Oleh Dr. Agus Andi Subroto, STP., M.M.
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Ketua DPD AFEBSI Jawa Timur
Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia
Baca juga: Pagar Tinggi Mal: Komisi B Sebut Pengusaha Was-was Isu Kerusuhan, Lindungi Aset
Surabaya, JatimUPdate.id - Ada sebuah foto lama yang sore ini tiba-tiba terasa berbicara lebih keras dari biasanya ketika dipandang kembali.
Seorang lelaki berdiri di depan wajan. Asap mengepul hebat, menyelimuti wajah yang tertunduk penuh fokus. Tangannya sibuk, memastikan setiap butir nasi goreng berpindah sempurna ke dalam wadah. Tidak ada ruang berpendingin udara, tidak ada presentasi business plan yang rapi, apalagi istilah keren khas startup.
Yang ada hanyalah wajan, keringat, aroma bumbu, pelanggan yang menunggu, dan sebuah kemauan tulus untuk bekerja.
Itulah potret Nasi Goreng Mbah Joyo.
Dulu, pemandangan semacam itu mungkin hanya dipandang sebagai bagian dari perjalanan bertahan hidup. Namun, ketika ditarik ke ruang akademik hari ini, muncul sebuah pertanyaan mendasar: Apa sebenarnya yang sedang dipelajari ketika seseorang belajar kewirausahaan?
Apakah sekadar tentang bagaimana membuka usaha, mencari modal, atau menghitung laba-rugi?
Semua itu penting. Namun, kewirausahaan sesungguhnya dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus mendalam: *kemauan untuk melihat kebutuhan, keberanian mengambil inisiatif, ketangguhan bekerja dalam keterbatasan, dan komitmen untuk menciptakan nilai bagi orang lain*.
Oleh karena itu, kewirausahaan tidak semestinya dipersempit menjadi urusan siapa yang kelak memiliki perusahaan.
Kenyataannya, tidak semua mahasiswa akan menjadi pengusaha. Sebagian mungkin akan membuka bisnis sendiri. Namun, sebagian besar lainnya akan berkarier di pabrik, bank, kantor hukum, perusahaan manufaktur, korporasi, hingga pemerintahan.
Dan tidak ada satu jalan pun yang lebih rendah dari yang lain.
Pembeda sejati justru terletak pada cara seseorang menjalani pekerjaannya.
Seorang lulusan yang bekerja di sebuah perusahaan, misalnya, dapat memilih untuk sekadar menjalankan instruksi. Datang, bekerja, menyelesaikan tugas sesuai SOP, lalu pulang. Namun, seorang yang berjiwa entrepreneur akan mulai bertanya: "Mengapa proses ini selalu lambat? Mengapa bahan baku terbuang? Mengapa pelanggan mengeluhkan hal yang sama? Apakah ada cara kerja yang lebih baik?"
Baca juga: Imam Syafi'i: Pengusaha Lagi Sulit, Jangan Dibebani Pendanaan Event Pemkot
Pertanyaan sederhana itu menunjukkan sesuatu yang vital: inisiatif untuk menciptakan nilai.
Di situlah mental entrepreneur menemukan tempatnya, bahkan di dalam organisasi milik orang lain. Inilah yang dalam kajian terkini disebut sebagai intrapreneurship —perilaku kewirausahaan yang dibawa ke dalam tempat kerja.
Maka, belajar kewirausahaan di perguruan tinggi tidak harus dimaknai sebagai kewajiban untuk mencetak sebanyak mungkin pemilik perusahaan. Yang jauh lebih penting adalah menumbuhkan cara berpikir entrepreneurial.
Cara berpikir yang tidak terlalu cepat bertanya, "Apa yang menjadi tugas saya?", tetapi berani bertanya, "Apa yang bisa diperbaiki?"
Ia tidak hanya menunggu peluang, tetapi belajar mengenali jejaknya. Tidak sekadar mengeluhkan persoalan, tetapi mencoba mencari jalan keluar. Tidak bekerja hanya untuk menerima upah, tetapi memahami bahwa setiap pekerjaan adalah peluang untuk menghasilkan dampak yang lebih baik.
Bagi setiap insan yang sedang berproses, pesan ini menjadi krusial. Kampus Entrepreneur semestinya melahirkan lulusan yang berjiwa pencipta, apa pun profesinya kelak. Ada yang menjadi pengusaha, manajer, profesional, atau birokrat.
Jalan setiap orang berbeda, tetapi semangatnya bisa sama: berani mengambil inisiatif, mau belajar, mampu membaca peluang, dan bersedia menciptakan sesuatu yang lebih bermakna.
Baca juga: Catatan Emper Omah: Lanskap di Seberang Papan Nama
Kembali kepada foto lama itu.
Di depan wajan panas sembari kalungan anduk, barangkali tidak pernah terpikirkan bahwa aktivitas sederhana memasak nasi goreng suatu hari akan dibaca sebagai pelajaran kewirausahaan yang fundamental. Namun, kehidupan memang sering mengajarkan sesuatu jauh sebelum teori memberinya nama.
Sebuah usaha tidak selalu dimulai dari modal besar; ia dimulai dari keberanian untuk mulai bekerja. Inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium canggih; ia lahir dari kegelisahan melihat pekerjaan yang bisa dilakukan dengan cara yang lebih baik.
Dan seorang entrepreneur tidak selalu berdiri sebagai pemilik perusahaan. Kadang ia duduk di meja kerja sebagai karyawan, tetapi pikirannya terus mencari kemungkinan-kemungkinan baru.
Tidak semua orang harus menjadi pengusaha. Tetapi, setiap orang sebaiknya belajar menjadi entrepreneur dalam cara menjalani profesi dan kehidupan. Sebab pada akhirnya, yang membedakan seseorang bukan hanya di mana ia bekerja, melainkan nilai apa yang ia ciptakan dari apa yang ia kerjakan.
Editor : Redaksi