Oleh Ken Bimo Sultoni
CEO Sygma Research and Consulting, Dosen Ilmu Politik Fisip Universitas Negeri Surabaya
Baca juga: Perkuat Link and Match, UNESA Libatkan DPRD, Media dan SMSI dalam Perkuat Kurikulum
Ketintang, Kota Surabaya, JatimUPdate.id - Ada orang yang membaca sejarah untuk mengetahui masa lalu. Ada pula yang membaca sejarah untuk mencari jalan bagi masa depan.
Airlangga Pribadi Kusman adalah bagian dari kelompok para pencari jalan itu.
Hari ini, 9 September 2026, dunia intelektual Indonesia kehilangan salah satu pemikir politiknya. Sang penjaga api Bung Karno itu telah berpulang.
Bagi banyak orang, Airlangga atau yang akrab kami panggil Mas Angga sebagai akademisi Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga, peneliti, penulis, dan intelektual publik.
Tapi bagi kami di Sygma Research & Consulting, beliau lebih dari itu. Beliau adalah bagian dari keluarga intelektual Sygma, Intelektual yang ikut menumbuhkan tradisi riset, pemikiran kritis, dan keberanian untuk membaca politik Indonesia secara lebih mendalam dan humanis.
Mas Angga memiliki hubungan intelektual yang khas dengan pemikiran Bung Karno.
Ia tidak memperlakukan Sang penyambung lidah rakyat itu hanya sebagai sekadar tokoh sejarah yang harus dikenang melalui pidato, foto, atau seremoni.
Ia membaca Bung Karno sebagai sebuah tradisi pemikiran tentang wajah kemanusiaan Indonesia, wajah kebangsaan, wajah demokrasi, wajah Marhaenisme, hingga wajah cita-cita Indonesia itu sendiri.
Di tangan mas Angga, pemikiran Bung Karno tidak dibiarkan menjadi fosil sejarah.
Ia berusaha membuatnya hidup kembali dan berbicara kepada zaman. Itulah sebabnya kami menyebutnya penjaga api. Bukan penjaga abu.
Karena menjaga api berarti menjaga agar gagasan itu tetap hidup, diperdebatkan, diuji, bahkan dikritik. Api pemikiran Bung Karno tidak dimaksudkan untuk membakar orang lain, tetapi untuk menerangi jalan bangsa ini ketika arah perjalanannya mulai kehilangan arah.
Mas Angga juga memahami bahwa demokrasi tidak cukup hanya dengan pemilu. Demokrasi membutuhkan masyarakat sipil yang kuat, ruang kritik yang terbuka, supremasi sipil, keadilan sosial, serta keberanian intelektual untuk mempertanyakan kekuasaan.
Dalam berbagai kesempatan, ia sering menunjukkan kegelisahannya terhadap arah demokrasi Indonesia. Bagaimana memastikan demokrasi dan supremasi sipil tetap menjadi fondasi kehidupan bernegara.
Pemikiran semacam itulah yang kami rasakan dalam sosok mas Angga. Ia adalah intelektual yang tidak kehilangan keberanian untuk mempertanyakan kekuasaan, bahkan ketika pertanyaan tersebut tidak selalu nyaman untuk didengar.
Sygma Research merasa kehilangan bukan hanya seorang peneliti, tetapi seorang mentor dalam perjalanan intelektual. Kehadiran beliau di Sygma menjadi bagian dari upaya kami membangun lembaga riset yang tidak hanya bekerja dengan data, tetapi juga dengan gagasan, keberanian moral, dan tanggung jawab kepada publik.
Baca juga: Penjaga Pohon Pisang Itu Telah Pergi
Sebab riset politik pada akhirnya bukan sekadar tentang angka.
Di balik angka ada manusia.
Di balik kebijakan ada kehidupan.
Di balik kekuasaan ada kepentingan.
Dan di balik demokrasi ada cita-cita tentang masyarakat yang lebih adil.
Mas Angga mengajarkan bahwa seorang intelektual tidak boleh terlalu nyaman berada di luar persoalan. Ia harus bersedia masuk ke dalam perdebatan, mempertanyakan kemapanan, dan bahkan ketika diperlukan ia harus berani berbicara lantang kepada kekuasaan.
Mungkin karena itulah kehilangan ini terasa begitu dalam.
Di tengah Indonesia yang semakin ramai oleh suara, kita justru kehilangan salah satu orang yang sungguh-sungguh berpikir sebelum bersuara.
Di tengah politik yang semakin pragmatis, kita kehilangan seseorang yang masih percaya bahwa politik seharusnya memiliki gagasan.
Dan di tengah generasi yang semakin mudah melupakan sejarah, kita kehilangan seseorang yang terus berusaha menghidupkan kembali percakapan tentang Bung Karno dan cita-cita sosial yang melatarbelakangi lahirnya republik ini.
Api itu kini kehilangan penjaganya. Tetapi api itu tidak boleh padam bersama penjaganya.
Baca juga: Obituari Jürgen Habermas: (Jika) Proyek Modernitas Belum Selesai
Ia harus berpindah tangan.
Ia harus diteruskan oleh mahasiswa yang pernah diajarinya. Oleh peneliti yang pernah berdiskusi dengannya. Oleh kolega yang pernah bekerja bersamanya. Oleh generasi muda yang membaca buku dan pemikirannya. Dan oleh mereka yang percaya bahwa intelektual harus tetap memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang keliru dalam kehidupan berbangsa.
Bagi kami, salah satu cara terbaik mengenang mas Angga adalah melanjutkan percakapan yang pernah ia mulai.
Tentang demokrasi.
Tentang kekuasaan.
Tentang masyarakat sipil.
Tentang keadilan sosial.
Tentang Bung Karno.
Dan terutama tentang Indonesia yang belum selesai.
Karena mungkin begitulah seorang pemikir seharusnya dikenang. Bukan melalui kesunyian setelah kepergiannya, tetapi melalui pertanyaan-pertanyaan yang terus hidup setelah ia tiada.
Selamat jalan, Mas Airlangga.
Sang penjaga api telah berpulang.
Namun api pemikiran yang dijaganya tidak boleh padam.
Rest in power, Mas Angga.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah, mengampuni segala khilaf, dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.
Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan.
Sygma Research & Consulting
“Gagasan dapat kehilangan tubuhnya, tetapi tidak harus kehilangan jiwanya.”
Editor : Yuris. T. Hidayat