Oleh Khibar Syiar Moehammad
Baca juga: Kalimantan Bukan Kiamat, Tapi Asap Dan Air Bersih Tak Boleh Dianggap Sepele
Peneliti PSPK-UB, Mahasiswa Doktoral fakultas perikanan dan ilmu kelautan
Malang, JatimUPdate.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan bukanlah fenomena baru. Secara alamiah, cuaca ekstrem dan fenomena iklim seperti El Niño memang mampu memicu munculnya titik api pada ekosistem gambut yang mengering.
Namun, menjadi sangat menyedihkan ketika fakta di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas kebakaran yang terjadi belakangan ini bukanlah murni bencana alam, melainkan disengaja oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Bencana ini dirancang demi keuntungan segelintir pihak, namun mengorbankan hajat hidup masyarakat luas.
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta berbagai lembaga pemantau independen secara konsisten mencatat bahwa ribuan titik panas (hotspot) muncul di area konsesi perkebunan dan konsesi kehutanan saat musim kemarau tiba.
Metode pembakaran lahan (slash and burn) masih terus digunakan karena dinilai sebagai cara paling murah dan cepat untuk membuka lahan sawit baru. Kebijakan pembersihan lahan yang tidak bertanggung jawab ini berujung pada malapetaka ekologis.
Baca juga: Kalimantan, Pulau Yang Terlalu Sabar?
Ratusan ribu hektar lahan terakumulasi terbakar, memicu kabut asap tebal yang melumpuhkan berbagai aktivitas di Kalimantan. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di kota-kota seperti Palangkaraya dan Pontianak sering kali menyentuh level bahaya.
Sekolah-sekolah diliburkan, penerbangan dibatalkan, dan puluhan ribu warga terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)—terutama anak-anak dan lansia. Kalimantan, yang seharusnya menjadi salah satu paru-paru dunia dan benteng pertahanan iklim global, justru berubah menjadi lautan asap raksasa.
Dampak kebakaran ini terasa sangat fatal bagi keanekaragaman hayati (biodiversitas) Indonesia.
Hutan hujan tropis Kalimantan merupakan rumah bagi spesies endemik terancam punah, seperti Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), bekantan, serta beruang madu. Ketika hutan mereka terbakar, satwa-satwa ini tidak hanya kehilangan ruang hidup, tetapi juga sering kali mati terperangkap api atau masuk ke pemukiman warga karena kelaparan hingga akhirnya berkonflik dengan manusia.
Potensi pengetahuan dan riset keanekaragaman hayati yang sangat kaya di dalamnya hangus begitu saja, kalah oleh godaan profitabilitas komoditas sawit.
Kekayaan alam yang seharusnya dijaga dan dikonservasi kini tak lagi menarik bagi orang-orang yang telah mengecap manisnya eksploitasi.
Pola pikir yang menempatkan ekonomi di atas ekologi ini mencerminkan keserakahan yang amat nyata. Generasi yang hidup hari ini tengah mewariskan utang ekologis yang sangat besar: tanah yang terdegradasi, hilangnya keanekaragaman hayati, serta ancaman krisis iklim yang makin nyata bagi generasi mendatang.
Sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan bertindak tegas. Penegakan hukum terhadap korporasi maupun individu penjahat lingkungan harus dilakukan tanpa tebang pilih, termasuk pencabutan izin usaha dan kewajiban restorasi lahan.
Kalimantan yang memiliki tutupan hutan luas tidak boleh hanya dipandang sebagai komoditas angka-angka rupiah belakangan ini. Ingatlah, memicu kerusakan alam demi keserakahan jangka pendek hanya akan membawa bencana ekologis yang tidak akan bisa dibayar balik oleh materi apa pun.
Editor : Redaksi