Masa Depan Kepulauan Indonesia

Reporter : Redaksi
Yudisium Latif

 

Oleh Yudi Latif

Baca juga: Indonesia Berhasil Dekolonialisasi

 

JatimUPdate.id

Bayangkan kita berdiri di tepi laut.

Di hadapan kita, cakrawala tampak tenang. Air bergerak pelan. Pulau di kejauhan terlihat kokoh dan tetap. Gunung berdiri di tempatnya. Tanah di bawah kaki terasa begitu pasti sehingga kita jarang mempertanyakan satu hal sederhana:

Apakah tanah ini benar-benar diam?

Jawabannya: tidak. Indonesia sedang bergerak.

Bukan hanya laut yang bergelombang dan angin yang berpindah. Tanah yang kita pijak pun sedang melakukan perjalanan.

Lempeng-lempeng bumi bergerak hanya beberapa sentimeter dalam setahun. Bagi manusia, jarak itu nyaris tidak berarti. Dalam satu kehidupan, pergeserannya mungkin hanya beberapa meter.

Namun gerakan kecil yang berlangsung terus-menerus akan menjadi besar jika diberi waktu yang cukup.

Satu sentimeter setiap tahun menjadi satu meter dalam seratus tahun, sepuluh meter dalam seribu tahun, dan satu kilometer dalam seratus ribu tahun. Dalam jutaan tahun, jarak yang ditempuh dapat mencapai puluhan hingga ratusan kilometer.

Di situlah perbedaan waktu manusia dan waktu bumi menjadi nyata. Manusia melihat satu generasi; bumi bekerja dalam jutaan tahun. Dalam rentang itu, pulau dapat berpindah, laut menyempit, pegunungan terangkat, dan benua yang berjauhan saling mendekat.

Bumi tidak bergerak dengan tergesa-gesa. Ia hanya tidak pernah berhenti.
----

Ketika Australia Datang dari Selatan

Di sebelah selatan Indonesia, Australia bergerak ke utara sebagai bagian dari pergerakan Lempeng Indo-Australia.

Australia bukan sekadar sebuah benua yang bergerak sendiri. Daratan Australia berada di atas bagian lempeng yang juga mencakup kerak samudra di sekitarnya.

Di hadapannya terbentang Indonesia—kepulauan yang terbentuk dari pertemuan berbagai lempeng dan pecahan kerak bumi.

Di sepanjang Sumatra dan Jawa, kerak samudra yang dibawa Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Sunda. Tekanan dari pertemuan kedua lempeng itu membuat kerak di atasnya tertekan, retak, terlipat, dan terangkat.

Dari proses yang berlangsung jauh di bawah permukaan itu lahir sebagian bentang alam Indonesia yang kita kenal: palung laut, pegunungan, gunung api, dan gempa.

Bentang alam yang tampak tetap di permukaan sesungguhnya menyimpan sejarah gerakan bumi yang panjang.
----

Indonesia Timur: Ketika Bumi Menjadi Lebih Rumit

Namun Indonesia tidak memiliki satu cerita tektonik.

Semakin ke timur, hubungan antarlempeng menjadi semakin rumit.

Di sekitar Timor, Banda, Sulawesi, dan Papua, bagian Australia berhadapan dengan berbagai lempeng dan pecahan kerak bumi. Ada yang menunjam, bergeser menyamping, bertumbukan, terlipat, dan terangkat.

Di sini, bumi seolah-olah sedang meremas sebuah mosaik.

Sebagian laut menyempit, sebagian daratan terangkat, sementara sebagian kerak bumi masuk kembali ke dalam bumi.

Di kawasan Banda, misalnya, interaksi antara subduksi dan tumbukan Australia dengan sistem Sunda menghasilkan zona deformasi yang jauh lebih kompleks daripada subduksi di sepanjang Jawa.

Itulah sebabnya Indonesia timur memiliki bentang alam yang begitu rumit. Dan proses itu belum selesai.

----

Apa yang Diberikan Bumi kepada Kita

Dari gerakan yang berlangsung jauh di bawah permukaan itu, manusia menerima sekaligus menghadapi banyak hal.

Pegunungan menyediakan sumber air. Aktivitas vulkanik menghasilkan tanah yang di banyak tempat subur. Laut dan selat menjadi ruang hidup sekaligus jalur perpindahan manusia. Lembah dan dataran kemudian menjadi tempat tumbuhnya permukiman dan peradaban.

Bumi membangun sekaligus menghadirkan risiko.

Gunung api dapat menyuburkan tanah, tetapi juga meletus. Pegunungan menyediakan air, tetapi lerengnya dapat longsor. Laut menjadi sumber kehidupan dan jalur perdagangan, tetapi wilayah pesisir juga menghadapi gempa dan tsunami.

Di Indonesia, manfaat dan risiko itu berasal dari sistem bumi yang sama.

Karena itu, memahami bumi bukan sekadar urusan ahli geologi. Ia adalah pengetahuan tentang bagaimana kita harus hidup.

Kita tidak dapat menghentikan Australia bergerak ke utara atau lempeng bertumbukan. Tetapi kita dapat belajar membaca bumi: mengetahui di mana dan bagaimana membangun, menjaga hutan dan lereng, memperkuat kota, serta menyiapkan masyarakat menghadapi gempa dan tsunami.

Kita mungkin tidak dapat menghentikan proses alam.

Tetapi kita dapat mengurangi ongkos yang harus dibayar oleh manusia.
----

Tanah yang Kita Klaim

Ada pelajaran lain yang lebih sunyi.

Pergerakan bumi mengingatkan kita bahwa tidak ada yang benar-benar tetap, betapapun kokoh dan abadinya ia tampak.

Baca juga: Road Maps Integrasi Indonesia-Dunia Islam

Benua bergerak. Gunung berubah. Pulau bergeser. Laut berganti bentuk.

Tanah yang kita sebut rumah pun memiliki sejarah dan masa depannya sendiri.

Kita memberi nama pada tanah, menggambar batas negara, membangun kota, lalu berkata: Ini milik kita.

Tetapi dalam skala waktu bumi, semua itu hanya keadaan sementara.

Dalam jutaan tahun, kota dapat hilang, jalan raya terkubur, garis pantai berpindah. Bahkan nama Indonesia mungkin suatu hari hanya menjadi jejak masa lalu.

Yang lebih tua daripada semua nama dan batas itu adalah bumi yang terus membentuk dirinya.
----

Kehidupan di Atas Planet yang Bergerak

Gerakan bumi juga merupakan bagian dari kisah kehidupan.

Kehidupan tidak berkembang di atas planet yang tetap. Benua berpindah, laut berubah, gunung muncul, pulau terpisah, dan iklim berubah. Makhluk hidup harus menyesuaikan diri.

Indonesia memperlihatkan proses itu dengan jelas. Laut dan pegunungan memisahkan wilayah kehidupan, sementara perubahan daratan dan iklim membuka sekaligus menutup jalan bagi berbagai spesies.

Gerakan bumi bukan hanya membentuk batu dan gunung. Ia ikut membentuk panggung tempat kehidupan berevolusi.

Dan manusia bukan penonton di luar panggung itu. Kita adalah bagian darinya.

----

Kita Hanya Penumpang

Kesadaran itu membawa kita pada kerendahan hati.

Manusia membangun kota, jalan, pelabuhan, bendungan, dan gedung-gedung tinggi. Kita menggambar batas wilayah dan merasa telah membuat bumi menjadi milik kita.

Padahal kehidupan manusia berlangsung di dalam sistem alam yang jauh lebih tua dan lebih besar daripada peradaban mana pun.

Kita datang, menetap, membangun, lalu pergi.

Bumi tidak ikut pergi. Ia tetap menjadi tempat berlangsungnya kehidupan, dengan aturan yang tidak kita buat dan tidak dapat kita hentikan.
----

Indonesia yang Berubah

Jutaan tahun dari sekarang, dunia yang terbentuk dari proses-proses ini mungkin terasa asing bagi kita.

Baca juga: Presiden Prabowo: Koperasi Merah Putih Jadi Jalur Distribusi Barang Subsidi

Indonesia yang kita kenal mungkin telah berubah bentuk.

Sumatra tidak lagi persis berada di tempatnya sekarang. Jawa akan mengalami perubahan. Laut-laut di antara pulau-pulau dapat berubah. Pegunungan baru mungkin muncul, sementara pegunungan lama perlahan terkikis.

Australia akan terus bergerak ke utara. Asia akan terus menerima tekanan.

Dan kehidupan—jika masih ada—akan menemukan cara untuk tinggal di dunia yang baru itu.

Mungkin tidak ada lagi manusia.

Mungkin ada bentuk kehidupan lain yang memandang bumi dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan.

Mungkin mereka berdiri di atas tanah yang dahulu merupakan dasar laut.

Mungkin mereka bahkan tidak pernah tahu bahwa di tempat itu pernah ada sebuah kepulauan bernama Indonesia.

Namun bumi akan tetap menjadi bumi: berubah, membentuk, meruntuhkan, lalu membentuk kembali.
----

Kalimat yang Belum Selesai

Maka ketika kita melihat Indonesia di peta, kita sebenarnya sedang melihat sebuah foto.

Bukan gambaran tentang bumi yang sudah selesai, melainkan satu keadaan sementara dari planet yang terus berubah.

Yang penting bukan hanya ke mana pulau-pulau itu kelak bergerak, melainkan bagaimana kita memahami tempat kita di dalam proses tersebut.

Kita hidup terlalu singkat untuk menyaksikan perubahan dalam skala jutaan tahun. Tetapi kesadaran tentang waktu bumi dapat mengubah cara kita memandang kehidupan hari ini.

Tanah tempat kita berpijak bukan benda mati.

Bencana bukan semata-mata kejadian yang datang dari luar; sebagian merupakan konsekuensi dari dinamika planet yang sekaligus memberi kita gunung, tanah subur, sungai, laut, dan tempat untuk hidup.

Karena itu, kita perlu membangun tanpa kesombongan, menetap tanpa lupa bahwa alam memiliki kekuatannya sendiri, dan menggunakan pengetahuan untuk mengurangi risiko yang dapat kita cegah.

Sebab bumi belum selesai. Indonesia belum selesai. Kita pun belum selesai.

Yang kita sebut tanah air bukanlah sesuatu yang membeku dalam satu bentuk untuk selamanya.

Ia adalah bagian dari planet yang terus menjadi.

Dan di atas bumi yang terus berubah itulah, untuk sementara, kita menjalani hidup.

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru