Chen tetap mengurus rumah serta pekerjaannya dengan tertib.

Tidak ada lagi pertengkaran besar, tak terdengar pula bentakan yang pernah memenuhi ruang tamu beberapa waktu lalu.

Namun keduanya memahami, hilangnya pertengkaran bukan berarti persoalan telah selesai. Ada kalanya dua orang memilih diam bukan karena telah saling mengerti, melainkan karena mulai kehabisan tenaga untuk memperdebatkan hal yang sama.

Bahar Khan tetap berusaha menjaga hubungan mereka, setiap kali hendak keluar rumah, ia selalu memberi tahu tujuan dan orang-orang yang akan ditemuinya. 

Sesekali ia mengajak Ayu Chen menikmati sore di taman kota atau cuma minum kopi atau es teh di warung langganan mereka.

Ayu Chen tidak pernah menolak, kendati begitu Bahar Khan merasakan perubahan yang sulit dijelaskan. Perempuan yang dahulu mudah tertawa kini lebih banyak memendam pikirannya sendiri.

Ia hadir, tetapi seolah tidak benar-benar berada di dekatnya, keadaan itu membuat Bahar Khan semakin sering merenung.

Ia bertanya kepada dirinya apakah masih ada jalan mengembalikan hubungan mereka seperti semula, atau justru semua yang dilakukan hanya menjadi cara menunda sesuatu yang tetap harus terjadi.

Suatu malam, hujan turun cukup deras. Listrik sempat padam beberapa saat sehingga rumah hanya diterangi cahaya lilin yang diletakkan di atas meja makan.

Bahar Khan dan Ayu Chen duduk saling berhadapan tanpa banyak berbicara, suasana sunyi itu justru membawa ingatan mereka kepada masa-masa awal pernikahan, ketika hidup mereka sering menghabiskan malam hanya ditemani teh hangat serta cahaya lampu minyak.

Setelah cukup lama terdiam, Ayu Chen akhirnya membuka pembicaraan.

"Aku sering bertanya kepada diriku sendiri,di mana sebenarnya kita mulai berubah," ucapnya pelan

Bahar Khan tidak segera menjawab, ia membiarkan Ayu Chen melanjutkan isi hatinya.

"Aku merasa semakin sulit mengenali diriku sendiri. Banyak hal yang dulu bisa kulewati dengan tenang, sekarang justru terasa berat," keluh Ayu Chen.

Baca juga: Analisis Lirik “Bidadari Api”: Metafora tentang Gairah, Kejujuran, dan Ketulusan 

Bahar Khan memandang wajah perempuan yang selama ini berusaha ia jaga, ia tahu perubahan itu bukan muncul begitu saja, terdapat luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Dua kali kehilangan calon buah hati telah meninggalkan ruang kosong di hati Ayu Chen. Sejak saat itu, perempuan yang dahulu tampak begitu kuat perlahan berubah menjadi pribadi yang lebih mudah cemas, sensitif, dan lebih sering menyimpan kegelisahan seorang diri.

Namun, Bahar Khan berusaha menemani semua proses itu, ia memilih bersabar, sekaligus berharap waktu dapat mengobati luka yang tidak mampu dijangkau oleh kata-kata.

Akan tetapi harapan tidak selalu berjalan seiring dengan kenyataan, luka yang dipendam terlalu lama justru perlahan mengubah cara mereka saling memandang.

"Aku tidak pernah menyalahkanmu, sebab apa yang terjadi bukan keinginan kita," kata Bahar Khan dengan suara tenang.

Mendengar kata Bahar Khan, Ayu Chen menggeleng pelan.

"Aku tahu, tapi kadang seseorang tidak sedang mencari siapa yang salah. Dia hanya lelah menghadapi dirinya sendiri," ucap Ayu Chen.

Kalimat itu membuat Bahar Khan menundukkan kepala, untuk pertama kalinya ia menyadari selama ini ia terlalu sibuk menjadi orang yang kuat.

Baca juga: Analisis Lirik “Goresan Pelangi” 7 Kurcaci: Keindahan yang Berakhir Menjadi Luka

Ia lupa bahwa Ayu Chen mungkin tidak membutuhkan seseorang yang selalu tampak tegar.

Perempuan itu hanya membutuhkan seseorang yang mau duduk di sampingnya dan mengakui mereka sama-sama terluka.

Hujan di luar semakin deras, suara rintiknya memenuhi seluruh rumah, tak ada lagi pembicaraan setelah itu.

Mereka memilih menikmati keheningan yang terasa jauh lebih jujur daripada kata-kata yang dipaksakan.

Menjelang tengah malam, Ayu Chen berdiri dari kursinya, sebelum melangkah menuju kamar, ia berhenti beberapa saat. Tanpa menoleh ke belakang, ia berkata dengan suara lirih.

"Mungkin... kita sama-sama sudah terlalu lelah," tegas Ayu Chen. 

Kalimat itu menggantung di udara, Bahar Khan tidak mengejar. Ia hanya memandang punggung Ayu Chen yang perlahan menghilang di balik pintu kamar.

Di dalam hatinya tumbuh sebuah perasaan yang sejak lama berusaha ia tepis. Mungkin, ada saatnya cinta tidak lagi kalah oleh kebencian. Melainkan oleh kelelahan yang dipendam terlalu lama.

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru