Oleh Dr. Agus Andi Subroto, STP., M.M.
Baca juga: PT PAL Bakal Memulai Produksi Kapal Selam Siluman Scorpène Evolved
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan, Ketua umum DPD Afebsi Jawa Timur, Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia
Surabaya, JatimUPdate.id - Petang telah merangkak menuju malam, saat saya mengunci pintu rumah di Rungkut, Surabaya, sepulang dari aktivitas di Kampus ITB Yadika Pasuruan.
Dalam keheningan setelah seharian bergelut dengan urusan akademik dan organisasi, sebuah kalimat terus berdengung di telinga batin saya: "Meletakkan hasrat di bawah dharma."
Sebuah prinsip yang di era demokrasi transaksional ini terdengar sangat berat, bahkan mungkin dianggap "halu" bagi sebagian orang. Namun, jika kita membedah sejarah dan logika manajemen, inilah fondasi satu-satunya bagi kemajuan peradaban.
Tradisi Leluhur: Bukan Halu, tapi Laku
Bagi leluhur Nusantara, konsep "selesai dengan diri sendiri" bukanlah angan-angan. Tradisi ini hidup dalam filosofi Tapa Ngrame—aktif bekerja di tengah keramaian dunia namun batinnya tetap hening dan lepas dari kemelekatan materi. Kita mengenal sosok Prabu Airlangga yang di puncak kejayaannya justru menanggalkan jubah raja untuk menjadi resi, atau Gajah Mada yang melalui Sumpah Palapa-nya meletakkan kesenangan pribadi (mukti palapa) di bawah janji penyatuan Nusantara.
Para leluhur mengajarkan bahwa pemimpin yang belum selesai dengan egonya hanya akan menjadi beban bagi rakyatnya. Mereka tidak halu; mereka membuktikannya dengan membangun peradaban yang bertahan berabad-abad.
Sinergi Mental Entrepreneur: Dari Profit menuju Value
Bagaimana mengaitkan konsep spiritual ini dengan dunia nyata? Jawabannya ada pada mentalitas Entrepreneur sejati.
Dalam ilmu kewirausahaan, seorang pengusaha yang "belum selesai dengan dirinya" akan terjebak pada mentalitas pemburu: mengambil untung sebesar-besarnya meski harus merusak ekosistem. Sebaliknya, entrepreneur yang "sudah selesai" akan fokus pada penciptaan nilai (value creation).
Ia tidak lagi digerakkan oleh rasa takut kekurangan uang, karena ia yakin pada kreativitasnya sebagai sumber kelimpahan.
Baca juga: Tim PKM S1 Pariwisata UNESA Latih Warga Wethan Wonderland Jadi Pemandu Wisata Berbahasa Asing
Ketika seorang pemimpin atau pengusaha merasa dirinya sudah "cukup" secara batin, ia tidak akan lagi dipusingkan oleh urusan memperkaya diri sendiri.
Energinya dialihkan sepenuhnya untuk memastikan organisasinya tumbuh dan bermanfaat bagi orang lain. Inilah yang dalam manajemen modern disebut sebagai Purpose-Driven Leadership.
Studi Kasus: Integritas di Atas Aspal
Mari kita lihat kenyataan yang sering saya temui di jalanan. Saat saya mengenakan jaket OJOL dan memacu motor tua, saya bertemu banyak orang yang secara ekonomi dianggap kurang, namun batinnya sudah "selesai".
Mereka bekerja bukan hanya demi uang, tapi demi tanggung jawab menghidupi keluarga (Dharma). Mereka tidak minder, mereka tidak mengemis.
Bandingkan dengan oknum pejabat yang secara administratif bergelar tinggi dan bergaji besar, namun masih melakukan korupsi. Mengapa? Karena secara batin mereka belum selesai. Mereka masih merasa "kurang", masih butuh validasi lewat kemewahan, dan masih diperbudak oleh hasrat pribadinya.
Gelar Doktor atau posisi Rektor tidak menjamin seseorang telah selesai dengan egonya jika tidak dibarengi dengan laku prihatin.
Baca juga: Ritus Jeda: Menemukan Wajah Ayah dalam Secangkir Kopi
Menuju SDM Nusantara yang Berdaulat
Indonesia tidak butuh lebih banyak orang pintar yang rakus. Kita butuh manusia Nusantara yang berani berkata: "Kebutuhan pribadi saya sudah cukup, sekarang saatnya hidup saya menjadi 'Urup' (cahaya) bagi orang lain."
Inilah arsitektur manusia yang kita rancang; manusia yang memiliki ketangkasan global namun memiliki keteguhan moral peninggalan leluhur.
Ketika kita mampu meletakkan hasrat di bawah dharma, kita menjadi manusia yang merdeka sepenuhnya. Kita tidak bisa disuap dengan harta, tidak bisa dijatuhkan dengan fitnah, dan tidak bisa dijerat oleh ego. Di sanalah letak kejayaan Nusantara yang sesungguhnya.
Editor : Redaksi