Surabaya,JatimUPdate.id - Lagu “Lentera Cinta” yang dinyanyikan Nicky Astria pada 1986 menghadirkan kisah tentang seseorang yang berusaha menjauh dari cinta, tetapi justru semakin terseret ke dalamnya.
Liriknya bergerak di antara keinginan untuk melupakan, kerinduan yang semakin kuat, dan kebutuhan akan petunjuk dari orang yang dicintai.
Baca juga: Mahkota Para Bayangan (Bagian IX)
Diksi yang digunakan cenderung puitis, romantis, dan simbolis. Kata-kata seperti langkah, bayangmu, cinta yang semu, jejakmu, lentera, dan kegelapan tidak cuma berfungsi sebagai kata biasa, tetapi menjadi bagian dari gambaran perjalanan batin.
Pengulangan frasa “seribu kali” memperkuat kesan tokoh lirik telah berkali-kali mencoba melawan perasaannya. Kendati begitu, usaha tersebut selalu gagal.
Diksi dalam lagu ini juga lebih halus dibandingkan lirik percintaan yang menggunakan bahasa langsung.
Kesedihan tidak disampaikan dengan keluhan panjang, melainkan melalui simbol perjalanan dan cahaya.
Imaji paling kuat dalam lagu ini imaji visual. Ungkapan “menatap bayangmu”, “menatap gambarmu”, “jejakmu samar-samar”, “lentera”, dan “kegelapan” membangun gambaran seseorang yang sedang mencari arah.
Ada pula imaji gerak melalui kata melangkah dan ikuti. Tokoh lirik seolah berada dalam sebuah perjalanan, tetapi tidak mengetahui ke mana harus pergi.
Perjalanan tersebut sebenarnya merupakan perjalanan emosional, bukan perjalanan fisik.
Beberapa kata konkret yang menjadi fondasi imaji adalah, gambarmu, bayangmu, langkah, jejak, lentera, kegelapan.
Kata-kata tersebut membuat perasaan abstrak seperti cinta, kebingungan, dan kerinduan dapat divisualisasikan.
“Lentera” menjadi kata konkret yang sangat penting. Sebab kemudian berkembang menjadi simbol harapan dan petunjuk.
Gaya bahasa utama lagu ini adalah metafora. “Lentera cintamu” bukan lentera dalam arti sebenarnya. Lentera menjadi lambang cahaya, petunjuk, harapan, dan kehadiran orang yang dicintai.
Kendati begitu, “kegelapan” menjadi simbol kebingungan atau keadaan tanpa arah.
Ungkapan “jejakmu samar-samar kuikuti” juga bersifat metaforis. Jejak tersebut dapat dimaknai sebagai tanda-tanda atau kenangan tentang seseorang yang masih ingin diikuti.
Selain metafora, terdapat repetisi yang sangat dominan, utamanya “seribu kali” dan “agar ku tak jatuh dalam kegelapan.”
Pengulangan itu bukan hanya memperindah lagu, tetapi memperkuat tekanan emosional.
Rima lagu ini tidak dibangun dengan pola puisi tradisional yang ketat.
Namun, terdapat keselarasan bunyi pada sejumlah larik seperti, “menghindari - kembali - pasti” serta “melangkah - kuikuti - melangkah - untukku.”
Baca juga: Warkop Ekspektasi Bagian 11: Pintu yang Tertutup
Yang lebih menonjol justru rima dan pengulangan frasa yang mendukung melodi.
Struktur bunyinya terasa mengalir dan cocok dengan karakter balada rock yang emosional.
Ritmenya dibangun melalui pola pengulangan yang bertahap.
Bagian awal menggunakan pengulangan “seribu kali”, seolah menggambarkan usaha yang dilakukan berulang-ulang.
Kemudian ritme emosional meningkat ketika muncul pertanyaan, “Ke mana ku harus melangkah?” Pertanyaan tersebut menjadi titik kegelisahan.
Setelah itu, bagian “Terangilah kasih, lentera cintamu itu” hadir sebagai permohonan.
Pengulangan “agar ku tak jatuh dalam kegelapan” membuat bagian tersebut terasa seperti klimaks emosional.
Secara struktur, lirik ini sederhana dan efektif. Terdapat dua bagian utama sebelum masuk ke bagian yang menjadi reff, kemudian beberapa bagian diulang.
Tipografi tersebut menciptakan pola, usaha melupakan, kerinduan, kebingungan, permohonan, pengulangan.
Pengulangan bagian akhir menjadi penting karena lagu tidak ditutup dengan penyelesaian konflik. Sebab tokoh lirik tetap berada dalam kebutuhan terhadap “cahaya” cinta tersebut.
Baca juga: Analisis Lirik “Galau” Mel Shandy: Ketika Kenangan Bikin Hati Terjebak dalam Kebimbangan
Tema utama, cinta yang sulit ditinggalkan dan pencarian arah dalam hubungan yang penuh ketidakpastian.
Namun, ada lapisan tema yang lebih dalam, ketergantungan emosional terhadap seseorang yang menjadi sumber cahaya kehidupan.
Rasa yang muncul adalah, rindu, bimbang, takut kehilangan, pasrah, berharap, dan kesepian.
Lagu ini tidak menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang sepenuhnya membahagiakan. Cinta justru digambarkan sebagai sesuatu yang “terlalu sulit”, tetapi tetap ingin didekati.
“Lentera Cinta” kuat karena menggunakan simbol sederhana untuk menggambarkan konflik batin yang kompleks.
Langkah dan jejak menjadi simbol pencarian, sementara lentera dan kegelapan menjadi simbol harapan dan ketidakpastian.
Di situlah kekuatan liriknya. Tokoh dalam lagu sebenarnya ingin pergi, tetapi terus kembali.
Ingin melupakan, tetapi terus mengingat. Ia ingin menentukan jalan sendiri, tetapi tetap meminta cahaya dari orang yang dicintainya.
“Lentera Cinta” bukan hanya lagu tentang kerinduan, melainkan tentang seseorang yang kehilangan arah ketika cinta yang ingin ditinggalkannya ternyata masih menjadi cahaya yang paling ia butuhkan. (Roy/mmt)
Editor : Miftahul Rachman