catatan tangan kanan _wiedmust-250826_
Kalimantan, Pulau Yang Terlalu Sabar?
Oleh widodo, p.hd.,
pengamat keruwetan sosial
Surabaya, JatimUPdate.id - Kalau disuruh menyebut warga negara Indonesia yang paling sabar, mungkin salah satu jawabannya adalah warga Kalimantan.
Bagaimana tidak?
Kalau hujan datang, banjir bisa menggenang berhari-hari. Kalau hujan pergi dan kemarau datang, masalahnya berganti: panas, kekeringan, lalu bonus asap kebakaran hutan dan lahan.
Komplit.
Kalimantan seperti diuji dari dua arah: kebanjiran ketika air terlalu banyak, kepanasan ketika air terlalu sedikit.
Dan tahun ini, ujian itu terasa lebih berat.
BMKG menyebut kondisi El Niño 2026 berada pada kategori sangat kuat. Sebagian wilayah Indonesia mengalami kondisi kering dan risiko karhutla meningkat. Kalimantan termasuk kawasan yang perlu mendapat perhatian serius.
Persoalannya kemudian sederhana:
Kalimantan ini sebenarnya mendapatkan apa dari kekayaan alamnya?
Pulau ini bukan kaleng-kaleng. Batu bara, minyak dan gas, perkebunan, kehutanan serta berbagai sumber daya alam dari Kalimantan telah lama menjadi bagian penting dari ekonomi Indonesia.
Kalimantan Timur saja, misalnya, mencatat ekspor US$2,305 miliar pada Desember 2025.
Tetapi masyarakat tentu berhak bertanya:
Kalau sumber daya alamnya begitu besar, mengapa beban ekologisnya juga begitu terasa?
Jangan sampai daerah penghasil hanya mendapat cerita tentang betapa kayanya tanah mereka, sementara masyarakatnya kebagian banjir, jalan rusak, lubang tambang, udara kotor dan asap.
Memang ada Dana Bagi Hasil atau DBH. Tetapi persoalannya bukan sekadar berapa rupiah yang ditransfer.
Yang lebih penting adalah:
Apakah manfaat ekonomi itu sudah sebanding dengan beban ekologis yang harus ditanggung daerah?
Ini bukan soal Kalimantan ingin memisahkan diri dari Indonesia. Justru pertanyaan semacam ini penting agar rasa memiliki terhadap Indonesia tetap kuat.
Sejarah menunjukkan, ketidakadilan ekonomi dan rasa diperlakukan tidak adil dapat menjadi salah satu sumber ketidakpercayaan terhadap pemerintah pusat.
Karena itu jangan sampai masyarakat terlalu lama disuruh bersabar.
Sebab diam tidak selalu berarti puas.
Kadang orang diam karena masih percaya.
Dan kepercayaan itu harus dijaga.
Karhutla juga tidak cukup dihadapi setelah asap memenuhi udara.
Lahan gambut yang mengering sangat rentan terbakar. Api bahkan dapat bertahan di bawah permukaan dan sulit dipadamkan. Karena itu pencegahan harus dilakukan jauh sebelum api membesar: menjaga gambut tetap basah, patroli, deteksi dini, pengawasan konsesi dan penegakan hukum.
BMKG telah mengingatkan bahwa risiko karhutla 2026 meningkat, terutama pada puncak kemarau sekitar Agustus–September. Pemerintah juga telah melakukan berbagai langkah mitigasi.
Jadi pertanyaannya bukan lagi:
"Apakah kita tahu akan ada karhutla?"
Kita sudah tahu.
Pertanyaannya:
"Seberapa serius kita mencegahnya?"
Sebab kalau setiap tahun kita baru sibuk mencari siapa yang membakar setelah asap mengepul, itu seperti mencari payung setelah kehujanan.
Padahal hujannya sudah diprediksi.
Kalimantan tidak meminta langit selalu cerah. Tidak pula meminta hujan turun setiap hari.
Masyarakat hanya ingin negara hadir dengan sistem yang kuat ketika alam sedang ekstrem.
Mereka ingin kekayaan alam yang keluar dari tanah Kalimantan juga kembali dalam bentuk lingkungan yang sehat, infrastruktur yang layak, pelayanan publik yang baik dan kualitas hidup yang manusiawi.
Jangan sampai Kalimantan menjadi paradoks besar negeri ini:
tanahnya kaya, tetapi rakyatnya harus membeli masker untuk bernapas.
Dan jangan pula kesabaran masyarakat dianggap sebagai tanda semuanya baik-baik saja.
Sebab kesabaran adalah modal sosial.
Tetapi kesabaran, seperti baterai telepon genggam, juga punya batas.
Jangan sampai negara baru sibuk mencari charger ketika baterainya sudah tinggal satu persen.
Editor : Redaksi