Surabaya, 13 Agustus 2026

Empat Pilar Kecerdasan: Merancang "Raja-Raja" Baru di Rahim Almamater

Reporter : Redaksi
Agus Andi Subroto

 

Oleh Dr. Agus Andi Subroto, S.T.P., M.M.

Baca juga: Alkimia Karakter: Menjahit Niat dan Aksi di Tanah Nusantara

Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan, Ketua Umum DPD AFEBSI Jawa Timur, Wasekjen IDEI (Insan Doktor Ekonomi Indonesia)


Surabaya, JatimUPdate.id - Kamis pagi, 13 Agustus 2026. Di tengah udara segar yang mulai berembun, memori saya mendadak ditarik kembali ke lorong-lorong waktu era 90-an di Universitas Brawijaya. Kala itu, saya adalah salah satu dari ribuan anak muda yang datang dengan tas ransel penuh mimpi, melintasi gerbang kampus dengan harapan setinggi langit.

Pagi ini, melihat antusiasme ribuan "Raja Brawijaya" (sebutan bagi mahasiswa baru UB) yang sedang menjalani OSPEK, ada rasa bahagia dan "plong" yang meluap di batin saya.

Banyak yang bertanya, apa sebenarnya substansi dari sebuah OSPEK? Mengapa ia begitu krusial sehingga setiap mahasiswa baru wajib melaluinya? Bagi saya, OSPEK bukanlah sekadar pengenalan gedung atau birokrasi kampus. OSPEK adalah sebuah proses "Inisiasi Identitas".

Ia adalah jembatan yang mengubah seorang siswa menjadi "Maha"-siswa—sebuah gelar yang menuntut kemandirian berpikir dan kedaulatan batin.

Dalam hal ini, saya sangat tergetar menyimak pesan *Rektor UB, Prof. Widodo*, yang menekankan bahwa mahasiswa masa kini harus memiliki empat pilar kecerdasan: Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), dan Adversity Quotient (AQ).

Baca juga: Menko AHY Hadiri Kampanye Nasional Grab, Dorong Percepatan Tranformasi Transportasi Ramah Lingkungan

Sebagai praktisi manajemen SDM, saya melihat empat pilar ini adalah desain arsitektur manusia yang paripurna. IQ memberikan ketajaman nalar agar mahasiswa tidak mudah hanyut oleh arus informasi palsu (post-truth).

EQ membangun jembatan relasi dan empati, karena di dunia nyata, kolaborasi jauh lebih berharga daripada kompetisi. SQ menuntun mereka pada kebijaksanaan nilai luhur, agar ilmu yang diraih tidak disalahgunakan untuk merusak tatanan.

Namun, yang paling krusial di era disrupsi ini adalah AQ (Adversity Quotient)p0. Inilah manfaat terbesar OSPEK yang sering kali tidak disadari. OSPEK mendidik mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman, berhadapan dengan tekanan, dan belajar memecahkan masalah di bawah tekanan waktu dan aturan. Inilah simulasi kehidupan yang sesungguhnya.

Saya teringat perjalanan saya sendiri. Bahwa gelar Doktor tidak akan memiliki "Ruh" jika tidak dibarengi dengan ketahanan mental di aspal jalanan. Pengalaman menjadi OJOL dan tetap setia pada kesahajaan mengajar kita tentang AQ yang nyata: bahwa kesulitan bukan untuk dihindari, melainkan untuk diselaraskan menjadi kekuatan. Mahasiswa baru harus mengikuti proses ini agar mereka tidak menjadi "generasi stroberi" yang indah di luar namun rapuh di dalam.

Baca juga: Viral Driver Ojol Panjat Truk Dishub, Sudinhub Jakarta Timur Minta Maaf

Waktu berjalan begitu cepat. Teman-teman seperjuangan saya di masa OSPEK dahulu kini telah bertransformasi menjadi pemimpin, pejabat, dan pendidik. Kini giliran kita untuk memastikan bahwa adik-adik "Raja Brawijaya" ini tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga "Selesai dengan Dirinya". Kita sedang menyiapkan sebuah "Rumah Besar" di mana setiap penghuninya merasa berlimpah. Tidak ada lagi ruang untuk rasa minder, karena di dalam diri setiap mereka tersimpan potensi untuk menjadi Arsitek bagi peradaban Nusantara.

Selamat datang, para calon pemimpin bangsa. Ikutilah proses ini dengan hati yang lapang. Jadilah manusia yang merdeka, yang akarnya menghujam ke tradisi (SQ & EQ) dan dahan karyanya menjulang menantang langit global (IQ & AQ). Di setiap sorak-sorai kalian, saya melihat fajar kejayaan Nusantara tengah terbit dengan gagahnya.

 

 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru